Senin, 29 Maret 2021

Senyum Mbah Hasyim Asy'ari Kepada Para Pencaci Maki

KH. Abdurahman Bajuri Bruno Purworejo saat di wawancara 


Berbicara tentang keteladan seorang Rais Akbar Nahdhatul Ulama' tak akan pernah ada habisnya. Setiap tindak tanduknya, kesehariannya, sikap, hingga tutur kata selalu mengandung hikmah nan budi luhur. Semua bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dalam hadis Nubuwahnya. Sudah diketahui khalayak ramai, bahwa Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari adalah sosok Ulama' ahli hadits yang diakui dunia tentang ke'alimannya,  sehingga pada bulan bulan ramadhan, para santri, kiai dsri seluruh plosok negeri berbondong-bondong ke Tebuireng, guna mengaji hadist kepada Hadratusyaikh. Bahkan, diceritakan gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan sempat mengaji hadist yang di ampu oleh pendiri Pondok Pesantren Tebuireng ini.

Terkait dengan keteladan nan luhur sosok Hadratusyaikh ini,  suatu ketika di tuturkan oleh santri Mbah Hasyim, KH. Abdurahman Bajuri Purworejo beliau adalah santri juru laden Hadratusyaikh saat nyantri di Tebuireng. Beliau menceritakan bagaimana sikap Mbah Hasyim yang super sabar. Mbah Hasyim memiliki pandangan yang selektif. Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan Akidah, syariat, beliau "memberantas" tanpa mencaci maki, tanpa menyalahkan dan tanpa mengungkit-ngungkit dengan cara yang tidak Ilmiyah dan bijak. Melainkan dengan cara - cara yang lemah lembut menunjukan sisi pandangan agama, baik berupa pandangan dari Al-Qur'an dan Al-Hadist dengan cara yang meneduhkan.

Pernah suatu ketika ada seorang Kiai bernama Kiai Yasin asal pasuruan beserta murid-muridnya mengkritik, menghina dan menyalahkan sikap dan pandangan Mbah Hasyim dan NU dengan menggunakan Bait-bait Nadhom sebanyak 100 bait. Kiai Yasin ini menyalahkan keputusan Muktamar NU di Surabaya yang kala itu di pimpin langsung oleh Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy'ari selaku (Raisul Akbar NU). Kemudian Bait-bait syair kritikan tersebut di kirimkan Kiai Yasin kepada Mbah Hasyim. Lantas bagaimana sikap Mbah Hasyim menanggapi kritikan ini? Betapa tidak mengejutkan. Mbah Hasyim kemudian membaca di depan para santri sembari "guyon"' dengan senyum yang meneduhkan, dan menyampaikan " nek awak ndewe iki wis rumongso pinter, mbok yo ojo seneng nyalah - nyalahke wong liyo,. ayo podo di dungakne Kiai Yasin sak konco - koncone iki, mugi di sepuro dumateng Pengeran''. Begitu wejangan Mbah Hasyim dengan senyum khas yang meneduhkan.

Kemudian Mbah Hasyim menyusun jawaban-jawaban atas kritikan dan hinaan dengan menggunakan Nadhom juga, dengan menggunakan bahar rojaz sebanyak 100 bait yang isinya menguraikan dengan secara gamblang tentang keputusan - keputusan di NU serta mengapa berdirinya NU. Kemudian dikirimlah kepada Kiai Yasin Nadhom-nadhom tersebut dan atas jawaban Mbah Hasyim yang begitu ilmiyah yanh sesuai dengan landasan Al-Qur'an dan Hadist. Kiai Yasin pun mengakui betapa 'alimnya Mbah Hasyim, betapa "nyegoro" ke ilmuannya, betapa halus sikapnya menjawab tuduhanya. Yang kemudian Kiai Yasin sowan beserta para santrinya dan meminta maaf kepada Hadrastusyaikh atas hal dilakukannya. Itulah teladan dari para kiai, mengedepankan ilmu dalam segala aspek, mendahulukan tabayun bukan membabibuta menjustifikasikan yang berbeda. Dengan sikap seperti inilah harusnya kita dapat meneladani sebagai pegangan hidup agar tidak gampang 'gemrungsung' dengan apa - apa yang berbeda.

Kisah diatas adalah penuturan santri yang pernah menjadi Abdi "Ndalem Mbah Hasyim, yang sempat kami wawancarai di kediamannya di daerah Bruno Purworejo pada 04, Februari 2017.

Jumat, 26 Maret 2021

Dilarang Mudik? Pulang Kampung Saja!



