Sabtu, 19 Februari 2022

Fungsikan Masjid Sebagai Gerakan Sosial

Ari Setiawan
Masjid adalah rumah ibadah bagi umat muslim. Sebagai pusat kegiatan keagamaan yang paling strategis baik dalam keilmuan, spiritual, sosial maupun kadang banyak juga yang menggunakan sebagai strategi politik. Masjid bisa menjadi multifungsi kalau sebagian muslim mampu melihatnya sebagai basis sosial kemasyarakatan. Tidak hanya tentang religiusitas melainkan juga pada apa aspek realitas.

Seperti dalam pandangan historynya bahwa masjid pada za
man Rasulullah ialah pusat peradaban dan kegiatan umat islam, baik yang bersifat ibadah mahdhoh, maupun ibadah mu'amalah. Suatu ketika kanjeng Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah yang dibangun pertama bukanlah Istana yang megah. Melainkan masjid dengan kapasitas umat kala itu. Istana adalah sebuah lambang dari birokrasi yang mengurus masalah - masalah terkait kemasyarakatan yang kemudian disandarkan atas dasar kekuasaan duniawi dari penguasa. Sedangkan masjid adalah lambang organisasi sosial yang bersandarkan kepada Allah SWT dan kekuasaan-Nya. Dari sini, kalau kita menganalisis dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan isyarat agar umat dapat mengelompokkan diri dalam sebuah persekutuan sosial yang memiliki dasarnya mengadopsi kepada kekuasaan Allah atas manusia. Sebut saja masjid Nabawi. Masjid ini adalah pusat peradaban, peribadatan, pemerintahan dan lain sebagainya. Kompleksitas masjid pada fungsi kegunaanya kala itu. Sederhana katanya, masjid adalah pusat kegiatan serba guna.

Masjid sekarang tak ubahnya seperti halnya halte bus, atau terminal. Kog bisa? Iya. Sebab orang ke halte atau terminal hanya telah menganggap dirinya selesai setelah tujuannya juga selesai. Misalnya kita, kalau masuk masjid ambil wudhu, kemudian sholat sesuai waktunya, kemudian duduk sebentar sambil membaca wirid (walaupun banyak yang lamcing, salam langsung plencing keluar) tanpa pernah berbicara, apalagi mengenal orang disamping kita saat shalat. Dan itu rata terjadi di hampir seluruh masjid ditempat kita berada. Apalagi dikota - kota, ataupun di deket jalan raya. Hanya sebagai tempat persinggahan "ngisi absen" menggugurkan kewajiban atau hanya sebagai rest area. Ada juga yang hanya ke masjid tapi tujuannya bukanlah shalat, tapi adalah toilet.

Populasi umat muslim di dunia paling tertinggi adalah negara Indonesia. Hal ini menurut data yang disampaikan oleh Data World Population Review pada tahun 2020. Sehingga populasi muslim yang terjadi mencapai 229 juta jiwa atau bisa dikatakan sekitar 87,2 persen dari jumlah total penduduk 273,5 juta jiwa. Angka yang fantastis besar dan tak menutup kemungkinan dengan jumlah sebesar itu, rumah ibadah muslim yakni juga tinggi angka jumlahnya.

Menurut pusat informasi Masjid Kementerian Agama, atau yang biasa si sebut (SIMAS) Sistem Informasi Masjid, data pada tahun 2020 terdapat masjid dan mushola yang ada di Indonesia yang tercatat seluruhnya ialah 741.991. Data ini tercatat secara manual yang bersumber dari Kementerian Agama yang diperoleh secara berjenjang yang dilakukan dan didapatkan oleh dan dari Kantor Urusan Agama (KUA) pada tiap daerah. Masjid dan mushola yang tercatat oleh Kemenag juga yang terdapat ruang lingkupnya di SPBU. Sehingga tidak membedakan rumah ibadah ditempat yang besar maupun kecil.

Koentjowijoyo dalam pandangannya di buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, mengatakan bahwa Dewan Masjid Indonesia (DMI) belum memiliki keterkaitan fungsi yang jelas dengan organisasi - organisasi Islam yang lainnya. Sehingga dalam pandangannya, Koentowijoyo mengatakan bahwa organisasi Islam masih pada fokus ke hal vertikal. Orientasinya masih ke atas atau belum berfokus pada saluran yang mengarah ke bawah. Sehingga belum kuat kekuatannya untuk menarik orang per orang atau masih dalam ter kotak - kotak menurut organisasi yang ia ikuti.

Dalam pandangan ini, perlu adanya gagasan bahwa pentingnya membina wilayah masing - masing, dalam hal ini objeknya adalah jamaah. Menumbuhkan solidaritas dari berbagai latar belakang dan membina umat dengan hal - hal yang kongkret. Yakni solidaritas yang tidak mengedepankan egosentris organisasi. Sehingga solidaritasnya tidak hanya terfokus pada masalah solidaritas polity melainkan adalah solidaritas kemaslahatan bersama. Solidaritas yang dimaksud adalah solidaritas sosial dan solidaritas ekonomis diakar bawah yang kuat.

