Minggu, 05 Maret 2023

KH. Raden Asnawi Kudus : Tak Pernah Absen Dalam Kegiatan NU Hingga Akhir Hayat

    KH. Raden Asnawi Kudus lahir pada tahun 1281 H atau dalam kalender Masehi pada tahun 1861 M di Damaran Kudus. Putra dari KH. Abdullah Husnin dan Nyai Sarbinah. KH. Abdullah ini adalah seorang pengusaha konveksi yang tergolong besar di kalangan pedagang di daerah Kudus. Dalam silsilahnya, KH. Raden Asnawi Kudus ini adalah keturunan ke 14 dari Sayyid Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) dan keturunan ke - 5 Simbah Kyai Mutamakkin kajen Pati, seorang ulama yang keramat se zaman dengan Sultan Agung Mataram. Raden Syamsi adalah nama asli sebelum beliau naik haji yang kemudian berganti menjadi Raden Haji Ilyas, pada haji pertama yang kemudian terkenal di Mekkah dan Saudi. Hingga pada haji ketiga kalinya, beliau mengganti nama menjadi Raden Asnawi. Beliau semasa hidupnya pernah menjadi pengajar di Masjidil haram diusia yangmuda yakni 25 tahun, dan memiliki 19 murid. Sedangkan kala itu ada Syaikh Khatib Al-Minangkabawi berusia 60 tahun memiliki 30an santri. KH. Raden Asnawi wafat pada 26 Desember 1959, dimakamkan di belakang Masjid Menara Kudus, satu komplek dengan makam Sunan Kudus.

Kiai Raden Asnawi Kudus merupakan salah seorang pendiri Nahdhatul Ulama (NU) pada 1926. Bahkan jauh sebelumnya, Kiai Asnawi pernah menjadi Komisaris Sarikat Islam (SI) Cabang Mekkah. Kiai Asnawi dikenal sebagai seorang kiai da'i yang sering berceramah keliling dari suatu tempat ke tempat lainnya. Kiai Raden Asnawi, sebagaimana bisa dilihat dari namanya, memiliki garis keturunan aristokrat. Meskipun Kiai Raden Asnawi adalah putra dari seorang pedagang kain, namun kalau ditelisik secara genetika, nasabnya masih mempunyai jalur keturunan dengan Sunan Kudus atau Raden Ja'far Shodiq yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di tanah Kudus. Runtutan nasabnya adalah, Kiai Raden Asnawi bin Raden Abdullah Husnin binti Ayu Shofia binti R. Ayu Nganten Salamah bin Dipokusumo bin R. Dipoyudo bin R. Dipotaruno bin R. Pangeran Pedamaran bin Pangeran Pangaringan bin Panembahan Gemiring bin Raden Ja far Shodiq atau Sunan Kudus. Selain keturunan ulama legendaris asal Kudus, Kiai Raden Asnawi juga masih mempunyai jalur keturunan dengan KH. Ahmad Mutamakkin, tokoh legendaris asal Pati yang masyhur dengan kewaliannya. KH. Asnawi memeroleh pendidikan awalnya dari sang ayah, H. Abdullah Husnin, dan ibunya, R. Sarbinah. Setelah memperoleh pendidikan dasar, ia menuntut ilmu ke berbagai pesantren di Jawa, kemudian ke Mekkah. Di Mekkah, Kiai Asnawi menikah dengan janda Syaikh Nawawi al-Bantani, Nyai Hamdanah, yang kemudian dikaruniai 9 anak, namun hanya 3 yang hidup hingga dewasa. Mereka adalah H. Zuhri, Hj Azizah (Istri KH. Soleh Tayu) dan Alawiyah (istri H. Maskub Kudus).

Huru – Hara Anti Cina di Kudus

Disebutkan ketika terjadi huru-hara anti Cina di Kudus pada Oktober 1918, Kiai Asnawi termasuk tokoh agama yang ditangkap Pemerintah Hindia Belanda bersama teman-teman kiai lainnya, seperti KH. Ahmad Damaran, KH. Nurhadi, dan KH. Mufid Sunggingan. Kiai Asnawi dituduh sebagai tokoh penggerak kerusuhan itu. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Mula-mula, Kiai Asnawi dan kawan-kawan dipenjarakan di Kudus, kemudian dipindahkan ke Semarang. Yang menarik, karena yang dipenjarakan adalah kaum santri beserta kiainya, maka suasana penjara menjadi marak dengan kegiatan keagamaan. Di penjara, mereka mengadakan shalat jama'ah, pengajian, dan membaca Barzanji bersama-sama. Kiai Asnawi sendiri yang memimpin pengajian di penjara tersebut. Dia mengajarkan pula beberapa kitab, selain menggunakan waktu luangnya untuk menerjemahkan kitab al-Jurumiyah. Oleh karena itu, kepala penjara memperlakukan Kiai Asnawi dengan sangat hormat. Kiai Asnawi dikenal pula sebagai kiai yang memiliki beberapa karya tertulis yang sampai sekarang masih tersebar di masyarakat, di antaranya, buku Fashalatan (1954) yang merupakan tuntunan tata cara shalat dan menjadi rujukan para santri.

Pencetus Fashil Qoshir dalam Al-Fatihah dan Pentaskhih Kitab Fasholatan Jawa

Mbah KH. Raden Asnawi Kudus juga dalam kesehariannya memperhatikan sesuatu yang sangat detail misalnya dalam  mengajari keluarga dan santrinya untuk tidak segera mengucapkan lafadz “Aamiin” setalah imam mengucapkan lafadz akhir dalam surah al – fatikhah, pada lafadz setelah waladhhollin,  tapi harus ada fashil qoshir  pemisah yang tidak lama dengan diiringi  do’a robbi igfirli wa liwalidayya.

Salah satu karangan yang dinisbatkan kepada Mbah Asnawi kudus adalah kitab yang terkenal yakni Fasholatan Jawa. Kalau ditelusuri, sebenarnya itu bukanlah tulisan langsung Mbah Kiai Asnawi tetapi ditulis oleh Kiai Minan Zuhri, santri kinasihnya yang kemudian ditaskhihkan semuanya yang ditulis kepada Mbah Kiai Asnawi. Ternyata apa yang ada dalam kitab Fasholatan Jawa tersebut menjadi amaliyah keseharian Mbah Kiai Asnawi yang merujuk kepada tiga kitab, yakni Qurrotul Ain, Fatul Qorib dan Minhajuttolibin. Yang menarik dalam perihal lafadz ‘Usholi dan Talafudz binniyah qobla takbir  Mbah Kiai Asnawi sengaja menampakkan bahwa itu adalah pendapat Imam Syarifudin Yahya An-Nawawi dalam kitabnya Minhajuttolibin, ini ditampakkan oleh beliau agar bisa dipahami oleh masyarakat secara luas. 

Mbah Kiai Asnawi adalah seorang ulama yang juga seorang pejuang yang memiliki nasionalismenya tinggi, hal ini dibuktikan bahwa Mbah Yai Asnawi Kudus mengarang syair yang kemudian masyhur dikenal dengan Shalawat Asnawiyah. Dengan qoul diakhir shalawat menyebutkan lafadz“Aman Aman Aman Indnesia Raya Aman” .

Suatu ketika saat Mbah Asnawi didatangi oleh Van der Plas hampir sama dengan Snouck Huorgronje. Seorang orientalis dari Belanda yang menemui Mbah Kiai Asnawi yang kemudian diajak berdialog dengan menggunakan bahasa arab. Van der plas ini ingin menawari Mbah Asnawi Kudus untuk diangkat sebagai penghulu di Kudus, tetapi beliau menolak dengan halus dan mengatakan kepada Vander plas bahwa “Maqomnya Kiai ya tetap pada posisi Kiai jangan pindah habitat jadi politisi”.

Wafatnya KH. Asnawi

Kiai Asnawi adalah seorang organisatoris, dimana waktu yang dimiliki tidak pernah lepas dari kegiatannya untuk ta’lim wa ta’alum serta khidmah jami’yyah yang didirikannya bersama para Ulama yang lain. Dimana dalam setiap kegiatan Nahdlatul Ulama tidak pernah absen dari Muktamar NU yang pertama hingga Muktamar ke-22 yang kala itu diselenggarakan di Jakarta.  Ketika menghadiri muktamar NU ke – 22 di Jakarta, Kiai Asnawi dijemput oleh KH. Mustain yang kemudian Kiai Asnawi memiliki rencana akan menginap di rumahnya adiknya KH. Mustain, tatkala dijemput Kiai Asnawi berkata kepada Kiai Musta’in “ Kiai Mustain, ini merupakan Muktamar NU terakhir kalinya saya dapat menghadirinya, mengingat kondisi dan keadaan badanku yang seperti ini. Kiai Mustain menjawab “ Kiai, kalaupun toh panjenengan tidak bisa hadir dalam muktamar, maka kami sangat mengharapkan do’anya.”