Larangan Mudik

Perihal pelarangan mudik oleh pemerintah yang disampaikan oleh Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) Muhadjir Efendi pada jumat, 26 Maret 2021 perlu ditinjau ulang. Mudik yang dilarang oleh pemerintah pada tanggal 6 -17 mei 2021 ini telah menjadi pro - kontra di masyarakat. Sebab, hal ini terjadi kedua kalinya sejak tahun lalu, lebaran juga dilarang dengan alasan pencegahan covid-19. Tapi, nyatanya banyak yang juga lolos dari razia mudik dan akhirnya sampai di kampung halaman.

Menurut satuan tugas covid nasional  (Satgas Penanggulangan Covid-19) ada penurunan jumlah terpapar pada minggu - minggu ini. Efektivitas pada penerapan PPKM mikro dinilai efektif mengurangi penyebaran covid hingga tingkat kelurahan di setiap daerah, tetapi masih ada penyebaran yang mengalami ketinggian keterpaparan covid pada daerah tertentu. Sehingga, data yang di sampaikan oleh satgas covid nasional ini sewaktu- waktu dapat berubah akibat ketidak jelasan covid ini. Ketidak jelasan tidak hanya juga berdampak pada sisi ekonomi, melainkan pada kebijakan - kebijakan yang 'mencla - mencle'. Yang tanpa dipertimbangkan secara matang yang ujung-ujungnya terdapat tarik ulur dan pencabutan kebijakan secara dadakan.

Contohnya, kebijakan pada mudik tahun 2021 ini. Beberapa minggu sebelum ada larangan, kementrian perhubungan (kemenhub) memastikan tak ada pelarangan dalam mudik lebaran. Berita tersebut dimuat oleh portal kompas tertanggal 16 maret 2021. Keputusan dari kemenhub ini, seakan memberikan angin segar kepada para perantau yang lama tak mengunjungi kampung halaman dalam rangka silaturahmi sementara untuk melepas rindu. Tapi angin segar itu, seketika hilang terhempas oleh 'badai angin' dengan terbitnya keputusan bersama dari Menteri kordinator PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) tertanggal 26 Maret 2021. Hal ini menjadi bahan pembicaraan netizen +62 dan viral hingga berbagai macam tanggapan didalamnya.

Bikinlah Maslahah Jangan Kaku Menanggapi Masalah.

Mengutip dari status twitter yang kemudian di posting di Instagram Bapak H. Lukman Hakim saifudin, mantan Menteri Agama mengatakan, bahwa mudik adalah ritual budaya  yang sarat nilai dan semangat agama, yang dampak ekonominya juga sangat luas. Kemudian, pak LHS sapaan akrabnya mengatakan bahwa seharusnya keputusan yang maslahah yakni pengaturan mudik  dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat yang diutamakan daripada hanya sekedar melarangnya, sehingga ketika negara ini sedang krisis ekonomi, mudik bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Senada juga dengan yang di ucapkan oleh ketua PWNU Jawa Timur KH. Marzuki Mustamar dalam portal NU Jatim mengatakan, bahwa sebaiknya pemerintah jangan gegabah dalam menentukan pelarangan mudik, sebab akan berefek pada gejolak sosial yang terjadi di masyarakat. Kiai Marzuki, juga mengatakan bahwa “Tujuan orang mudik itu bermacam-macam, ada yang anggota keluarganya sakit, ada masalah, dan lain sebagainya. Jadi tidak serta merta mudik hanya untuk perayaan dan senang-senang saja. Karena itu, kami minta pemerintah tidak terlalu kaku,”  jadi pelarangan ini seperti keputusan yang terlalu kaku, tanpa mempertimbangkan yang lain.

Mudik vs Pulang Kampung, samakah?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mudik adalah verba (berlayar, pergi) pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman, serta pulang ke kampung halaman. Secara denotatif, mudik artinya kembali ke istilah yang disepakati, seperti KBBI di atas. Secara konotatif, mudik diasosiasikan dengan tradisi untuk bertemu sanak saudara saat lebaran.