Perihal masjid sebagai basis gerakan sosial, tentu dapat menghilangkan sekat - sekat yang tidak perlu terjadi. Karena perbedaan adalah hal yang fitrah menjadikan kekuatan. Dan yang kita temukan di masyarakat seringkali adalah sudah membagi dikelasnya masing - masing. Terjadi sekat strata sosial antara miskin, kaya, pengusaha, petani, pegawai, hingga status sosial religiusitasnya tinggi dan rendah (abangan). Hal ini harus dihilangkan, agar solidaritas sosial bisa berjalan tanpa adanya tendensi yang macam-macam. Disini hanya ada satu status sosial yang sama, yakni jamaah masjid.

Kalau sudah hal itu terbangun, tentu masjid akan memiliki kekuatan yang besar dalam rangka menggerakan basis sosial yang ada dilingkungan masyarakat. Sehingga masyarakat yang secara ekonomi belum tersejahterakan, dengan melalui basis sosial masjid ini, sama - sama saling menopang agar tidak terjadi kemiskinan yang keberlanjutan. Kalau hal ini dapat terbangun, tentu sangat baik sekali. Terkait dengan dana yang dimiliki tak perlu susah payah mencari. Karena kekuatan sosial sudah kuat, maka para donatur akan datang dengan sendirinya.

Seperti yang diketahui salah satu masjid yang menjadi percontohan di Indonesia atas kemandirian dan basis gerakan sosialnya adalah Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Masjid yang berada ditengah kampung ini telah menjadi sorotan dunia karena manajemen masjid yang sangat tertata, dan mampu menggerakkan masyarakatnya tidak hanya aktif dalam soal peribadatan secara umum. Melainkan juga menjadi basis sosial dan ekonomi serta menghadirkan masjid sebagai solusi. Hal lain yang menjadi daya tarik pada masjid ini adalah karena gerakan sosial yang menjadi basis masjid ini. Bahkan saldo selalu 0 rupiah. Dan hal itu menjadi prinsip. Sebab ketika saldo selalu 0 karena telah di tasyarufkan kepada yang berhak dan untuk kegiatan yang maslahah, menandakan produktifitas kegiatan dimasjid tersebut. Dan juga menjadi motivasi bagi donatur agar selalu menginfaq, zakat dan sedekahkah melalui masjid ini.

Inilah yang menjadi pokok dari gerakan sosial berbasis masjid. Dimana kemaslahatan masyarakat akan selalu diutamakan, dan tidak memiliki sekat yang justru itu adalah sebagai kekuatan. Jika semua atau mayoritas masjid memiliki gerakan dan gagasan serta manajemen  sperti masjid Jogokaryan, tentu masjid lebih besar fungsinya tidak hanya sebagai pusat kegiatan keagamaan. Melainkan kegiatan berbasis sosial.


Rabu, 16 Februari 2022

Catatan Romli (Rombongan Lillahita’ala) Kongres IPNU XVIII Asrama Haji Donohudan Boyolali

 


Media Center Kongres IPNU

Tanggal 4-8 Desember 2015 adalah sebuah moment yang besar bagi salah satu Badan Otonom Nahdhatul Ulama yang mengurusi tentang pelajar. Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) serta Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mempunyai hajatan yang besar 3 tahunan. Acara yang di sebut Kongres ini adalah Forum tertinggi yang dimiliki IPNU dan IPPNU untuk memilih ketua baru untuk kepemimpinan 3 tahun kedepan.

Acara yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah ini adalah perhelatan akbar IPNU dan IPPNU pertama kali yang penulis bisa ikut menghadiri, walaupun toh tidak menyandang sebagai peserta dan memiliki hak pilih, sandangan yang familiar adalah Romli (Rombongan Lillahita’ala). Sebagai kader muda NU dan pernah di baiat menjadi anggota IPNU pada tahun 2005 kala menjadi siswa di salah satu MTs swasta di Lampung serta masih menyandang sebagai Pelajar NU, hati ini terpanggil untuk bisa hadir sebagai “pengembira” walaupun toh sebagai rombongan ilegal. 