Tak selang lama dari acara Muktamar ke-22 yang diselenggarakan di Jakarta, tepatnya pada sabtu kliwon tanggal 25 Jumadil Akhir 1378 H, bertepatan dengan tanggal 26 Desember 1959 M pukul 03.00 dinihari, Kiai Raden Asnawi Kudus berpulang kerahmatullah dalam usia 98 tahun. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Umat kehilangan sosok panutan dalam berdakwah dan menghidupi jammiyah NU.  (Awan Albunny) 

 

 

Minggu, 26 Februari 2023

KH. Mas Alwi: Sosok Pelayar, Pedagang dan Pencetus Nama Nahdlatul Ulama'

Pergolakan Nuhudlul Ulama’ vs Nahdhatul Ulama’.

Ada dua ulama Muassis NU yang  dalam awal pembentukan nama organisasi ini memiliki pandangan dan merekomendasikan nama jam'iyah ulama. Lalu siapa saja ulama itu? Pertama  KH. Abdul Hamid Sedayu Gresik, mengusulkan nama “Nuhudlul Ulama” (kebangkitan ulama) disertai penjelasan bahwa, para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui pewadahan organisasi formal tersebut. Nama usulan ini, disanggah oleh KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurut KH. Mas Alwi, kebangkitan ulama bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum adanya tanda-tanda akan terbentuknya Komite Hijaz itu sendiri. Hanya saja, kata KH. Mas Alwi, kebangkitan atau pergerakan ulama kala itu memang belum terorganisasi secara rapi.

Atas dasar itu, KH. Mas Alwi lantas mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama "Nahdlatul Ulama" (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi”. Karena saat itu, menurut KH. Mas Alwi para ulama telah bangkit bukan bersiap – siap akan bangkit. Kemudian KH. Mas Alwi menambahkan, kalau hanya di namakan jamiiyah ulama saja, belum dapat membangktkan ghirrah ulama, karena masih banyak ulama yang masih tersibukkan dengan megurusi ulama dan santrinya saja.  

Dan akhirnya disepakatilah dalam forum ulama tersebut dan juga mendapat restu oleh Rais Akbar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Kemudian, KH. Hasyim Asy'ari dalam tulisannya yang dimuat dalam Swara Nahdlatoel Oelama mengartikan kata "Nahdlhah" berarti bergerak menuju kemaslahatan, yang terus menerus tanpa berkesudahan.

Tentang penyebutan organisasi bernama “Nahdlatul Ulama”, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki pendapat dimana dalam sejumlah kesempatan ia mengatakan bahwa kata Nahdhah diilhami oleh kalimat Syekh Ahmad ibn Muhammad ibn Atha’illah as-Sakandari, pengarang kitab tasawuf yang fenomenal dikalangan Nahdliyin yakni Kitab al-Hikam yang sring dikaji dikalangan pesantren itu. Akar kata “Nahdlat" ini termuat dalam salah satu aforismenya yang berbunyi: “Lâ tashhab man lâ yunhidluka hâluhu wa lâ yadulluka ‘alallâhi maqâluhu (Janganlah engkau jadikan sahabat dari orang yang perilakunya tak membangkitkan dan menunjukkanmu kepada Allah)”.

Dalam akar kata tersebut menurut Gus Dur, KH Hasyim Asy’ari sering mengutip ungkapan itu. Kata 'yunhidlu', artinya membangkitkan, dan ulama termasuk orang yang bisa membangkitkan ke arah jalan Allah.

Siapakah KH. Mas Alwi Abdul Aziz?

KH. Mas Alwi abdul Aziz Al-Azmatkhan adalah termasuk seorang yang masih memiliki garis keturunan Sunan Ampel. Ia pernah nyantri di Demangan Bangkalan semasa dengan KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah. Setelah nyantri ke Syaikhona Kholil, beliau melanjutkan rihlah ilmiyahnya ke berbagai pondok pesantren, diantaranya di Siwalan Panji Sidoarjo dan hingga ke Mekkah.

KH. Mas Alwi selain aktif di Madrasah Nahdhatul Wathon, juga sebagai pedagang yang berjualan di jalan sasak Ampel Surabaya. Ia membuka warung setelah perjalanannya mencari tahu dan meyelidiki terkait isu yang beredar di masanya tentang pembaharuan Islam, yang kala itu sempat digaungkan oleh sepupunya KH. Mas Mansur yang kemudian dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. KH. Mas Alwi bahkan rela keliling Eropa dengan cara menjadi pelayar dan bekerja di pelayaran yang saat itu konotasi di pelayaran adalah memiliki stigma yang negatif dalam pandangan masyarakat dan terkesan memalukan keluarga, sehingga KH. Mas Alwi yang memiliki jalur keturunan hingga ke Sunan Ampel, dikeluarkan dari silsilah keluarga yang terhormat tersebut. Dari itulah KH. Mas Alwi dikeluarkan dan diusir dari rumah. Setibanya di Eropa, KH. Mas Alwi menikahi wanita Belanda yang sebelumnya sempat ia Islamkan, dan berkat itulah KH. Mas Alwi berhasil masuk ke tempat – tempat perpustakaan di Belanda yang dibantu oleh wanita yang dinikahinya dan menemukan fakta terkait dengan penyelidikan tentang pembahruan Islam yang sesungguhnya. Bahwa hal itu adalah sebuah propaganda Eropa yang akan memecah belah Islam.


Awan Albunny adalah Santri Tebuireng, Mutakharrijin Madrasah Mu'allimin Hasyim Asy'ari Tebuireng

 

 

Rabu, 22 Februari 2023

KH. Ridwan Abdullah : Bagian Konsumsi Muktamar, Pencipta Lambang NU



Beliau adalah KH. Ridwan Abdullah salah satu muasis NU yang fotonya tidak terlalu familiar, tapi hasil karyanya ada dimana - mana. Beliau bukan hanya sekedar pembuat lambang NU, tetapi ndalem beliau ditempati sebagai tempat berdirinya NU, hal ini jarang yang diketahui oleh kebanyakan orang.  Bahwa bertemunya para Kiai pada saat itu yang diminta  oleh Hadratussyaikh  untuk mengumpulkan  Kiai se Jawa dan Madura berkumpulnya di Ndalemnya KH Ridwan Abdulah. Dalam rangka acara Haul pertama KH. Kholil Bangkalan.  Setelah NU lahir, kalau dipahami bahwa sebenarnya NU itu lahir namanya dahulu, belum memiliki simbol. Setelah menjelang muktamar ke 2, yakni tahun 1927 diperiode awal NU berdiri, Muktamar NU dilaksanakan setengah tahun sekali. Dari setengah tahun menjadi satu tahunan, dari satu tahun menjadi tiga tahun dari tiga tahun menjadi lima tahun sampai sekarang. Ketika menjelang Muktamar NU  ke 2, beliau bertiga yakni  KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi ditimbali Mbah Hasyim di Tebuireng. Dulu beliau bertiga ini dikenal dengan sebutan tiga serangkai yang sama - sama ketemu saat nyantri di Demangan pondoknya  Syaikhona Cholil Bangkalan.

 Pada saat mendirikan NU, usia beliau ini yang paling sepuh adalah KH. Ridwan berusia 40 tahun. KH. Wahab berusia 37 tahun , KH. Mas Alwi 35 tahun. Dan ketiganya pernah ngaji kepada Mbah Raden Asnawi Kudus.Beliau bertiga dipanggil oleh Mbah Hasyim dan Mbah Hasyim meminta untuk dibikinkan simbol jamiiyah ulama. Yang pertama kepada KH. Wahab, tetapi Mbah Wahab menjawab persoalan gambar menggambar, bliau tidak sanggup, kemudian kepada Kiai Mas Alwi, pun juga tidak sanggup, akhirnya kepada Kiai Ridwan, akhirnya Kiai Ridwan berkenan, sebab apa yang diperintahkan oleh Mbah Hasyim kepada beliau tidak pernah ditolak.  Kemudian Mbah Hasyim memberikan syarat kepada Kiai Ridwan tatkala akan membuat sibol dari NU, pertama tidak diperkenankan mencontoh gambar yang sudah ada. Kedua, harus Haibah. Dengan kedua syarat inilah, yang menjadikan Kiai Ridwan berusaha keras yang kemudian dengan cara istikharah. Apa yang dimaksud haibah menurut Mbah Hasyim? Yang dikehendaki dengan haibah adalah simbol yang selamanya tidak lekang dimakan zaman, dan tidak membosankan. Itulah permintaan Mbah Hasyim.