Sedangkan pulang kampung berdasarkan KBBI, adalah kembali ke kampung halaman. Terdapat kesamaan baik mudik dan pulang kampung yakni keduanya merupakan aktivitas untuk keluar rumah dan bertemu sanak famili atau saudara.
Mudik dan pulang kampung setali tiga uang. Namun mudik dan pulang kampung dapat diartikan berbeda ketika pandemi COVID-19. Pertama, mudik dan pulang kampung yang biasa terjadi menjelang lebaran Idul Fitri harus dilarang sementara demi mencegah terjadinya virus pendatang dari kota besar ke desa. Kedua, mudik dan pulang kampung massal terjadi akibat pandemi COVID-19. Akibat PHK (pemutusan hubungan kerja) serta tidak adanya pemasukan untuk tinggal lebih lama di kota besar, keputusan untuk mudik atau pulang kampung diambil oleh sebagian masyarakat.

Mudik dan pulang kampung juga diutarakan dalam perspektif mobilitas penduduk. Profesor Riset bidang Demografi Sosial dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Aswatini, dalam buku 'Membaca Indonesia Esai-Esai tentang Negara, Pemerintah, Rakyat, dan Tanah Airnya oleh Ahmad Faizin Karimi, David Efendi menerangkan mudik dan pulang bisa diartikan berbeda.
".... mudik relatif mengacu pada migran permanen yang sudah tinggal di kota X (selama lebih dari 6 bulan atau bermaksud menetap di kota tersebut selama lebih dari 6 bulan) yang pulang ke kampungnya (daerah asal, tempat lahir, tempat tinggal sebelumnya, atau tempat tinggal orang tua)....
Sebaliknya, pulang kampung mengacu pada migran non permanen yang menetap di kota X untuk jangka waktu yang tidak tentu (selama masih ada di lapangan kerja untuk mereka).." Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat juga berpendapat mudik dan pulang kampung berbeda arti.

Sertifikat Vaksin, Untuk Apa?

Ikhtiyar yang dilakukan guna mempercepat penanganan dan pencegahan covid adalah dengan menggalakkan vaksinasi. Seseorang yang telah selesai melakukan vaksinasi setiap individu mendapat sertifikat digital yang dikirim melalui nomor ponselnya, sebagai tanda bahwa telah melakukan vaksinasi. Lalu, untuk apakah fungsi dari sertifikat itu? apakah orang yang telah divaksin bebas kemana saja, dan bebas dari covid setelah memiliki sertifikat? Lalu, bagaimana tanggapan dari kementerian kesehatan terkait sertifikat ini?

Menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk mensukseskan vaksinasi maka bagi masyarakat yang sudah di vaksin dan mendapatkan sertifikat tetapi bukan sertifikat fisik direncanakan akan mendapatkan intensif berupa sertifikat digital yang dapat ditaruh apple wallet dan google walet. Kemudian, lanjut Budi Sadikin bahwa sertifikat tersebut untuk memudahkan melakukan perjalanan sehingga tidak perlu melakukan swab antigen. Hal ini di sampaikan saat rapat dengan komisi IX DPR RI pada  kamis 14 Januari 2021. Kemudian terkait dengan itu akan di kordinasikan dengan Kementerian Perhubungan agar insentif ini bisa berjalan. Menurutnya, insentif ini bisa diperluas bukan hanya untuk penerbangan tetapi bisa untuk ke konser, pasar, mall, pengajian dan sebagainya.

Jadi, sebetulnya ketika perihal sertifikat vaksin emang benar-benar terealisasi dan kordinasi dengan masing - masing kebijakan menteri, sesungguhnya persoalan pelarangan mudik tak perlu terjadi, dan masyarakat yang belum vaksin tentu akan semakin bersemangat untuk mengikuti vaksin, sebab akan mendapatkan sertifikat dan mendapatkan kebebasan dalam perjalanan. Pun juga dengan mudik ini, akhirnya kalau kebijakan ini bisa terealisasi dengan baik perekonomian bisa menaik kembali, dan tentu ini akan menorehkan semangat dan optimisme bahwa covid akan hilanng di muka bumi.

Ari Setiawan ( Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto Jawa Timur)



Selasa, 16 Maret 2021

MENURUNNYA KULTUR "BERBAHASA IBU"


 

Millenial Effect

Anak-anak era 2000an adalah sebutan trend anak milenial. Sebab identitas milenium sendiri adalah nama tahun yang dalam kalender hitungan pada tiap seribu tahun. Kalau di negara malaysia, disebut tahun alaf. Tahun alaf ini adalah asal kata dari bahasa arab "Alfun" yang memiliki arti seribu. Sehingga dalam lirik lagu "tahun 2000" yang di populerkan oleh groub qosidah legendaris, Nasida Ria, tahun 2000 adalah tahun harapan dan tantangan. Tahun serba mesin, berjalan hingga tidurpun di layani mesin. Itulah penggalan lirik lagu qosidah asal semarang ini.