Hari itu adalah tanggal 5 Desember 2015 pukul jam 19.10 malam dengan berbekal keterbatasan dan niat yang kuat untuk bisa turut andil, nekat berangkat seorang sendiri dengan berbekal apa adanya dari Kota santri Jombang dengan kendaraan bus sampai di terminal tirtonadi pukul 23.30. Perjalanan yang amat menjenuhkan, karena durasi waktu yang agak lama karena jarak juga lumayan jauh. Namun kejenuhan itu serasa hilang di hinggapi rasa kantuk hingga hampir sampai daerah Solo. Padahal dalam jadwal yang dirilis panitia pusat bahwa Pembukaan Kongres IPNU-IPPNU dilaksanakan pada 5 Desember pagi harinya. Walaupun tak bisa mengikuti acara pembukaan yang rencana dihadiri Presiden Jokowi yang akhirnya di “badali” oleh Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifudin. Tapi tak masalah absents dalam pembukaan karena hal demikian bagi saya hanya ceremonial saja. 

*********

Pukul 00.20 minggu dinihari saya bisa menginjak kaki untuk pertama kali dalam sejarah hidup saya di Arena Kongres Pelajar NU se-Nusantara yang dihelat di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah. Seperti biasanya dalam perhelatan akbar apapun, pasti terpasang banner-banner untuk memeriahkan dan menyemarakan acara tersebut. Tak lepas di Kongres IPNU-IPPNU kali ini. Puluhan banner dari masing – masing Pimpinan Cabang dan Pimpinan Wilayah serta Bakal Calon yang siap maju ke-IPNU 1 memenuhi sudut dan halaman kawasan asrama haji ini. Bak pemilu – pemilu yang lumrah kita lihat di sudut kota dan jalan. Ada yang mengucapkan selamat dan sukses dan ada juga yang mempromosikan dirinya untuk maju menjadi Ketum IPNU dan IPPNU dengan visi-misi yang bervariatif. Dari sini saya melihat dan menilai bahwa di arena Kongres inilah ada salah satu pelajaran tentang Demokrasi bagi seorang pelajar.

Seluruh Peserta dari berbagai penjuru Nusantara telah berdatangan sehari sebelumnya dan telah melakukan regristrasi. Hampir sebanyak 3000 peserta baik yang IPNU maupun yang IPPNU telah registrasi dan kesemuanya terpusat di asrama haji tersebut. Peserta yang ilegal pun tak kalah banyak hampir sekitar 2500 kader IPNU – IPPNU yang tidak melakukan registrasi (Rombongan Liar) memadati asrama haji di pinggiran kota Boyolali ini. Bayangkan, hampir 6000 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia memadati asrama haji ini, ksemuanya menjadi kader bagi NU dan kalau kesemuanya bisa memberikan kontribusi yang besar dan nyata bagi Bangsa Indonesia, sudah barang tentu Bangsa ini akan semakin besar dan maju.

Suasana di Kongres ini memang begitu semarak dan meriah. Malam sudah agak larut menunjukan pukul 01.00 dini hari, tetapi keramaian tak surut sekalipun setelah hujan deras mengguyur kawasan asrama haji. Banyak IPNU-IPPNU bercampur melakukan dialog dan diskusi ngobrol santai di kedai-kedai stand bazar yang di siapkan panitia. Tanpa ada sekat sama sekali, mungkin bagi pribadi saya hal ini dianggap tabu, karena perempuan dan laki-laki bercampur walaupun hanya sekedar ngobrol  adalah perbuatan yang jarang di jumpai di pesantren – pesantren pada umumnya.

Segala sesuatu yang ada di stand harganya pun melonjak jauh 2 hingga 3 kali lipat dari harga umumnya. Entah  barangkali ini kesempatan yang besar bagi penjual untuk meraup keuntungan sebesar – besarnya atau memang kejar setoran karena biaya sewa yang begitu mahal, satu stand selama perhelatan akbar pelajar NU tersebut memiliki harga hingga 2 juta rupiah.  

Dalam perjalanan saya keliling stand, saya ditemui oleh kakak kandung saya yang juga salah seorang kader IPNU dan pengurus wilayah IPNU Prov. Lampung yang kebetulan juga menjadi peserta dalam kongres IPNU di Boyolali ini. Saya akhirnya “numpang” di penginapan kafilah dari Lampung selama acara Kongres ini berlangsung.

Saya teringat omongan guru saya “Menjadi kader IPNU adalah menjadi Garda terdepan untuk menjadi benteng Ahlussunah wal jamaah, karena apa? Karena IPNU dapat masuk ke anak sekolah, hingga di desa - desa  katakanlah LP. Ma’arif mayoritas telah di isi oleh kader-kader IPNU. Di sekolah menengah pertama ini adalah pondasi awal agar siswa bisa mengenal Ahlussunah wal jamaah serta ajaran dan amaliyah NU.

******

Malam kedua bertepatan pada malam ahad, 6/12/2015 para peserta di agendakan melakukan sidang komisi yang dibagi menjadi empat komisi, yakni sidang komisi A (Peraturan Dasar / Peraturan Rumah Tangga ) Komisi B (Garis-Garis Besar Perjuangan) Komisi C (Prinsip Perjuangan) Komisi D (Rekomendasi). Dari beberapa sidang ini yang sangat alot dan penuh dengan hujan interupsi adalah komisi A yang membahas tentang Peraturan organisasi serta penentuan umur untuk Calon ketua. Dan sidang ini berakhir pada pukul 02.00 dinihari. Dan dilanjutkan esoknya dengan sidang pleno pengesahan hasil komisi.