Setelah pulang dari Tebuireng, kamar KH. Ridwan tidak boleh dimasuki orang kecuali beliau sendiri. Menurut penuturan cucu beliau, kalau pagi putra kiai ridwan selalu menyuguhkan kopi dan masuk ke dalam ruangan kamar Kiai Ridwan tersebut, dan didalam kamar penuh dengan sktesa gambar berkeleleran dan menumpuk karena saking banyaknya sktesa yang digambar oleh KH. Ridwan. Bahkan hingga asbak rokok penuh dengan putung rokok. Akhirnya beliau merasa buntu karena semakin lama semakin mendekat waktu pelaksanaan muktamar yang dilaksanakan kurang dari 20 hari lagi. Bahkan hingga Ketua panitia Muktamar KH. Wahab bingung karena semakin dekat dengan muktamar simbol yang diharapkan belum jadi. Dalam pelaksanaan Mukatamar ke - 2 ini, Kiai Wahab sebagai ketua dan Kiai Ridwan sebagai wakil bidang konsumisi.  Dan ditengah keputus asaan ini lah  beliau shalat istikharah munajat kepada Allah minta petunjuk. 

Sehabis shalat istikharah di tengah – tengah wiridan  itulah tasbih Kiai Ridwan yang digunakan wiridan istikharah ini masih muter di tangan beliau. Kemudian ditengah wiridan beliau ini “keseliut” terlelap. Didalam terlelap itulah beliau melihat dilangit ada bumi dikelilingi bintang sembilan yang warna bintang tersebut warna kuning keemasan. Yang paling atas ini, besar. Terbangun dari terlelap, Kiai Ridwan langsung mengambil kertas dan kembali menggambar kedalam kertas dari isyarah hasil istikharah. Kemudian ditaruh kertas gambar tadi dan beliau melanjutkan wiridan dan menyelesaikan wiridannya. Dan bakda shubuh, beliau kemudian menggambar ulang “isyarah” simbol dengan secara sempurna diatas kertas.  Kemudian diserahkan gambar dari kertas tersebut kepada KH. Wahab di Kertopaten kemudian menyerahkan kepada Mbah Hasyim karena perimntaan simbol NU ini adalah permintaan beliau sendiri. Setelah itu, simbol diserahkan kepada Mbah Hasyim oleh Kiai Ridwan di Tebuireng. 

Setelah diserahkan kepada Mbah Hasyim, kemudian beliau bertanya” Kiai Ridwan, apakah benar ini murni gambaranmu sendiri’?” tanya Mbah Hasyim. ”Sanes Mbah Yai, niku Hasil Istikarah kulo, “jawab Kiai Ridwan”.  Ini adalah bentuk ketawadhuaan Kiai Ridwan kepada Mbah Hasyim Asy’ari. Kemudian Mbah Hasyim menyetujui simbol yang digambar oleh Kiai Ridwan, dan Mbah Hasyim meminta tolong kepada Kiai Ridwan untuk mengkonsultasikan gambar ini kepada Kiai Nawawi Sidogiri. “Sampaikan salam saya kepada Kiai Nawawi, bahwa saya sudah setuju dengan simbol dalam gambar ini sebagai simbol dari NU.” Pesan Mbah Hasyim kepada Kiai Ridwan”. Kemudian Kiai Wahab dan Kiai Ridwan menuju Sidogiri dan menceritakan terkait dengan proses pembuatan dari simbol NU tersebut.  Dan Kiai Nawawi berpesan kepada Kiai Wahab dan Kiai Ridwan terkait dengan simbol yang dibuatnya. Kemudian Kiai Nawawi berpesan “ saya titiip, agar ayat ini “wa’tashimu bihablillah dst” agar bisa dibikin gambar berupa sesuatu, saya pasrah ke sampean” ujar Kiai Nawawi. Kemudian Kiai Ridwan dan Kiai Wahab kembali dari Sidogiri dan pulang untuk menyelesaikan simbol serta titipan yang menjadi permintaan Kiai Nawawi tersebut. 


Selanjutya Kiai Ridwan menemukan gambaran yang menjadi ayat yang dipesankan Kiai Nawawi, dan dibuatlah simbol tampar / tali yang talinya bukan tali mati tetapi tali simpul dibawahnya. Dan Selesai. Begitu selesai jiwa kesenian beliau dengan menuliskan tuisan Nahdhatul Ulama yang huruf dhodnya melingkar bumi.  Akhirnya simbol yang dibuat oleh Kiai Ridwan selesai juga dijahit dan dibordir oleh tangan beliau, sebab ternyata Kiai Ridwan juga selain sebagai seorang yang gemar menggambar juga kerjaannya menjahit. Sehingga simbol NU selesai kurang dua hari sebelum pelaksanaan Muktamar. Kemudian ditunjukkanlah kepada Mbah Hasyim dan kemudian Mbah Hasyim berdoa, dan mengatakan bahwa NU akan senantiasa bermanfaat hingga kiamat di Indonesia ini.

Kemudian Gubernur belanda yang berdomisili di Surabaya sebagai wakil pemrintahan yang ada di Surabaya untuk meresmikan simbol NU, tetapi Gurbernur ini menanyakan terkait makna atas simbol – simbol pada logo NU. Kemudian KH. Ridwan yang kala itu, sedang didapur karena sebagai w
akil ketua bidang konsumsi diutus KH. Hasyim Asy’ari untuk naik kepodium menjelaskan terkait makna logo NU. Akhirnya dengan berbekal Jas yang dipinjami oleh KH. Mas Alwi dan Sorban dai Kiai Wahab, KH Ridwan naik podium dan menjelaskan satu per satu makna logo itu. Sebab, Gubernur tadi itu khawtir ada simbol yang mengindikasikan simbol perlawanan terhadap Belanda. Saat itu notulen yang menjadi juru tulis penjelasan lambang adalah KH. Toha Solo dan Kiai Raden Asnawi Kudus.

 

Disarikan oleh Ari Setiawan dari cerita cucu KH. Ridwan Abdullah yakni KH. Muhammad Sholahudin Azmi (Cucu KH. Ridwan Abdullah) saat Tasyakuran 1 Abad Nahdlatul Ulama di Banyuwangi.

       

Selasa, 15 Maret 2022

BELAJAR KEPADA KH. HASYIM MUZADI : Meneladani Proses Kaderisasi Kiai Hasyim Muzadi


Nyantri di Gontor

KH. Hasyim Muzadi, ialah merupakan figur ulama yang langka. Dalam perjalanan biografinya, ia tak hanya menekuni ilmu keagamaan melainkan juga mempraktikkan ilmu tersebut dalam berorganisasi, berbangsa dan beragama. Kiai Hasyim adalah alumni Pondok Modern Gontor era 1956 hingga tamat di pondok tersebut tahun1962. Dalam perjalanan keilmuannya di pesantren, kiai hasyim tercatat belajar di pesantren senori Tuban, dan pesantren Lasem Jawa Tengah.

Kiai Hasyim nyantri di Gontor pada usia 12 tahun, usia yang masih tergolong muda dalam menuntut ilmu lepas dari orang tua. Sebelum masul ke gontor, Hasyim muda pernah mengenyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan. Karena saat pendaftaran ke pondok gontor,usia Hasyim muda belum mencukupi umur, akhirnya di sekolahkanlah di sekolah yang dekat di kota,  kemudian orang tuanya menitipkan kepada kakaknya KH.Muchit Muzadi yang kebetulan menjadi DPD kabupaten Tuban. Mengeyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan tak lama. Hanya 1,5 tahun saja karena setelah itu langsung mendaftar lagi di pondok gontor.

Kiai Hasyim adalah kategori santri yang cerdas di gontor. Pelajaran - pelajaran di pondok itu hampir semua di kuasai olehnya. Sehingga, Hasyim muda ini lebih keliatan banyak tidur dan banyak makannya. Kebiasaan sering tidur inilah yang menjadikan teman -temannya  justru terheran-heran, karena jarang keliatan belajar, tetapi bisa memiliki hasil ujian yang memuaskan. Walaupun terkenal sering tidur, Hasyim ini adalah santri berprestasi dan bisa lulus tepat waktu dan menjadi santri terbaik di Gontor.

Aktifis Mahasiswa
Pasca lulusnya Hasyim  di Pondok Gontor, kiai hasyim hijrah ke malang untuk kuliah di sekolah tinggi agama islam di daerah malang yang kelak kemudian menjadi UIN Maliki Malang. Dalam perjalanan akademisnya, sebutan aktifis celaket 10 tak dapat di pisahkan dari sosok Hasyim Muzadi, kalau membicarakan Hasyim Muzadi tak lengkap kalau tak juga menyertakan celaket 10. Ia mengibaratkan bahwa celaket 10 adalah tonggak awal perubahan dirinya berkhidmah di NU. Membicarakan celaket 10 adalah membicarakan awal mula sosok hasyim menjadi aktifis mahasiswa. Celaket 10 adalah nama jalan yang mana basecamp dari para aktifis ini bersemayam. Menyusun misi akademis dan kaderisasi hingga mengasah mindset dilakukan di rumah kontarakan ini.