Milenial selalu diidentikan dengan gaya hidup soal penampilan (fashion), modernitas, dan kebebasan bereksepresi. Padahal milenial ini adalah berkaitan dengan millenium (hitungan bilangan seribu tahun pada kalender) dan berkaitan dengan generasi yang lahir era 1980/2000an. Tetapi, kata milenial itu sendiri adalah kata adjectiv atau kata sifat. Sifat yang melekat pada orang tertentu. Orang - orang milenial ini, dalam segi budaya ,norma sudah mulai tergerus. Termasuk dalam berbahasa, berdialog dengan sesama.

Identitas Diri adalah Komunikasi

Komunikasi adalah pengiriman atau penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain, baik melalui verbal maupun non verbal. Keduanya di sampaikan dan saling menangkap satu sama lain. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mau menerima dan memberikan isyarat kembali kepadanya atau dalam hal lain (feedback). Sehingga terjadi kesinambungan diantara keduanya. Setiap manusia memiliki jenis pendekatan komunikasi yang berbeda, sesuai karakter dan wataknya. Ada yang mudah bergaul dan pandai berkomunikasi dan ada juga yang perlu proses dalam menjalin komunikasi antara satu dengan lain. Mungkin karena penyesuaian ini yang membutuhkan proses yang tidak sebentar.

Setiap orang tua memiliki jenis komunikasi tertentu kepada anak dan keluarganya saat dirumah maupun diluar rumah atau bahkan dimana saja. Termasuk bahasa verbal yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karakter bisa dibawa dari seberapa antusiasme dalam berkomunikasi, misal dalam penanaman karakter bahasa ibu kepada anaknya. Sebut saja, suku  Jawa dalam kesehariannya menggunakan bahasa jawa.

Dalam tradisi masyarakat jawa, ada beberapa kriteria dalam berbahasa diantaranya adalah berbahasa secara "Ngoko lugu". Basa Ngoko lugu merupakan tingkatan pertama dan paling dasar dalam bahasa Jawa. Bahasa ini hanya diterapkan untuk komunikasi dengan orang yang lebih muda atau orang yang kedudukannya sejajar dengan kita. Misalnya, komunikasi antara orangtua dengan anaknya, majikan dengan pembantunya, atau sesama teman yang sudah dekat dan saling akrab. Ini bahasa yang sering digunakan mayoritas orang jawa dalam kesehariannya. Bahasa "orang ngopi" yang tanpa sekat dan santai dalam komunikasinya.

Kemudian dalam tradisi berbahasa dalam tingkatan menurut kultur Jawa adalah, 'ngoko alus'. Setingkat lebih tinggi daripada ngoko lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi dengan orang yang sudah akrab tapi masih menjunjung tinggi kesopanan dan rasa saling menghormati. Misalnya, komunikasi antara sesama rekan kerja di kantor. Atau komunikasi yang dilakukan orang kepada orang lain dalam perbedaan umur yang tidak terlalu jauh, hal ini juga bisa digunakan dalam berkomunikasi.

Kemudian dalam tingkatan diatasnya ialah Tingkatan yang lebih tinggi dari ngoko, bahasa krama. Bahasa krama dibagi lagi menjadi dua, yakni krama lugu dan krama inggil. Krama lugu inilah yang merupakan tingkatan paling dasar dari bahasa Krama. Krama lugu digunakan untuk komunikasi dengan orang yang secara usia lebih tua, atau lebih tinggi kedudukannya, serta sesama teman yang belum dekat dan akrab.

Sedangkan untuk tingkatan diatas adalah tingkatan bahasa "Krama inggil" merupakan tingkatan tertinggi dalam berbahasa Jawa. Tak jauh berbeda dari Krama lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi dengan orang yang lebih tinggi, baik secara usia maupun kedudukannya.
Selain itu, bahasa ini juga digunakan untuk komunikasi antara orang yang tidak saling kenal. Perbedaan antara krama inggil dengan krama lugu adalah terletak dalam kosakatanya saja. Dimana ada kesamaan secara intonasi, ada beberapa yang berbeda dari segi diksi.