Yang menarik dari Kongres ini adalah adanya isu krusial yang terjadi di tubuh IPNU akibat keputusan muktamar NU ke 33 yang dilaksanakan di Jombang. Yakni permasalahan umur untuk calon ketua umum yang awalnya berusia max 29 tahun di pangkas menjadi 27 tahun, dan hal ini merujuk pada keputusan hasil Muktamar NU pada sidang komisi organisasi.

Persoalan umur inilah yang memicu ketegangan oleh berbagai pimpinan cabang dan pimpinan wilayah. Ada yang yang menginginkan dan ingin mengawal keputusan Muktamar, ada juga yang tetap bersikukuh terhadap PD/PRT yang lama. Inilah yang memicu adanya ketegangan yang berujung saling lempar kursi antara kader satu dengan kader yang lainya sampai ada yang dirujuk dirumah sakit salah satu kader dari Jawa Timur.

Pada saat pengesahan hasil Sidang Komisi A yang menuai resistensi dari peserta Kongres, sidang pun lagi-lagi ditunda untuk yang kesekian kalinya dan juru Islah dari PBNU pun dihadirkan dalam forum. Dalam sambutannya Suwadi Pranoto Wakil Sekjen PBNU mengatakan bahwa jangan sampai terprovokasi oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab dan diharapkan untuk mematuhi hasil keputusan Muktamar NU di Jombang.

Dan salah satu kafilah yang paling bersikukuh untuk usia Caketum 27 serta mendukung keputusan Muktamar NU adalah Jawa Timur, bahkan Ketua PW IPNU Jawa Timur Rekan Haikal Atik mengatakan bahwa Jawa Timur  siap mengawal keputusan Muktamar Jombang.


Dalam tubuh NU berbeda pandangan adalah hal yang wajar, termasuk dengan cara PBNU “menertibkan” usia dalam IPNU. Tak jarang juga ada yang tidak sependapat dengan keputusan itu, termasuk Jawa Tengah dan luar Jawa menganggap ada sisi “politis” yang sekiranya “menyelinap” pada kongres IPNU kali ini. Kalau toh PBNU ingin menertibkan batasan usia dalam Banom-banomnya serta untuk memperbaiki kaderisasi, kenapa Fatayat ketua umumnya tidak di tertibkan? fatayat batasan dalam AD/ARTnya adalah 40 tahun, namun nyatanya usianya
lebih dari itu” itulah kutipan curhatan dari Rekan Ahmad Naufal Ketua Panitia Kongres IPNU ke XVIII di Boyolali dalam blog pribadinya.

Dan yang menarik lagi dari Kongres IPNU ke XVIII di Boyolali ini adalah di syahkannya kepengurusan PKPT (Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi) baik – IPNU maupun IPPNU di bawah naungan Pimpinan Cabang. Dalam hal ini seolah- olah hemat penulis kehadiran IPNU di perguruan tinggi mungkin agak sedikit “berbenturan” dengan keberadaan PMII yang dalam Muktamar Jombang kembali masuk dalam jajaran Badan Otonom. Perlu ada kejelasan untuk itu, sehingga tidak adanya “berebut” kader.

Rombongan Lillahta'ala Kongres IPNU Boyolali

Kongres IPNU Boyolali ini adalah Kongres kali Pertama bagi penulis ikut terlibat dalam suasana kongres yang serba kebersamaan, kekeluargaan, ketegangan dan penuh semangat untuk menjadikan IPNU sebagai sarana berkhidmah kepada NU di tingkat pelajar, walaupun dalam kategori buka peserta murni melainkan seorang “Romli” (Rombongan Lillahita’ala), semata-mata ini hanya cinta terhadap Nahdlatul Ulama.


Selasa, 15 Februari 2022

Mendalami Karakter Luhur Hadratussyaikh Kh. Hasyim Asy'ari #2




Asrama santri dahulu modelnya seperti apa kyai? Apakah dalam satu daerah jadi satu atau bagaimana?

Kegiatanya hanya di NU, kalau tidak ada urusan di NU beliau enggak pernah keluar, kalau tidak ada kepentingan yang sangat ya tidak pergi dan kalau ada urusan penting biasanya yang di utus pak wahid

Sewaktu ngaji hadist dari bulan rajab, sya’ban, dan ramadhan ini kan di ahdiri kiai – kiai se Indonesia, bahasa apa yang di gunakan Mbah hasyim untuk menyampaikan pengajiannya?