Sebelum menjadi aktifis mahasiswa, Hasyim muda sebelumnya telah menjadi pengurus Ansor di desanya,sehingga bibit-bibit organisatoris dari seorang Hasyim Muzadi telah terlihat tidak hanya saat ikut organisasi di Ansor, pun juga telah tampak saat menjadi santri gontor. Dalam pengembaraan keilmuannya di malang, Kiai Hasyim meniti karier dalam organisasi adalah di PMII (pergerakan mahasiswa islam indonesia) cabang malang, hasyim muda adalah sosok mahasiswa yang berpengaruh dalam organisasi ini, sehingga menjadi tokoh kunci  PMII malang pada era 60an.

Sebagai seorang organisatoris saat menjadi mahasiswa, ada Hasyim ini telah menjadi saksis sejarah dalam pergulatan politik dalam bangsa indonesia yakni orde lama, orde baru hingga di reformasi, ketiga sejarah bangsa ini telah di lampauinya saat menjadi seorang aktifis baik di tingkat mahasiswa hingga di organisasi ansor.

Ber-Ansor

Aktifitas Kiai Hasyim saat di malang tak terlepas dari kesibukannya dalam organisasi. Ia adalah organisatoris yang mana hampir seluruh jiwa dan hidupnya di abdikan pada organisasi. Termasuk saat paripurna dalam menjadi aktifis mahasiswa dan di PMII, kiai hasyim pun bergabung kembali dengan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdhatul Ulama dan menjadi organisasi pertama yang diikutinya,saat sebelum menjadi mahasiswa. Saat setelah bergabung pasca selesai kuliah, Ia aktif di gerakan pemuda ansor bululawang malang.

Bekal pengalaman dan wawasan dari PMII inilah menjadikan Kiai Hasyim menjadi aktifis yang terbilang moncer dan populer di kalangan-kalangan yang lain selingkup ansor. Sehingga menjadikan karirnya di organisasi ini cukup cepat menjadikan Kiai Hasyim ini seorang pemimpin. Tentu suka duka, tantangan dan hambatan mengiringi langkahnya dalam memimpin ansor, tetapi hal itu di sikapi oleh Kyai Hasyim sebagai bumbu-bumbu dalam beroganisasi. Pada kepemmpinannya dalam ansor banyak terobosan yang di lakukan, sehingga ansor mengalami kemajuan yang pesat tidak hanya di area malang saja, tetapi juga di luar malang.

Di samping menjadi aktifis di ansor, kiai hasyim juga sering menerima undangan untuk ceramah agama, menjadi mubaligh yang berceramah dari panggung ke panggung yang lain, dari desa ke desa yang lain. Karena background organisasi inilah, jiwa mental dan pemikirannya melampaui teman seusianya. Berfikir kritis terhadap isu-isu yang beredar pun salah satu menjadi topik berceramahnya. Kepiawaian dalam beretorika menjadi menarik saat diatas panggung. Mengkritik kebijakan pemerintah hingga situasi politik nasional saat orde baru adalah bagian dari isi ceramah. Tentu tak lepas dari pembahasan terkait agama.

Kapok menjadi DPR

Pasca menikah dengan seorang gadis bernama Mutammimah pada 8 april 1971 mereka kemudian dikaruniai 6 anak. Sejak itulah kehidupan seorang Hasyim Muzadi mulai disibukan dengan pembagian waktu antara untuk keluarga dengan ummat dan organisasi. Sebagai seorang aktifis dan juga juru dakwah, aktifitasnya mulai padat. Sebagian waktunya di gunakan untuk "ngopeni" umat berkeliling dari kampung ke kampung, hingga luar negeri pada kelaknya.

Ketika kiai hasyim menjadi anggota dewan, kehidupan keluarga selalu tertimpa ujian yang berat. Salah satu anaknya pernah bercerita bahwa ketika masih menjabat menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim ujian datang menghampiri keluarganya. Anak keduanya yang bernama Yuni Arafah mengalami kecelakaan dan kepalanya mengalami gegar otak, dokter memvonis bahwa anak ini tidak akan bisa sembuh. Yuni Arafah terjatuh dari motor ketika di bonceng oleh pamannya, sayangnya Yuni tidak memakai helm jadi ketika kecelakaan kepala bagian belakang mengalami pendarahan yang serius. Pilihannya hanya ada dua, antara gila ataupun mati. Atas izin Allah dan pertolongannya, akhirnya bisa sembuh.

Ujian berat kembali melanda, dalam waktu yang hampir berbarengan, anak ketiganya kiai Hasyim juga mengalami sakit yang parah, bahkan hingga hampir merenggut nyawanya kalau dalam penanganan terlambat. Hilman,anak ketiga kiai hasyim ini mengalami sakit difteri. Dan atas izin Allah juga akhirnya hilman tertangani tepat waktu dan akhirnya bisa sembuh.

Pun juga anak yang pertama bernama hakim, mengalami kecelakaan yang membuatnya tangan kirinya cacat seumur hidup. Hakim terjatuh saat berjalan dan tangan kirinya masuk ke gamping yang mendidih. Dari inilah ujian yang bertubi- tubi kemudian kiai hasyim menemui Kyai Anwar Pondok Annur Bululawang dengan maksud memintai pendapat terkait kehidupannya saat menjadi anggota dewan yang selalu tertimpa ujian yang teramat berat. Oleh kiai kharismatik tersebut kiai hasyim diminta untuk memberikan berapapun jumlah uang yang dimiliki dari hasil menjadi anggota DPRD kepada seorang pengemis yang datang kepadanya di rumah. Dari situlah kiai hasyim berpesan kepada putra-putrinya agar kelak jangan menjadi anggota dewan. Sebab belajar dari banyaknya ujian-ujian dari Allah yang diberikan kepada keluarganya.

Anak orang biasa Memimpin NU

Saya ini orang biasa dan anaknya orang biasa. Ayah saya bukan kiai, saya ini jadi Kiai karena orang - orang terlanjur demikian. Saya merasa belum pantas jadi kiai. Itulah penggalan kalimat dari Kiai Hasyim Muzadi dalam buku biografinya. Yang menganggap panggilan Kiainya adalah salah satu keterlanjuran dari orang atas dirinya.

Nahdhatul Ulama sejak dilahirkan pada tahun 1926 tak habis-habisnya melahirkan tokoh - tokoh dan pemimpir besar. Tak hanya sekaliber nasional tetapi hingga kancah internasional. Hal ini terbukti juga bahwa dalam setiap momen apapun, nilai - nilai kebangsaan, toleransi, keberagaman selalu di gaungkan untuk kesatuan dan persatuan Indonesia. Salah satu tokoh yang muncul ini adalah KH.Hasyim Muzadi. Ia adalah Ketua umum PBNU  hasil muktamar NU ke 30 di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2000, yang kala itu masih menjadi ketua PWNU Jawa Timur di periode keduanya. Ia menggantikan KH. Abdurahman Wahid yang memimpin NU selama tiga periode dimulai dari 1984 hingga 1999. Muktamar inilah menjadi momentum dimana menjadi ajang high level Kiai Hasyim di kancah nasional. Saat itu kiai hasyim adalah sosok ketua nu yang masih mengemban amanah di wilayah. Namun klia memiliki kompetensi dan  kelebihan yang tak dimiliki tokoh - tokoh NU lainnya. Yakni rekam jejaknya di organisasi bisa dibilang komplit dimana tingkatan kaderisasi yang di lalui, dimulai dari bawah. Ini yang penting untuk di ikuti oleh generasi sekarang.

Pada muktamar NU ke 32 di Makassar, tahun 2010 kiai hasyim resmi meninggalkan jabatan sabagai ketum PBNU sesuai aturan yang ada pada AD/ART Organisasi. Setelah paripurna di kepengurusan PBNU kiai hasyim memprakarsai International Conferense For Islamic Scholars (ICIS), melalui ICIS NU yang di wakili oleh Kiai Hasyim mengampanyekan konsep islam rahmatan lil 'alamin. Melalui ICIS ia mentransfer pemikiran NU ke Mancanegara. Tak hanya itu Kiai Hasyim emmbawa NU sebagai organisasi yang lebih populer dikancah internasional. Melalui ICIS pula ia menggerakan ulama lintas madzhab dari berbagai negara. Organisasi ICIS ini atas prakarsa Kiai Hasyim Muzadi di dirikan pada tahun 24 Februari 2004 yang kemudian ditandatangi oleh presiden Republik Indonesia, yakni Megawati Soekarno Putri.

Jejak langkah dan teladan dari seorang anak kampung yang bisa go internasional ini lah yang seyogyanya menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang. Konsep berproses tanpa henti adalah tauladan dari seorang pendiri pesantren Al Hikam. Kiai Hasyim Muzadi. Jangan minder bukan bagian dari golongan keturunan garis kiai, darah biru. Tetapi bagaimana cara berproses tanpa henti sesuai jenjang yang ada. Kiai Hasyim mengajarkan itu, dimana ketekunan dalam berproses akan menghasilkan hasil yang baik pula. Pengalaman dapat dicari dengan ikut dalam proses kaderisasi. Kiai Hasyim Muzadi representasi dari tokoh-tokoh NU yang hebat dan tob. Pemikiran - pemikiranya menerobos sekat-sekat kejumudan kultural dan relevan dari zaman - zaman ke zaman.
Khususon kepada KH.Hazim Muzadi Al Fatehah.

