| Ari Setiawan |
Seperti dalam pandangan historynya bahwa masjid pada za
man Rasulullah ialah pusat peradaban dan kegiatan umat islam, baik yang bersifat ibadah mahdhoh, maupun ibadah mu'amalah. Suatu ketika kanjeng Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah yang dibangun pertama bukanlah Istana yang megah. Melainkan masjid dengan kapasitas umat kala itu. Istana adalah sebuah lambang dari birokrasi yang mengurus masalah - masalah terkait kemasyarakatan yang kemudian disandarkan atas dasar kekuasaan duniawi dari penguasa. Sedangkan masjid adalah lambang organisasi sosial yang bersandarkan kepada Allah SWT dan kekuasaan-Nya. Dari sini, kalau kita menganalisis dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan isyarat agar umat dapat mengelompokkan diri dalam sebuah persekutuan sosial yang memiliki dasarnya mengadopsi kepada kekuasaan Allah atas manusia. Sebut saja masjid Nabawi. Masjid ini adalah pusat peradaban, peribadatan, pemerintahan dan lain sebagainya. Kompleksitas masjid pada fungsi kegunaanya kala itu. Sederhana katanya, masjid adalah pusat kegiatan serba guna.
Masjid sekarang tak ubahnya seperti halnya halte bus, atau terminal. Kog bisa? Iya. Sebab orang ke halte atau terminal hanya telah menganggap dirinya selesai setelah tujuannya juga selesai. Misalnya kita, kalau masuk masjid ambil wudhu, kemudian sholat sesuai waktunya, kemudian duduk sebentar sambil membaca wirid (walaupun banyak yang lamcing, salam langsung plencing keluar) tanpa pernah berbicara, apalagi mengenal orang disamping kita saat shalat. Dan itu rata terjadi di hampir seluruh masjid ditempat kita berada. Apalagi dikota - kota, ataupun di deket jalan raya. Hanya sebagai tempat persinggahan "ngisi absen" menggugurkan kewajiban atau hanya sebagai rest area. Ada juga yang hanya ke masjid tapi tujuannya bukanlah shalat, tapi adalah toilet.
Populasi umat muslim di dunia paling tertinggi adalah negara Indonesia. Hal ini menurut data yang disampaikan oleh Data World Population Review pada tahun 2020. Sehingga populasi muslim yang terjadi mencapai 229 juta jiwa atau bisa dikatakan sekitar 87,2 persen dari jumlah total penduduk 273,5 juta jiwa. Angka yang fantastis besar dan tak menutup kemungkinan dengan jumlah sebesar itu, rumah ibadah muslim yakni juga tinggi angka jumlahnya.
Menurut pusat informasi Masjid Kementerian Agama, atau yang biasa si sebut (SIMAS) Sistem Informasi Masjid, data pada tahun 2020 terdapat masjid dan mushola yang ada di Indonesia yang tercatat seluruhnya ialah 741.991. Data ini tercatat secara manual yang bersumber dari Kementerian Agama yang diperoleh secara berjenjang yang dilakukan dan didapatkan oleh dan dari Kantor Urusan Agama (KUA) pada tiap daerah. Masjid dan mushola yang tercatat oleh Kemenag juga yang terdapat ruang lingkupnya di SPBU. Sehingga tidak membedakan rumah ibadah ditempat yang besar maupun kecil.
Koentjowijoyo dalam pandangannya di buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, mengatakan bahwa Dewan Masjid Indonesia (DMI) belum memiliki keterkaitan fungsi yang jelas dengan organisasi - organisasi Islam yang lainnya. Sehingga dalam pandangannya, Koentowijoyo mengatakan bahwa organisasi Islam masih pada fokus ke hal vertikal. Orientasinya masih ke atas atau belum berfokus pada saluran yang mengarah ke bawah. Sehingga belum kuat kekuatannya untuk menarik orang per orang atau masih dalam ter kotak - kotak menurut organisasi yang ia ikuti.
Dalam pandangan ini, perlu adanya gagasan bahwa pentingnya membina wilayah masing - masing, dalam hal ini objeknya adalah jamaah. Menumbuhkan solidaritas dari berbagai latar belakang dan membina umat dengan hal - hal yang kongkret. Yakni solidaritas yang tidak mengedepankan egosentris organisasi. Sehingga solidaritasnya tidak hanya terfokus pada masalah solidaritas polity melainkan adalah solidaritas kemaslahatan bersama. Solidaritas yang dimaksud adalah solidaritas sosial dan solidaritas ekonomis diakar bawah yang kuat.
Perihal masjid sebagai basis gerakan sosial, tentu dapat menghilangkan sekat - sekat yang tidak perlu terjadi. Karena perbedaan adalah hal yang fitrah menjadikan kekuatan. Dan yang kita temukan di masyarakat seringkali adalah sudah membagi dikelasnya masing - masing. Terjadi sekat strata sosial antara miskin, kaya, pengusaha, petani, pegawai, hingga status sosial religiusitasnya tinggi dan rendah (abangan). Hal ini harus dihilangkan, agar solidaritas sosial bisa berjalan tanpa adanya tendensi yang macam-macam. Disini hanya ada satu status sosial yang sama, yakni jamaah masjid.
Kalau sudah hal itu terbangun, tentu masjid akan memiliki kekuatan yang besar dalam rangka menggerakan basis sosial yang ada dilingkungan masyarakat. Sehingga masyarakat yang secara ekonomi belum tersejahterakan, dengan melalui basis sosial masjid ini, sama - sama saling menopang agar tidak terjadi kemiskinan yang keberlanjutan. Kalau hal ini dapat terbangun, tentu sangat baik sekali. Terkait dengan dana yang dimiliki tak perlu susah payah mencari. Karena kekuatan sosial sudah kuat, maka para donatur akan datang dengan sendirinya.
Seperti yang diketahui salah satu masjid yang menjadi percontohan di Indonesia atas kemandirian dan basis gerakan sosialnya adalah Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Masjid yang berada ditengah kampung ini telah menjadi sorotan dunia karena manajemen masjid yang sangat tertata, dan mampu menggerakkan masyarakatnya tidak hanya aktif dalam soal peribadatan secara umum. Melainkan juga menjadi basis sosial dan ekonomi serta menghadirkan masjid sebagai solusi. Hal lain yang menjadi daya tarik pada masjid ini adalah karena gerakan sosial yang menjadi basis masjid ini. Bahkan saldo selalu 0 rupiah. Dan hal itu menjadi prinsip. Sebab ketika saldo selalu 0 karena telah di tasyarufkan kepada yang berhak dan untuk kegiatan yang maslahah, menandakan produktifitas kegiatan dimasjid tersebut. Dan juga menjadi motivasi bagi donatur agar selalu menginfaq, zakat dan sedekahkah melalui masjid ini.