Mbah Hasyim ketika menyampaikan pengajiannya selalu menggunakan bahasa jawa, enggak pernah menggunakan bahasa arab. Santri yang dari luar jawa mestinya ada yang paham dan ada yang tidak, tetapi lama kelamaan pasti akan paham dengan sendirinya. Dari santri yang sekitar 1500 ini yang 1000 biasanya liburan, karena pada saat ngaji hadist ini pondok sudah liburan. Jadi yang mengikuti pengajian hadist Mbah Hasym rata – rata sudah pada sepuh-sepuh kiai dari luar. Saya ya di kersane Gusti Allah kok seneng ikut nimbrung ngaji bareng kiyai – kiyai, saya kalau pulang biasanya ya setelah tanggal 25 Ramadhan bareng dengan Kiai – kiai yang ngaji sama Mbah Hasyim. Tanggal 15 sya’ban itu ujian hari terakhir kemudian madrasahnya libur sampai dengan syawal tanggal 15. Dan itu rata – rata santri – santri pada pulang. Ya seperti biasa, ketika waktunya masuk banyak juga yang molor masuknya sampai bulan dzulqo’dah padahal seharusnya masuk pada pertengahan syawal. Saya tidak tau kenapa kok pada molor.

Santri – santri dulu apakah pernah buat masalah dengan masyarakat sekitar?

Santri – santri dulu malah tidak ada yang kenal dengan masyarakat sekitar pondok, santri kalau makan di dalam pondok, karena di pondok juga ada warungnya. Ada yang menggunakan sistim langganan , ada juga yang memasak sendiri. Justru dulu masyarakat diluar pondok itu malah jadi musuhnya santri – santri. Denger- denger berita memang masyarakat luar pondok itu memang di manfaatkan oleh Belanda agar pondok dan masyarakat sekitar selalu “kerengan” berseteru. Pernah suatu saat itu ada maling masuk kedalam pondok, oleh santri – santri di hajar massa sampai – sampai maling tersebut meninggal. Nah.. kemudian di manfaatkan oleh belanda agar supaya bagaimana Mbah Hasyim ini bisa terjerat hukum, tapi kemudian tidak bisa menjerat mbah hasyim.  Ada juga dari luar, berjualan tongseng yang dipikul masuk kedalam pondok dan jualanya itu laris, walaupun senajan dagangannya laris, tapi saya enggak pernah beli, asalnya itu ya uang saku saya ya enggak begitu banyak, jadi kalau buat di belikan tongseng terus ya habis. Lah terus setelah itu terdengar kabar enggak tau dari mana asalnya tongsengnya itu ternyata daging yang di gunakan itu daging babikemudian di cek sama pengurus pondok kebenaranya itu, dan ternyata benar adanya kemudian oleh pengurus pedagang tersebut di larang untuk berjualan lagi di dalam pondok. Yang marah bukan malah pedagang tongseng malah orang – orang desa lah itulah salah satu cara belanda mengadu domba orang-orang desa dengan pesantren. Karena merasa kesulitan untuk menangkap Mbah Hasyim maka belanda melakukan cara adu domba seperti itu. Akhirnya ya jadi pertarungan beneran itu. Karena Mbah Hasyim punya Kiai Idris dan santri dari Cirebon akhirnya belanda kalang kabut. Saya mengatakan demikian karena saya juga ikut dalam pertempuran itu. Ya ikut megang pedang kayak gitu, tapi saya memilih di belakang, ya hanya sambil nonton. Karena tidak sampai kebelakang sana sudah bubar duluan.

Mbah Hasyim sama masyarakat sekita apa ya berseteru seperti itu?

Itu kan hanya sebagian kecil saja masyarakat yang tidak suka. Dan yang nakal itu hanya sebagian kecil masak ya semua masyarakat nakal semua yak an enggak. Yang jadi maling ya langka di desa sana itu. Cuma masyarakat yang mau di suruh untuk meprovokasi yang mau mengadu domba dan di beri upah itu kan ya langka. Satu desa itu ya juga di tirakati Puasa sama Mbah Hasyim, dan rombongan yang mau berseteru sebenarnya itu ya orang – orang yang nekat. Yang di puasain sama Mbah hasyim itu ya enggak bisa ngapa-ngapain. Yang enggak suka sama santri ya rombonganna orang – orang nekat itu. Kalau orang – orang yang mukmin ya enggak megikuti hal – hal seperti itu.

Bagaimana Sikap Mbah Hasyim Terhadap non Muslim ?