 

Ari Setiawan ( Alumni Pesantren Tebuireng Jombang)



Jumat, 04 Maret 2022

"Jalan Sunyi Kiai Idris Kamali : Kiai Besar Di Balik Layar"

    Kiai pencetak ulama ini lebih suka berada di belakang layar. Apa tanda kecintaannya kepada sang istri?  Mengapa pula ia meninggalkan Tebuireng? Dibanding orang-orang yang pernah menjadi anak didiknya, Kiai Idris Kamali pastilah kalah masyhur. Sebutlah,  misalnya, K.H. Tholhah Hasan (mantan Menteri Agama dan pendiri Universitas Islam Malang atau Unisma, dan Prof. K.H. Ali Musthafa Ya’qub (imam besar Masjid Istiqlal Jakarta dan pendiri Pesantren Darus Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan). 

Meski ulama besar ini telah 20 tahun  mengajar kitab kepada para santri dan mengkader sejumlah santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, nama Kiai Idris tidak cukup menasional dan menjadi salah satu ikon Tebiureng

Padahal dia adalah menantu K.H. Hasyim Asy’ari yang  telah mengkader sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh ulama di tingkat nasional. Kiai Idris memang lebih suka memerankan dirinya sebagai tokoh di balik layar kemasyhuran Tebuireng pasca-Hadratus Syekh.

Idris Kamali  lahir di Mekah sekitar tahun 1887 sebagai anak pertama dari  pasangan K.H. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dan Nyai Saudah. Waktu itu ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at  asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Ia satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Sekitar tahun 1908 Idris Kamali  dan keluarganya pulang ke Cirebon.  Di Pesantren Idris digembleng sendiri oleh ayahnya. Setelah itu mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah, di bawah bimbingan K.H. Irfan Musa (wafat 1931).

Saat itu Kiai Idris sudah menunjukkan tanda-tanda dirinya sebagai orang alim. “Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yang juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, Kiai Idris kemudian meneruskan  ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke K.H. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama.

Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti  Al-Ghayah Wat-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya.

Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau ia  dipercaya sebagai asisten atau badal  K.H. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Tidak lama kemudian Kiai Idris dijodohkan dengan putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di paruh akhir tahun 1920-an. Putri keempat pasangan K.H. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung K.H. Abdul Wahid Hasyim.

Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu-satunya, Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). Kiai Idris dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, Kiai Idris tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris Kyai Idris dipercaya oleh K.H. Abdul Kholiq Hasyim   untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra K.H. Hasyim Asy’ari itu meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yang dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai.

Kelas Musyawarah


Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama  mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah.

Namun demikian, ia menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali “kelas musyawarah” yang dulu diselenggarakan Hadratus Syekh.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan lebih mumpuni, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH Kholiq Hasyim.

Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka ia memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri  pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan menjadi ulama. Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu ia membuat persyaratan yang cukup ketat.

Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun;
kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris;
ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah; keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa;
kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar,
keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu  bersama beliau di masjid,
dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai.

Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yang terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ada banyak santri beliau yang kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Di antara mereka adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), K.H. Abdul Hayyie Muhammad Na’im, K.H. Ma’ruf Amin, K.H. Tholhah Hasan, K.H. Habib Usman Yahya Cirebon, K.H. Ali Musthafa Ya’qub, dan Kiai Muhid Kebon Gadang. Dan masing-masing santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin, misalnya,  lebih mewarisi keilmuan fikih Kiai Idris. Dan memang beliau digembleng oleh Kiai Idris untuk ahli dalam itu fikih. Sejumlah kitab-kitab fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna  dibaca Kiai Ma’ruf di hadapan gurunya itu.

Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran Kiai Idris dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dengan pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari  dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit Kiai Idris sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, K.H. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden!) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri-santrinya.

Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada “tamu agung” datang dan hendak ia  temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam K.H. Hasyim Asy’ari.

Kiai Idris gemar  membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab-kitab tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadit rujukan dalam kegiatan-kegiatan bahtsul masa’il di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia juga punya hobi  beternak sapi dan kambing hingga memenuhi lingkungan pondok dan tidak jarang mengganggu kegiatan belajar-mengajar sebagian santri.
Ini ia lakukan karena suka berbagi rezeki,  termasuk kepada para santri.

Terutama untuk para santri yang kekurangan uang atau yang kiriman uang dari orang tuanya sering terlambat. Kiai Idris cukup menunjukkan santri bersangkutan ke tumpukan kitab dan membuka salah satu kitab. Santri itu kemudian menemukan uang di antara lembaran-lembaran kitab itu sesuai dengan jumlah yang diminta.

Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indonesia dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, ia  hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukim di Mekah, ia sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam  Syafi’i di Kairo.

Tahun 1981 Idris kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilul-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yang terkenal itu.

Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.


*Diolah dari berbagai sumber 

Rabu, 02 Maret 2022

Catatan Leadership Camp. 3.0 MPI UNHASY


Peserta dan Panitia Leadership Camp 3.0 MPI UNHASY
Pacet 24-25 februari 2022

Berbicara leadership, tentu berbicara tentang apa itu pemimpin dan apa itu kepemimpinan. Kedua kata ini saling memiliki keterkaitan, tapi juga berbeda dalam arti dan substansi. Mengambil pendapat dari Gary Yukl terkait dengan kepemimpinan, ialah perilaku individu yang mengarahkan kepada aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama, dan kemudian di implementasikan ketika seseorang tersebut melakukan mobilisasi sumber daya institusional, politis, psikologis, dan sumber - sumber lainya untuk melibatkan dan memotivasi pengikutnya. Sedangkan pemimpin adalah lebih kepada personal seseorang dalam memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan, memengaruhi sekelompok manusia sebagai circle  nya guna menunjukkan kinerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi, hal ini adalah pendapat dari Hersey dan juga Blanchard dalam buku pemimpin dan kepemimpinan.

Sesuai dengan tema kegiatan, yakni Leadership Camp 3.0  yang dilakukan oleh Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang yang dilaksanakan di Villa Pak Guru, Pacet Mojokerto pada 24-25 Februari tempo hari ini. Memberikan beberapa pengalaman, pelajaran serta catatan yang tentunya sebagai langkah untuk memacu kembali semangat berorganisasi dalam kapasistasnya berproses sebagai mahasiswa. Oleh karenanya, prodi mewajibkan bagi mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ada point - point yang tentunya ini dapat bermanfaat bagi peserta maupun panitia.

Berbagai point yang bersifat manfaat, ialah diantaranya memberikan kesempatan bagi panitia untuk mencoba mengadakan event orgnizer, bagaimana cara mengatur, menghendle, mengonsep, serta mengelola scedhule. Bahkan hingga tahapan budgeting, dana darimana, bagaimana kalau dananya tidak cukup, dan lain sebagainya, kesemuanya ini adalah bagian daripada proses implementasi dari beberapa pokok materi - materi dalam perkuliahan.

Fungsi manajemen yang dikonsepkan oleh GR. Terry terkait dengan sebutan masyhurnya POAC antara lain Plannning, Organizing, Actuating hingga Controling dalam acara ini, bisa menjadi ukur agar dapat diukur seberapa berjalan, seberapa besar penangkapan dari materi yang diberikan dibangku kuliah. Setidaknya acara ini menjadi ajang mengaplikasikan teori - teori yang didapatkan dikelas online perkuliahan yang jelas membosankan selama 2 tahun ini.

Sedangkan teruntuk peserta, ini adalah kesempatan untuk menunjukan bahwa apa yang dipilih tatkala masuk perkuliahan adalah hal yang tidak salah. Sehingga tidak ada penyesalan dipertengahan jalan, semasa semester tengah hingga semestet tua diperkuliahan.  Juga sebagai kesempatan bertemu secara nyata kepada temen- temen yang lain yang sejak awal kuliah hanya menatap layar zoomeeting, googlemeet dll. Sehingga internalisasi atau penggabungan sikap hingga standart tingkah laku dan mindset terhadap prodi MPI ini bisa memiliki kesamaan rasa untuk sama-sama mewujudkan asa dan cita - cita dalam kegiatan yang nyata.