Bahasa Pribumi dan Kepribadian

Para orang tua era 2000an ke belakang ini yang menganggap sebagai generasi orang tua milenial, mulai tergerus dengan budaya yang seakan dikatakan kekinian dan tuntutan zaman, padahal pada dasarnya justru menggerus identitas dan karakter luhur nenek moyang, yakni berbahasa dan berkomunikasi dengan bahasa ibu. Bahasa daerah yang menjadi akar budaya dan kultur masyarakat asli pribumi. Komunikasi dengan anak terbiasa dengan berbahasa Indonesia dapat menghilangkan kultur budaya. Bahkan misal berbahasa jawa kasar. Ini sebetulnya menjadi tolak ukur dan pendidikan karakter bagi anak. Sebab, sejatinya bahasa pribumi dapat juga membentuk pribadi yang luhur. Sifat pada manusia tergantung pada sifat genetis dan lingkungannya. Salah satunya ketika berkomunikasi secara verbal, hal ini menjadi aktualisasi bagi orang tua kepada anak yang kemudian akan ditiru apa yang di lakukan dan apa yang diucapkan.

Menurut M.A.W Brouwer mengatakan bahwa menunjukan sifat manusia itu terjadi  dalam hubungan antar manusia. Pada pola ini manusia dapat membentuk pola diri secara overt (tampak) dan secara covert ( tidak tampak). Salah satu dari pembentukan pola itu adalah berdasarkan pada pola - pola pergaulan dan saling berinteraksi. Kebiasaan - kebiasaan ini lah yang kemudian mewujudkan diri menjadi watak. Orang tua adalah garda terdepan dalam membentuk watak. Komunikasi verbal adalah poin utamanya. Cara memanggil, cara mengobrol dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah asli) adalah cara menanamkanya. Ketika orang tua intens dalam hal ini, maka jatidiri anak-anak akan lebih memiliki karakter.





Minggu, 14 Maret 2021



Makam KH. Hasyim Muzadi di Komplek Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok

 

 HAUL KE 4 KH. HASYIM MUZADI : Meneladani Proses Kaderisasi Kiai Hasyim Muzadi

Nyantri di Gontor

KH. Hasyim Muzadi, ialah merupakan figur ulama yang langka. Dalam perjalanan biografinya, ia tak hanya menekuni ilmu keagamaan melainkan juga mempraktikkan ilmu tersebut dalam berorganisasi, berbangsa dan beragama. Kiai Hasyim adalah alumni Pondok Modern Gontor era 1956 hingga tamat di pondok tersebut tahun1962. Dalam perjalanan keilmuannya di pesantren, kiai hasyim tercatat belajar di pesantren senori Tuban, dan pesantren Lasem Jawa Tengah.

Kiai Hasyim nyantri di Gontor pada usia 12 tahun, usia yang masih tergolong muda dalam menuntut ilmu lepas dari orang tua. Sebelum masul ke gontor, Hasyim muda pernah mengenyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan. Karena saat pendaftaran ke pondok gontor,usia Hasyim muda belum mencukupi umur, akhirnya di sekolahkanlah di sekolah yang dekat di kota,  kemudian orang tuanya menitipkan kepada kakaknya KH.Muchit Muzadi yang kebetulan menjadi DPD kabupaten Tuban. Mengeyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan tak lama. Hanya 1,5 tahun saja karena setelah itu langsung mendaftar lagi di pondok gontor.

Kiai Hasyim adalah kategori santri yang cerdas di gontor. Pelajaran - pelajaran di pondok itu hampir semua di kuasai olehnya. Sehingga, Hasyim muda ini lebih keliatan banyak tidur dan banyak makannya. Kebiasaan sering tidur inilah yang menjadikan teman -temannya  justru terheran-heran, karena jarang keliatan belajar, tetapi bisa memiliki hasil ujian yang memuaskan. Walaupun terkenal sering tidur, Hasyim ini adalah santri berprestasi dan bisa lulus tepat waktu dan menjadi santri terbaik di Gontor.

Aktifis Mahasiswa
Pasca lulusnya Hasyim  di Pondok Gontor, kiai hasyim hijrah ke malang untuk kuliah di sekolah tinggi agama islam di daerah malang yang kelak kemudian menjadi UIN Maliki Malang. Dalam perjalanan akademisnya, sebutan aktifis celaket 10 tak dapat di pisahkan dari sosok Hasyim Muzadi, kalau membicarakan Hasyim Muzadi tak lengkap kalau tak juga menyertakan celaket 10. Ia mengibaratkan bahwa celaket 10 adalah tonggak awal perubahan dirinya berkhidmah di NU. Membicarakan celaket 10 adalah membicarakan awal mula sosok hasyim menjadi aktifis mahasiswa. Celaket 10 adalah nama jalan yang mana basecamp dari para aktifis ini bersemayam. Menyusun misi akademis dan kaderisasi hingga mengasah mindset dilakukan di rumah kontarakan ini.