Sikap Mbah Hasyim ya biasa – biasa saja, enggak pernah yang bermusuhan ataupun melayani musuh itu tidak pernah, ketika di jaraki, di kasari ya biarin saja, nanti juga capek – capek sendiri, bilang gitu, mbah hasyim itu tidak pernah marah. Dan itu saja ketika melayani orang – orang kampung yang menjaraki itu kehendaknya Kiai Idris. Mbah hasyim tidak tahu. La orang kampung yang di bekingi belanda itu nantang terus dan menginginkan Mbah Hasyim yang enggak terima ya mantunya itu Kiai Idris. Udah, gak usah pamit – pamit, layani aja orang – orang itu, kiai idris bilang begitu. Sebab kalau pamit ke Mbah Hasyim mesti tidak bakal di izinkan

Cita – cita apa yang di perjuangkan oleh Mbah Hasyim?

Yang terutama itu NU, di ikat persatuanya itu melalui NU. Tujuannya itu untuk mengurus faham Ahlussunah Wal Jama’ah terutama di Amar ma’ruf Nahi munkar. Makanya itu beliau mengarang dan menyusun Qanun Asasi Jam’iyyah Nahdhatul Ulama’, hadistnya kurang lebih 40 dan al-qurannya sekiatr 40. Dengan demikian berarti kan yang diperjuangkan dahulu adalah NU pada tahun 1926 lah baru kemudian melalui NU ini Mbah Hasyim mengajak para kiai – kiai untuk merebut dan memperjuangkan kemerdekaan. Sebab Islam tidak bakal akan jaya, liyudhhirohu ‘ala dini kullihi “ketika bangsa tidak merdeka. Dan kiai – kiai se Indonesia itu di ajak untuk memohon kepada Allah untuk diberikan  kemerdekaan. Meminta kepada Allah dengan melalui Istighosah. Karena kita hanya mampu untuk meminta kepada Allah, yang khusu’ dan yang kuat anggonmu do’a minta kepada Allah Hasbunallah wa ni’mal waqil, ni’mal maula wa nikman nashir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, begitu kata mbah hasyim. Tapi yang selalu menggebu – gebu itu yang muda – muda.

Kalau nyantri dulu itu di batasi umur apa tidak kiai?

Enggak di batasi umur, dan juga enggak terlalu banyak aturan. Ada yang pulang sampai setahun ya di biarkan. Ada yang masuk ya di terima, ada yang mau pulang ya di silahkan jadi bebas. Dulu saya masuk di Tebuireng tahun 1938 itu umur saya sekitar 17 tahun. Jadi satu kelas umurnya macam- macam, bahkan ada yang sudah kakek-kakek soalnya di Tebuireng dulu ngaji ya tidak memperhatikan umur. Ada orang Bawean namanya Anis saking kepinginya ngaji kepingin sekolah di Tebuireng, took yang menjadi usahanya di rumahnya di bawa ke sebelah pondok beserta keluarga dan anak – anaknya umurnya orang ini sekitar 50 tahunan masuknya di kelas 1 ibtidaiyyah, ya mulai dari kelas bawah. Ada yang lebih muda lagi di bawah saya, Pak ud, Gus Yusuf Hasyim itu lebih muda dari pada saya dan juga satu kelas sama saya. Jadi tidak menggunakan batasan umur.

Mbah Hasyim itu kan tipe pemimpin yang di segani, Rahasianya apa ya kiai?

Ya itu, Beliau tidak gampang marah, Beliau kalau di marahin seseorang tapi beliau sendiri tidak marah, kan malah buat bingung yang marah. Kalau menurut saya, beliau memang benar – benar memahami Ahlussunah Wal jam’ah jadi kalau disuruh sendiri, pasti tidak akan mau inginnya harus selalu bersama- sama.

Bagaimana sikap Mbah hasyim menanggapi tentang Pemimpin non muslim?

Itu kan sudah jelas di Al – Qur’an Wala Tasyubbulladzina yad’una min dunillah, jangan terlalu kasar terhadap orang – orang yang tidak menyembah kepada Allah, nanti sana memaki – maki ke Allah, malah  nanti Tuhannya kita di maki – maki. Ya udah Santai saja gak usah keras – keras, di musuhi ya enggak kaget, tenang, ikhtiyarnya ya Al-Qur’an lah, tawakalnya tinggi sekali. Kalau sudah demikian ya Hasbunallah wa nikmal wakil, mau diapakan saja ya silahkan yang penting saya masih tetap menghidupkan agamanya Allah, gitu prinsipnya Mbah Hasyim. Jadi beliau sangat besarnya kepasrahan kepada Allah.

Mungkin ada pesan untuk santri – santri Mbah Hasyim era sekarang khususnya di Tebuireng umumnya seluruh santri calon penerus ulama?

 Pesan saya, seperti apa yang telah di pesankan oleh Mbah Hasyim yang  telah tertulis di Ijazah saya waktu nyantri di sana, dan pesan untuk seluruh santri beliau Nushihi bitaqwallah wa Irsyadil ‘Ibad Ma Fihi Sa’adatuhum Fi Dunya Wal Akhiroh, sampean semua saya ingatkan, Takutlah kepada Allah dan Bertawakallah seterusnya Tugasmu yakni memberikan petunjuk, mengajari setiap orang, sehingga bisa menjadi orang yang beruntung dunia dan Akhirat.