Melihat kegiatan yang full scedhule, kami selalu memantau perkembangan kegiatan. Antusias, kesemangatan dan keterlibatan peserta yang luar biasa adalah salah satu bekal yang cukup untuk menguatkan kembali solidaritas prodi. Tentu tak tertinggal adalah nilai - nilai intelektualitas yang membara saat sesi FGD (Fokus Groub Diskusi) pada saat stressing.  Materi yang dibahas ialah mengenai analisis organisasi dan loyalitasnya, hingga membedah pandangan mahasiswa terkait perlukah adanya konflik ditubuh organisasi dan bagaimana cara mengatasinya agar konflik, agar menjadikan organisasi tidak terjadi stagnasi.  Hal yang dipaparkan cukup membuat kami bangga, bahwa banyak bibit unggul para calon aktivis organisasi di kampus adalah jebolan leadership camp ini. Selain itu, dalam rangka untuk bisa saling mengetahui gejolak jiwa saat memilih prodi MPI, beberapa alumni yang hadir memiliki inisiatif untuk berdialog secara hati ke hati terkait dengan aktualisasi diri,  doktrinasi dan internalisasi nilai - nilai Ke-MPI-an. Sehingga bisa benar - benar merasuk secara mendalam di jiwa peserta.Tentu semua tak akan lepas dari peran panitia yang luar biasa, dalam hendling problem kegiatan ini. Baik panitia kegiatan, maupun penanggung jawab kegiatan yakni organisasi HMP.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan, baik itu materi yang disampaikan dosen, maupun dari senior-seniornya, dapat dipahami bahwa hal inilah yang seyogyanya untuk terus dipertahankan sampai kapanpun. Dimana romantisme yang muda menghormati dan yang tua menyayangi, membimbing dan  mengarahkan agar terbentuk ikatan secara batin dalam bingkai sebuah program studi kampus. Sebab berproses bisa dimana saja. Tidak ada batasan dalam berproses. Atau bahkan sekat-sekat berorganisasi untuk berorganisasipun. Mau mahasiswa ikut PMII, HMI, IPNU, KMNU atau apa saja, jika masih dalam satu naungan keprodian, semua adalah keluarga. Walaupun berlatar belakang yang berbeda-beda justru hal ini menjadikan warna.

Tidak mengurangi kecintaan terhadap prodi, demi membangun kegiatan yang lebih solid, tertata dan lebih mengarah pada nilai substansi, tentu materi leadership camp perlu dirumuskan dan sebagai materi yang dipatenkan agar bisa digunakan berkesinambungan untuk kedepannya. Materi yang sekiranya sudah ada dalam mata kuliah di SKS, tentu tidak perlu di masukkan materi dalam leadership camp. Justru hal ini seolah sebagai pemborosan materi dan tentu juga waktu hingga tenaga. Materi yang seharusnya diberikan dalam leadership camp ini adalah materi tentang substansi, tidak hanya retorika atau materi yang sudah tertata diperkuliahan saja, yang justru menjadikan malah terkesan membosankan. Tetapi materi yang out of the box yang menjadi penunjang daripada keprodian.  Peserta seyogyanya lebih diaktualisasikan nilai intelektualitasnya tidak hanya terkungkung materi yang gitu - gitu saja. Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang membikin materi? Tentu stakeholders yang ada semua memiliki kontribusi dalam penentuan materi, bahkan hingga alumni bisa untuk dilibatkan. Sehingga ada peran dari semua pihak dalam penentuanya. Mungkin ini sepele, tapi sesungguhnya kegiatan seperti leadership camp beginilah sesungguhnya yang mampu ekplorasi diri, bahkan mengesankan dan menjadikan wawasan dan berguna dikemudian hari. 

Ari Setiawan (Alumni ke - 2 Prodi MPI UNHASY, dan Mahasiswa semester akhir Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto)


Sudah Malas Membaca, Paling Cerewet Di Medsos Pula

Awan Albunny

Netizen +62 adalah netizen bar - bar se-jagat maya. Betapa tidak, kita sering jumpai tindakan kebrutalan manusia Indonesia di jagat maya yang bahkan bikin gerah negara - negara tetangga. Banyak dilihat di postingan instagram, twitter, facebook dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan betapa "ramah"nya orang Indonesia dalam berselancar di dunia maya. Pasukan netizen akan segera mengunjungi akun yang sedang kontroversial atau sedang terlibat persoalan. Silahkan saja cek di berbagai sosmed, dijamin pasti netizen Indo menguasai.
Beberapa fakta menunjukan kalau orang-orang Indonesia gemar dalam mengomentari sesuatu yang belum tentu orang tersebut mengetahuinya. Secara tiba - tiba berkomentar sebelum melakukan kroscek atau membaca beritanya de
ngan lengkap. Daya baca orang kita lemah. 
        Data yang disampaikan oleh UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi di dunia. Artinya minat baca sangat minim sekali. Bahkan UNESCO menyebutkan kadar literasi sangat memperihatinkan, bayangkan indeksnya hanya mencapai 0,001%. Ini disamakan dengan dari 1,000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. Memperihatinkan bukan?
Hal yang serupa juga disampaikan oleh riset yang dilakukan oleh Worlds Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016. Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat literasi membaca. Ini angkanya dibawah Thailand yang di posisi 59. Padahal kalau kita ketahui soal infastruktur untuk penunjang dan pendukung literasi membaca Indonesia unggul dari negara - negara di Eropa.

Balada Gadget : Penggunaan Smartphoe yang Kurang Smart

        Indonesia adalah negara yang paling menjamur soal kepemilikan gadget. Jual beli gadget yang begitu terjangkau bagi masyarakat mudah sekali terbeli. Sehingga angkanya tinggi tingkat kepemilikan gadgetnya di dunia. Berdasarkan analisis dari kominfo bahwa kurang lebih 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget. Dalam peringkat, Indonesia tertinggi ke lima negara - negara di dunia. Ini penelitian tahun 2016, sekarang sudah tahun 2022 angka ini jelas meningkat 10-20% bahkan bisa lebih. Karena lembaga riset digital emarketer memprediksi lebih dari 100 juta jiwa manusia Indonesia memiliki dan dapat mengoperasikan gadget dalam kesehariannya. Kecenderungan besar terhadap gadget yang begitu tinggi, sehingga  Indonesia menduduki pengguna smartphone ke-4 dunia, setelah China, India dan Amerika.
        Gadget dan segala ruang isinya memang memudahkan sekali bagi kita untuk berselancar dan mendapatkan informasi yang begitu cepat tentang berbagai informasi dibelahan dunia. Informasi hoax atau valid sulit membedakan, dimana area maya adalah area liar yang kebenaran dan ketidakbenaran sulit dibedakan kalau tidak memiliki wawasan luas dan sumber - sumber informasi yang kredibel kita mencari sumber. Area dunia maya ibaratkan adalah hutan belantara, yang dimana kalau tak memiliki senjata, amunisi, hingga peta, kita akan tersesat dalam rimbun dan lebatnya semak belukar. Literasi adalah amunisi bagi ia yang siap untuk menghadapi liarnya arus informasi. Kebutaan informasi dan linglungnya dinamika berita bisa menyebabkan kita garang terhadap hal yang baru terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan naluri kita. Provokasi mudah ditebar dan diterima bagi ia yang minim literasi dan menutup diri dari nalar logika.
        Kominfo mengatakan bahwa saat ini adalah Era Post Truth yakni memiliki definisi berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan dimana fakta - fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Di Era Post Truth, orang tak lagi mencari kebenaran dan fakta, memainkan afirmasi dan konfirmasi, dukungan atas hal yang ia yakini. Hal yang memang menjadi perhatian kepada kita semua, sebab dengan begitu kebenaran sudah mulai dikesampingkan. Yang terpenting tujuan yang diinginkan bisa tercapai.
        Merebaknya media yang kredibilitasnya dipertanyakan lebih mendominasi postingan-postinganya, ketimbang dengan media yang terpercaya dan terjamin kevalidanya. Hal ini sangat memperihatinkan. Karena dengan begitu, mudahnya saling kecam dan menyulut emosi bagi netizen berawal dari salahnya memilih media dalam membacanya. Fake news  yang menyebarkan terpolarisasi semakin menjadi - jadi. Bahkan media yang besar berkredibel pun sudah tak dipercayai dan dinikmati lagi oleh sebagian besar masyarakat.

Bagaimana Solusinya?

        Cara yang terbaik adalah melek literasi bagi segenap anak bangsa. Selain daripada langkah-langkah tersebut, tentu yang memiliki otoritas dalam bidang informasi ini adalah Kominfo harus menertibkan akun, web, portal dan sosial media yang banyak menyebarkan informasi hoax untuk ditindak, setidaknya hak otoritasnya digunakan untuk membendung portal portal menyesatkan. Selain itu, media kredibel harus gencar menyebarkan informasi yang jelas dan mensosialisasikan saring sebelum sharing harus terus gencar disebarluaskan. Sehingga walaupun tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada dalam sosmed, setidaknya ikut Sudah dalam membendung dan memberikan virus untuk mengurangi "garang" dan "cerewetnya" netizen +62 di sosmed.

Sabtu, 19 Februari 2022

Fungsikan Masjid Sebagai Gerakan Sosial

Ari Setiawan
Masjid adalah rumah ibadah bagi umat muslim. Sebagai pusat kegiatan keagamaan yang paling strategis baik dalam keilmuan, spiritual, sosial maupun kadang banyak juga yang menggunakan sebagai strategi politik. Masjid bisa menjadi multifungsi kalau sebagian muslim mampu melihatnya sebagai basis sosial kemasyarakatan. Tidak hanya tentang religiusitas melainkan juga pada apa aspek realitas.

