Pergolakan Nuhudlul Ulama’ vs Nahdhatul Ulama’.
Ada dua ulama Muassis NU yang dalam awal
pembentukan nama organisasi ini memiliki pandangan dan merekomendasikan nama
jam'iyah ulama. Lalu siapa saja ulama itu? Pertama KH. Abdul Hamid Sedayu
Gresik, mengusulkan nama “Nuhudlul
Ulama” (kebangkitan ulama) disertai penjelasan bahwa, para ulama
mulai bersiap-siap akan bangkit melalui pewadahan organisasi formal tersebut.
Nama usulan ini, disanggah oleh KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurut KH. Mas
Alwi, kebangkitan ulama bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan,
kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh
sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya
saja, kata KH. Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang
belum terorganisasi secara rapi.
Atas dasar itu, KH. Mas Alwi lantas mengajukan usul
agar jam’iyyah ulama itu diberi nama "Nahdlatul
Ulama" (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih
condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan
bersama-sama yang terorganisasi”. Karena saat itu, menurut KH. Mas Alwi para
ulama telah bangkit bukan bersiap – siap akan bangkit. Kemudian KH. Mas Alwi
menambahkan, kalau hanya di namakan jamiiyah ulama saja, belum dapat
membangktkan ghirrah ulama, karena masih banyak ulama yang masih tersibukkan
dengan megurusi ulama dan santrinya saja.
Dan akhirnya disepakatilah dalam forum ulama tersebut
dan juga mendapat restu oleh Rais Akbar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.
Kemudian, KH. Hasyim Asy'ari dalam tulisannya yang dimuat dalam Swara
Nahdlatoel Oelama mengartikan kata "Nahdlhah" berarti
bergerak menuju kemaslahatan, yang terus menerus tanpa berkesudahan.
Tentang penyebutan organisasi bernama “Nahdlatul Ulama”, KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki pendapat dimana dalam sejumlah kesempatan
ia mengatakan bahwa kata Nahdhah diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad
ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab tasawuf yang fenomenal dikalangan
Nahdliyin yakni Kitab al-Hikam yang sring dikaji dikalangan pesantren itu. Akar
kata “Nahdlat" ini termuat dalam
salah satu aforismenya yang berbunyi:
“Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ
yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang
yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah)”.
Dalam akar kata tersebut menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering
mengutip ungkapan itu. Kata 'yunhidlu',
artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah
jalan Allah.
Siapakah KH.
Mas Alwi Abdul Aziz?
KH. Mas Alwi abdul Aziz Al-Azmatkhan adalah termasuk seorang yang
masih memiliki garis keturunan Sunan Ampel. Ia pernah nyantri di Demangan
Bangkalan semasa dengan KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah. Setelah
nyantri ke Syaikhona Kholil, beliau melanjutkan rihlah ilmiyahnya ke berbagai
pondok pesantren, diantaranya di Siwalan Panji Sidoarjo dan hingga ke Mekkah.
KH. Mas Alwi selain aktif di Madrasah Nahdhatul Wathon, juga
sebagai pedagang yang berjualan di jalan sasak Ampel Surabaya. Ia membuka
warung setelah perjalanannya mencari tahu dan meyelidiki terkait isu yang
beredar di masanya tentang pembaharuan Islam, yang kala itu sempat digaungkan
oleh sepupunya KH. Mas Mansur yang kemudian dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah.
KH. Mas Alwi bahkan rela keliling Eropa dengan cara menjadi pelayar dan bekerja
di pelayaran yang saat itu konotasi di pelayaran adalah memiliki stigma yang negatif
dalam pandangan masyarakat dan terkesan memalukan keluarga, sehingga KH. Mas
Alwi yang memiliki jalur keturunan hingga ke Sunan Ampel, dikeluarkan dari
silsilah keluarga yang terhormat tersebut. Dari itulah KH. Mas Alwi dikeluarkan
dan diusir dari rumah. Setibanya di Eropa, KH. Mas Alwi menikahi wanita Belanda
yang sebelumnya sempat ia Islamkan, dan berkat itulah KH. Mas Alwi berhasil
masuk ke tempat – tempat perpustakaan di Belanda yang dibantu oleh wanita yang
dinikahinya dan menemukan fakta terkait dengan penyelidikan tentang pembahruan
Islam yang sesungguhnya. Bahwa hal itu adalah sebuah propaganda Eropa yang akan
memecah belah Islam.
Awan Albunny adalah Santri Tebuireng, Mutakharrijin Madrasah Mu'allimin Hasyim Asy'ari Tebuireng