Biasanya yang mendapat pesan seperti ini hanya yang telah menyelesaikan pendidikan sekolahnya, kalau yang hanya satu tahun, dua tahun ya enggak. Paling pesennya “ojo kuat-kuat sing Njajan, kasian Orang Tuamu”.  Yang membuat Mbah Hasyim tau santri – santri pada seneng Njajan yakni keluhan dari santri yang sering membuang sampahnya itu, matur ke Mbah Hasyim, “ini kulitnya durian banyak sekali mbah” beberapa pikul, terus kemudian santri di kumpulkan.

Di transkip dan wawancara oleh Ari Setiawan 27 Januari 2017

Pentingkah Bahtsul Masail?

           Bahtsul Masail  (BM) adalah sebuah tradisi intelektual di kalangan pesantren maupun di kalangan NU, salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. BM adalah salah satu dari beberapa metode penggalian dan pengambilan hukum (istinbath) untuk memecahkan beberapa masalah baik berupa Waqi’iyah maupun Maudhui’yyah.

            Fikih adalah salah satu cabang keilmuan yang selalu ditantang dan disibukan dengan persoalan-persoalan yang rumit dan problem yang selalu berkembang. Karena faktor tempat dan waktu juga mempengaruhi produk penggalian hukum ini. Permasalah-permasalahan baru selalu bermunculan, dan jelas permasalah ini harus terselesaikan dan terjawab oleh fikih. Produk hukum Fikih tak jarang sering berubah-ubah kadar hukumnya sesuai arus zaman yang ada.Walaupun pada esensinya kitab-kitab kuning terkhusus pada varian fikih ini tak akan pernah sirna digerus  oleh zaman.

            BM sebagai salah satu metode penggalian hukum yang dimiliki oleh Pesantren yang diayomi oleh Organisasi Kemasyarakatan NU, walaupun ada juga tradisi intelektual yang mirip dimiliki oleh ormas lain, sebut saja Muhammadiyah memiliki tradisi penggalian hukum dengan nama Majelis Tarjih Muhammadiyah. Bisa disebut serupa tapi tak sama. Keduanya sama-sama memiliki kesamaan dalam memecahkan permasalahan di masyarakat, hanya saja caranya yang berbeda.

BM seringkali menjadi rujukan serta pertimbangan  hukum ketika permasalahan-permasalahan kontemporer muncul, sehingga mau tidak mau literatur yang dipakai sebagai hujjah (landasan) harus mengikuti dan terkesan memaksakan hukum yang berseberangan dengan realitas yang ada di tengah masyarakat. Contoh saja tentang bunga bank, yang jelas banyak kumpulan fatwa-fatwa dan hujjah yang terdapat dalam buku kumpulan BM jelas mengharamkan transaksi seperti ini, namun yang terjadi di masyarakat bahwa masih saja banyak yang menggunakan jasa Bank konvensional untuk menabung dan melakukan transaksi Muamalah. Hal ini apakah tidak sama halnya produk hukum BM tidak laku?

            Contoh lain lagi misalnya yang pernah dibahas pada forum BM ini, tentang hukum penggunaan Facebook, Twitter, dan jejaring sosial media lainya terkait keharaman bagi laki-laki maupun perempuan berkomunikasi dan menampilkan aurat dalam dunia maya dan lain sebagainya. Dengan adanya fatwa tersebut, mayoritas masyarakat kita acuh tak acuh dan tak mempengaruhi meminimalisir kegiatan tersebut. Kalaupun ada pengaruhnya itupun kecil. Karena banyak di antara mereka berpikiran bahwa fatwa tersebut mambatasi eksistensi dan hak asasi. Tentu hal ini perlu disikapi oleh para aktifis BM agar produk hukum yang susah payah di buat tidak hanya “menumpuk” dalam lembaran-lembaran kertas maupun buku.

            Peran BM ini, seakan-akan mulai dipertanyakan tentang hasil produknya. Banyak masalah-masalah yang terpecah di forum ini, namun tidak dimasyarakatkan hasilnya, hanya kalangan-kalangan tertentu yang menikmati produk hukum ini. Sebut saja pesantren dan Badan-badan otonom NU, padahal masyarakat luas sangat membutuhkan rujukan atau fatwa hukum terkait problem-problem kontemporer yang terus bermunculan.