Seperti dalam pandangan historynya bahwa masjid pada za
man Rasulullah ialah pusat peradaban dan kegiatan umat islam, baik yang bersifat ibadah mahdhoh, maupun ibadah mu'amalah. Suatu ketika kanjeng Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah yang dibangun pertama bukanlah Istana yang megah. Melainkan masjid dengan kapasitas umat kala itu. Istana adalah sebuah lambang dari birokrasi yang mengurus masalah - masalah terkait kemasyarakatan yang kemudian disandarkan atas dasar kekuasaan duniawi dari penguasa. Sedangkan masjid adalah lambang organisasi sosial yang bersandarkan kepada Allah SWT dan kekuasaan-Nya. Dari sini, kalau kita menganalisis dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan isyarat agar umat dapat mengelompokkan diri dalam sebuah persekutuan sosial yang memiliki dasarnya mengadopsi kepada kekuasaan Allah atas manusia. Sebut saja masjid Nabawi. Masjid ini adalah pusat peradaban, peribadatan, pemerintahan dan lain sebagainya. Kompleksitas masjid pada fungsi kegunaanya kala itu. Sederhana katanya, masjid adalah pusat kegiatan serba guna.

Masjid sekarang tak ubahnya seperti halnya halte bus, atau terminal. Kog bisa? Iya. Sebab orang ke halte atau terminal hanya telah menganggap dirinya selesai setelah tujuannya juga selesai. Misalnya kita, kalau masuk masjid ambil wudhu, kemudian sholat sesuai waktunya, kemudian duduk sebentar sambil membaca wirid (walaupun banyak yang lamcing, salam langsung plencing keluar) tanpa pernah berbicara, apalagi mengenal orang disamping kita saat shalat. Dan itu rata terjadi di hampir seluruh masjid ditempat kita berada. Apalagi dikota - kota, ataupun di deket jalan raya. Hanya sebagai tempat persinggahan "ngisi absen" menggugurkan kewajiban atau hanya sebagai rest area. Ada juga yang hanya ke masjid tapi tujuannya bukanlah shalat, tapi adalah toilet.

Populasi umat muslim di dunia paling tertinggi adalah negara Indonesia. Hal ini menurut data yang disampaikan oleh Data World Population Review pada tahun 2020. Sehingga populasi muslim yang terjadi mencapai 229 juta jiwa atau bisa dikatakan sekitar 87,2 persen dari jumlah total penduduk 273,5 juta jiwa. Angka yang fantastis besar dan tak menutup kemungkinan dengan jumlah sebesar itu, rumah ibadah muslim yakni juga tinggi angka jumlahnya.

Menurut pusat informasi Masjid Kementerian Agama, atau yang biasa si sebut (SIMAS) Sistem Informasi Masjid, data pada tahun 2020 terdapat masjid dan mushola yang ada di Indonesia yang tercatat seluruhnya ialah 741.991. Data ini tercatat secara manual yang bersumber dari Kementerian Agama yang diperoleh secara berjenjang yang dilakukan dan didapatkan oleh dan dari Kantor Urusan Agama (KUA) pada tiap daerah. Masjid dan mushola yang tercatat oleh Kemenag juga yang terdapat ruang lingkupnya di SPBU. Sehingga tidak membedakan rumah ibadah ditempat yang besar maupun kecil.

Koentjowijoyo dalam pandangannya di buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, mengatakan bahwa Dewan Masjid Indonesia (DMI) belum memiliki keterkaitan fungsi yang jelas dengan organisasi - organisasi Islam yang lainnya. Sehingga dalam pandangannya, Koentowijoyo mengatakan bahwa organisasi Islam masih pada fokus ke hal vertikal. Orientasinya masih ke atas atau belum berfokus pada saluran yang mengarah ke bawah. Sehingga belum kuat kekuatannya untuk menarik orang per orang atau masih dalam ter kotak - kotak menurut organisasi yang ia ikuti.

Dalam pandangan ini, perlu adanya gagasan bahwa pentingnya membina wilayah masing - masing, dalam hal ini objeknya adalah jamaah. Menumbuhkan solidaritas dari berbagai latar belakang dan membina umat dengan hal - hal yang kongkret. Yakni solidaritas yang tidak mengedepankan egosentris organisasi. Sehingga solidaritasnya tidak hanya terfokus pada masalah solidaritas polity melainkan adalah solidaritas kemaslahatan bersama. Solidaritas yang dimaksud adalah solidaritas sosial dan solidaritas ekonomis diakar bawah yang kuat.

Perihal masjid sebagai basis gerakan sosial, tentu dapat menghilangkan sekat - sekat yang tidak perlu terjadi. Karena perbedaan adalah hal yang fitrah menjadikan kekuatan. Dan yang kita temukan di masyarakat seringkali adalah sudah membagi dikelasnya masing - masing. Terjadi sekat strata sosial antara miskin, kaya, pengusaha, petani, pegawai, hingga status sosial religiusitasnya tinggi dan rendah (abangan). Hal ini harus dihilangkan, agar solidaritas sosial bisa berjalan tanpa adanya tendensi yang macam-macam. Disini hanya ada satu status sosial yang sama, yakni jamaah masjid.

Kalau sudah hal itu terbangun, tentu masjid akan memiliki kekuatan yang besar dalam rangka menggerakan basis sosial yang ada dilingkungan masyarakat. Sehingga masyarakat yang secara ekonomi belum tersejahterakan, dengan melalui basis sosial masjid ini, sama - sama saling menopang agar tidak terjadi kemiskinan yang keberlanjutan. Kalau hal ini dapat terbangun, tentu sangat baik sekali. Terkait dengan dana yang dimiliki tak perlu susah payah mencari. Karena kekuatan sosial sudah kuat, maka para donatur akan datang dengan sendirinya.

Seperti yang diketahui salah satu masjid yang menjadi percontohan di Indonesia atas kemandirian dan basis gerakan sosialnya adalah Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Masjid yang berada ditengah kampung ini telah menjadi sorotan dunia karena manajemen masjid yang sangat tertata, dan mampu menggerakkan masyarakatnya tidak hanya aktif dalam soal peribadatan secara umum. Melainkan juga menjadi basis sosial dan ekonomi serta menghadirkan masjid sebagai solusi. Hal lain yang menjadi daya tarik pada masjid ini adalah karena gerakan sosial yang menjadi basis masjid ini. Bahkan saldo selalu 0 rupiah. Dan hal itu menjadi prinsip. Sebab ketika saldo selalu 0 karena telah di tasyarufkan kepada yang berhak dan untuk kegiatan yang maslahah, menandakan produktifitas kegiatan dimasjid tersebut. Dan juga menjadi motivasi bagi donatur agar selalu menginfaq, zakat dan sedekahkah melalui masjid ini.

Inilah yang menjadi pokok dari gerakan sosial berbasis masjid. Dimana kemaslahatan masyarakat akan selalu diutamakan, dan tidak memiliki sekat yang justru itu adalah sebagai kekuatan. Jika semua atau mayoritas masjid memiliki gerakan dan gagasan serta manajemen  sperti masjid Jogokaryan, tentu masjid lebih besar fungsinya tidak hanya sebagai pusat kegiatan keagamaan. Melainkan kegiatan berbasis sosial.


Rabu, 16 Februari 2022

Catatan Romli (Rombongan Lillahita’ala) Kongres IPNU XVIII Asrama Haji Donohudan Boyolali

 


Media Center Kongres IPNU

Tanggal 4-8 Desember 2015 adalah sebuah moment yang besar bagi salah satu Badan Otonom Nahdhatul Ulama yang mengurusi tentang pelajar. Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) serta Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mempunyai hajatan yang besar 3 tahunan. Acara yang di sebut Kongres ini adalah Forum tertinggi yang dimiliki IPNU dan IPPNU untuk memilih ketua baru untuk kepemimpinan 3 tahun kedepan.

Acara yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah ini adalah perhelatan akbar IPNU dan IPPNU pertama kali yang penulis bisa ikut menghadiri, walaupun toh tidak menyandang sebagai peserta dan memiliki hak pilih, sandangan yang familiar adalah Romli (Rombongan Lillahita’ala). Sebagai kader muda NU dan pernah di baiat menjadi anggota IPNU pada tahun 2005 kala menjadi siswa di salah satu MTs swasta di Lampung serta masih menyandang sebagai Pelajar NU, hati ini terpanggil untuk bisa hadir sebagai “pengembira” walaupun toh sebagai rombongan ilegal. 