            Sudah saatnya peran BM bukan hanya gemar berdiskusi dan mengkaji status hukum di dalam forum, namun sosialisasi Produk hukum yang dihasilkan ke semua lapisan masyarakat seharusnya terus digerakkan dan selalu di galakkan. Hal ini agar masyarakat merasakan kontribusi dari BM ini. Bahstsul Masail sangat dibutuhkan bahkan di anggap penting untuk menjadi salah satu metode menggali status hukum, dan bukan satu-satunya cara. Tentu kalau hanya menggali hukum saja tanpa ada sebuah reaksi dan sosialisai hasilnya, tentu peran BM ini di pertanyakan. (waallahu a’lam bisshawab)

 

 

Menabung Untuk Masa Depan, Kenapa Tidak?

                Sering kita mendengarkan pepatah “ Muda Menabung, Tua Beruntung” ataupun juga kata “ Menabung Pangkal Kaya’, hal ini mengindikasikan bahwa menabung adalah aktifitas yang akan bisa di nikmati waktu yang akan datang. Menabung adalah menyisihkan dan mengumpulkan sebagian rupiah di celengan, di bank atau lain sebagainya agar nantinya menghasilkan jumlah yang banyak untuk kebutuhan di masa depan. Pendidikan menabung sangatlah penting di tanamkan oleh para pendidik untuk anak – anak ssejak dini, maka pasti kita jumpai di lembaga pendidikan pra sekolah ( PAUD pendidikan anak usia dini, atau TK pasti ada program Ayo menabung. Hal ini adalah cara yang sangat tepat untuk membelajari menabung usia dini.

                Menabung tidaklah susah jika kita memulai dengan nominal yang terkecil dahulu, misalnya dengan uang recehan di masukan kedalam “celengan”. Tetapi menabung tidaklah mudah jika seseorang tidak membiasakan untuk menyisihkan sebagian rupiah. Memilki target pada masa yang akan datang pasti semua orang memilikinya, tetapi jika target itu tidak di barengi dengan cara-cara yang mendukung untuk mencapainya amat sulit ketika akan mencapainya.

                Ketika kita menyisihkan sebagian uang saku, berarti diri kita mulai belajar untuk menghargai uang dan belajar untuk hidup hemat. Dengan menabung bisa dikatakan juga sebagai cara untuk menghargai dan membantu usaha serta kerja keras orang tua dalam mencari nafkah. Sebab uang saku yang diberikan orang tua tidak seluruhnya habis begitu saja tetapi di simpan untuk investasi di masa depan.

                Menabung merupakan salah satu aspek dari ilmu management keuangan, dimana dalam realitasnya peran menabung sangat signifikan, karena hal tersebut sarana mengolah kepekaan diri untuk mau mengambil inisiatif dalam mengelola dirinya (be proactive). Sehingga berapapun nominal uangnya, ketika sudah terbentuk karakternya dan mempunyai prioritas dalam hidupnya pasti tetaplah menabung.

                Setiap seseorang pasti memiliki masa depan yang diinginkan, dan oleh karena itu hal tersebut tak bisa lepas dengan uang menjadi hal yang urgent sebagai penopangnya. Uang bukanlah segala-galanya namun segala sesuatu membutuhkan uang, jika ketika kita masih muda sudah menghambur-hamburkan uang, bagaimana kita akan menggapai masa depan? menabung dengan jumlah sedikit dengan terus menerus akan lebih baik jika menabung dalam jumlah besar tetapi hanya sekali. Karena dalam menabung terdapat nilai edukasi tentang kedisiplinan dan keistiqomahan (konsisten). Hal inilah yang paling menjadi acuan ketika menabung, bukan hanya sekedar nilai nominal yang di hasilkan melainkan hikmah dalam menabung itu sendiri.

Masa Depan, Pikirkan Sejak Sekarang.

                Dalam rangka untuk menggapai masa depan seyogyanya bagi seorang pelajar memiliki prioritas sejak dini untuk menggapainya. Memiliki prioritas bisa dilakukan dengan memiliki target yang tersusun secara matang. Dengan demikian target akan bisa diraih. Disisi lain banyak para santri yang berfikir akan jadi apa kelak ketika sudah dewasa? akankah masa depan akan cerah? tak bisa di pungkiri sebagian besar santri atau pelajar pada umumnya mempunyai pemikiran demikan, hal ini menunjukan betapa pentingnya target yang akan di capai. Perkara kelak menjadi apa, biarkanlah urusan Tuhan untuk mengaturnya. Yang terpenting dari diri kita adalah memiliki target dan prioritas dalam hidup.

                Dalam menunjang untuk persiapan menghadapi masa depan salah satunya dengan cara menabung. Karena dengan menabung kita dapat mengatur segala pengeluaran dan pemasukan uang yang kita miliki. Setidaknya kita mempunyai  kekuasaan untuk mengelola keuangan kita sendiri sebagai bekal untuk menghadapi tantangan masa depan. Maka dari itu jangan sukar untuk menabung, Jangan malas untuk menyisihkan sebagian uang jajan. Selamat Menabung. (awan)