Hari itu adalah tanggal 5 Desember 2015 pukul jam 19.10 malam dengan berbekal keterbatasan dan niat yang kuat untuk bisa turut andil, nekat berangkat seorang sendiri dengan berbekal apa adanya dari Kota santri Jombang dengan kendaraan bus sampai di terminal tirtonadi pukul 23.30. Perjalanan yang amat menjenuhkan, karena durasi waktu yang agak lama karena jarak juga lumayan jauh. Namun kejenuhan itu serasa hilang di hinggapi rasa kantuk hingga hampir sampai daerah Solo. Padahal dalam jadwal yang dirilis panitia pusat bahwa Pembukaan Kongres IPNU-IPPNU dilaksanakan pada 5 Desember pagi harinya. Walaupun tak bisa mengikuti acara pembukaan yang rencana dihadiri Presiden Jokowi yang akhirnya di “badali” oleh Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifudin. Tapi tak masalah absents dalam pembukaan karena hal demikian bagi saya hanya ceremonial saja. 

*********

Pukul 00.20 minggu dinihari saya bisa menginjak kaki untuk pertama kali dalam sejarah hidup saya di Arena Kongres Pelajar NU se-Nusantara yang dihelat di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah. Seperti biasanya dalam perhelatan akbar apapun, pasti terpasang banner-banner untuk memeriahkan dan menyemarakan acara tersebut. Tak lepas di Kongres IPNU-IPPNU kali ini. Puluhan banner dari masing – masing Pimpinan Cabang dan Pimpinan Wilayah serta Bakal Calon yang siap maju ke-IPNU 1 memenuhi sudut dan halaman kawasan asrama haji ini. Bak pemilu – pemilu yang lumrah kita lihat di sudut kota dan jalan. Ada yang mengucapkan selamat dan sukses dan ada juga yang mempromosikan dirinya untuk maju menjadi Ketum IPNU dan IPPNU dengan visi-misi yang bervariatif. Dari sini saya melihat dan menilai bahwa di arena Kongres inilah ada salah satu pelajaran tentang Demokrasi bagi seorang pelajar.

Seluruh Peserta dari berbagai penjuru Nusantara telah berdatangan sehari sebelumnya dan telah melakukan regristrasi. Hampir sebanyak 3000 peserta baik yang IPNU maupun yang IPPNU telah registrasi dan kesemuanya terpusat di asrama haji tersebut. Peserta yang ilegal pun tak kalah banyak hampir sekitar 2500 kader IPNU – IPPNU yang tidak melakukan registrasi (Rombongan Liar) memadati asrama haji di pinggiran kota Boyolali ini. Bayangkan, hampir 6000 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia memadati asrama haji ini, ksemuanya menjadi kader bagi NU dan kalau kesemuanya bisa memberikan kontribusi yang besar dan nyata bagi Bangsa Indonesia, sudah barang tentu Bangsa ini akan semakin besar dan maju.

Suasana di Kongres ini memang begitu semarak dan meriah. Malam sudah agak larut menunjukan pukul 01.00 dini hari, tetapi keramaian tak surut sekalipun setelah hujan deras mengguyur kawasan asrama haji. Banyak IPNU-IPPNU bercampur melakukan dialog dan diskusi ngobrol santai di kedai-kedai stand bazar yang di siapkan panitia. Tanpa ada sekat sama sekali, mungkin bagi pribadi saya hal ini dianggap tabu, karena perempuan dan laki-laki bercampur walaupun hanya sekedar ngobrol  adalah perbuatan yang jarang di jumpai di pesantren – pesantren pada umumnya.

Segala sesuatu yang ada di stand harganya pun melonjak jauh 2 hingga 3 kali lipat dari harga umumnya. Entah  barangkali ini kesempatan yang besar bagi penjual untuk meraup keuntungan sebesar – besarnya atau memang kejar setoran karena biaya sewa yang begitu mahal, satu stand selama perhelatan akbar pelajar NU tersebut memiliki harga hingga 2 juta rupiah.  

Dalam perjalanan saya keliling stand, saya ditemui oleh kakak kandung saya yang juga salah seorang kader IPNU dan pengurus wilayah IPNU Prov. Lampung yang kebetulan juga menjadi peserta dalam kongres IPNU di Boyolali ini. Saya akhirnya “numpang” di penginapan kafilah dari Lampung selama acara Kongres ini berlangsung.

Saya teringat omongan guru saya “Menjadi kader IPNU adalah menjadi Garda terdepan untuk menjadi benteng Ahlussunah wal jamaah, karena apa? Karena IPNU dapat masuk ke anak sekolah, hingga di desa - desa  katakanlah LP. Ma’arif mayoritas telah di isi oleh kader-kader IPNU. Di sekolah menengah pertama ini adalah pondasi awal agar siswa bisa mengenal Ahlussunah wal jamaah serta ajaran dan amaliyah NU.

******

Malam kedua bertepatan pada malam ahad, 6/12/2015 para peserta di agendakan melakukan sidang komisi yang dibagi menjadi empat komisi, yakni sidang komisi A (Peraturan Dasar / Peraturan Rumah Tangga ) Komisi B (Garis-Garis Besar Perjuangan) Komisi C (Prinsip Perjuangan) Komisi D (Rekomendasi). Dari beberapa sidang ini yang sangat alot dan penuh dengan hujan interupsi adalah komisi A yang membahas tentang Peraturan organisasi serta penentuan umur untuk Calon ketua. Dan sidang ini berakhir pada pukul 02.00 dinihari. Dan dilanjutkan esoknya dengan sidang pleno pengesahan hasil komisi.

Yang menarik dari Kongres ini adalah adanya isu krusial yang terjadi di tubuh IPNU akibat keputusan muktamar NU ke 33 yang dilaksanakan di Jombang. Yakni permasalahan umur untuk calon ketua umum yang awalnya berusia max 29 tahun di pangkas menjadi 27 tahun, dan hal ini merujuk pada keputusan hasil Muktamar NU pada sidang komisi organisasi.

Persoalan umur inilah yang memicu ketegangan oleh berbagai pimpinan cabang dan pimpinan wilayah. Ada yang yang menginginkan dan ingin mengawal keputusan Muktamar, ada juga yang tetap bersikukuh terhadap PD/PRT yang lama. Inilah yang memicu adanya ketegangan yang berujung saling lempar kursi antara kader satu dengan kader yang lainya sampai ada yang dirujuk dirumah sakit salah satu kader dari Jawa Timur.

Pada saat pengesahan hasil Sidang Komisi A yang menuai resistensi dari peserta Kongres, sidang pun lagi-lagi ditunda untuk yang kesekian kalinya dan juru Islah dari PBNU pun dihadirkan dalam forum. Dalam sambutannya Suwadi Pranoto Wakil Sekjen PBNU mengatakan bahwa jangan sampai terprovokasi oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab dan diharapkan untuk mematuhi hasil keputusan Muktamar NU di Jombang.

Dan salah satu kafilah yang paling bersikukuh untuk usia Caketum 27 serta mendukung keputusan Muktamar NU adalah Jawa Timur, bahkan Ketua PW IPNU Jawa Timur Rekan Haikal Atik mengatakan bahwa Jawa Timur  siap mengawal keputusan Muktamar Jombang.


Dalam tubuh NU berbeda pandangan adalah hal yang wajar, termasuk dengan cara PBNU “menertibkan” usia dalam IPNU. Tak jarang juga ada yang tidak sependapat dengan keputusan itu, termasuk Jawa Tengah dan luar Jawa menganggap ada sisi “politis” yang sekiranya “menyelinap” pada kongres IPNU kali ini. Kalau toh PBNU ingin menertibkan batasan usia dalam Banom-banomnya serta untuk memperbaiki kaderisasi, kenapa Fatayat ketua umumnya tidak di tertibkan? fatayat batasan dalam AD/ARTnya adalah 40 tahun, namun nyatanya usianya
lebih dari itu” itulah kutipan curhatan dari Rekan Ahmad Naufal Ketua Panitia Kongres IPNU ke XVIII di Boyolali dalam blog pribadinya.

Dan yang menarik lagi dari Kongres IPNU ke XVIII di Boyolali ini adalah di syahkannya kepengurusan PKPT (Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi) baik – IPNU maupun IPPNU di bawah naungan Pimpinan Cabang. Dalam hal ini seolah- olah hemat penulis kehadiran IPNU di perguruan tinggi mungkin agak sedikit “berbenturan” dengan keberadaan PMII yang dalam Muktamar Jombang kembali masuk dalam jajaran Badan Otonom. Perlu ada kejelasan untuk itu, sehingga tidak adanya “berebut” kader.

Rombongan Lillahta'ala Kongres IPNU Boyolali

Kongres IPNU Boyolali ini adalah Kongres kali Pertama bagi penulis ikut terlibat dalam suasana kongres yang serba kebersamaan, kekeluargaan, ketegangan dan penuh semangat untuk menjadikan IPNU sebagai sarana berkhidmah kepada NU di tingkat pelajar, walaupun dalam kategori buka peserta murni melainkan seorang “Romli” (Rombongan Lillahita’ala), semata-mata ini hanya cinta terhadap Nahdlatul Ulama.