Sebelum menjadi aktifis mahasiswa, Hasyim muda sebelumnya telah menjadi pengurus Ansor di desanya,sehingga bibit-bibit organisatoris dari seorang Hasyim Muzadi telah terlihat tidak hanya saat ikut organisasi di Ansor, pun juga telah tampak saat menjadi santri gontor. Dalam pengembaraan keilmuannya di malang, Kiai Hasyim meniti karier dalam organisasi adalah di PMII (pergerakan mahasiswa islam indonesia) cabang malang, hasyim muda adalah sosok mahasiswa yang berpengaruh dalam organisasi ini, sehingga menjadi tokoh kunci  PMII malang pada era 60an.

Sebagai seorang organisatoris saat menjadi mahasiswa, ada Hasyim ini telah menjadi saksis sejarah dalam pergulatan politik dalam bangsa indonesia yakni orde lama, orde baru hingga di reformasi, ketiga sejarah bangsa ini telah di lampauinya saat menjadi seorang aktifis baik di tingkat mahasiswa hingga di organisasi ansor.

Beransor

Aktifitas Kiai Hasyim saat di malang tak terlepas dari kesibukannya dalam organisasi. Ia adalah organisatoris yang mana hampir seluruh jiwa dan hidupnya di abdikan pada organisasi. Termasuk saat paripurna dalam menjadi aktifis mahasiswa dan di PMII, kiai hasyim pun bergabung kembali dengan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdhatul Ulama dan menjadi organisasi pertama yang diikutinya,saat sebelum menjadi mahasiswa. Saat setelah bergabung pasca selesai kuliah, Ia aktif di gerakan pemuda ansor bululawang malang.

Bekal pengalaman dan wawasan dari PMII inilah menjadikan Kiai Hasyim menjadi aktifis yang terbilang moncer dan populer di kalangan-kalangan yang lain selingkup ansor. Sehingga menjadikan karirnya di organisasi ini cukup cepat menjadikan Kiai Hasyim ini seorang pemimpin. Tentu suka duka, tantangan dan hambatan mengiringi langkahnya dalam memimpin ansor, tetapi hal itu di sikapi oleh Kyai Hasyim sebagai bumbu-bumbu dalam beroganisasi. Pada kepemmpinannya dalam ansor banyak terobosan yang di lakukan, sehingga ansor mengalami kemajuan yang pesat tidak hanya di area malang saja, tetapi juga di luar malang.

Di samping menjadi aktifis di ansor, kiai hasyim juga sering menerima undangan untuk ceramah agama, menjadi mubaligh yang berceramah dari panggung ke panggung yang lain, dari desa ke desa yang lain. Karena background organisasi inilah, jiwa mental dan pemikirannya melampaui teman seusianya. Berfikir kritis terhadap isu-isu yang beredar pun salah satu menjadi topik berceramahnya. Kepiawaian dalam beretorika menjadi menarik saat diatas panggung. Mengkritik kebijakan pemerintah hingga situasi politik nasional saat orde baru adalah bagian dari isi ceramah. Tentu tak lepas dari pembahasan terkait agama.

Kapok menjadi DPR

Pasca menikah dengan seorang gadis bernama Mutammimah pada 8 april 1971 mereka kemudian dikaruniai 6 anak. Sejak itulah kehidupan seorang Hasyim Muzadi mulai disibukan dengan pembagian waktu antara untuk keluarga dengan ummat dan organisasi. Sebagai seorang aktifis dan juga juru dakwah, aktifitasnya mulai padat. Sebagian waktunya di gunakan untuk "ngopeni" umat berkeliling dari kampung ke kampung, hingga luar negeri pada kelaknya.

Ketika kiai hasyim menjadi anggota dewan, kehidupan keluarga selalu tertimpa ujian yang berat. Salah satu anaknya pernah bercerita bahwa ketika masih menjabat menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim ujian datang menghampiri keluarganya. Anak keduanya yang bernama Yuni Arafah mengalami kecelakaan dan kepalanya mengalami gegar otak, dokter memvonis bahwa anak ini tidak akan bisa sembuh. Yuni Arafah terjatuh dari motor ketika di bonceng oleh pamannya, sayangnya Yuni tidak memakai helm jadi ketika kecelakaan kepala bagian belakang mengalami pendarahan yang serius. Pilihannya hanya ada dua, antara gila ataupun mati. Atas izin Allah dan pertolongannya, akhirnya bisa sembuh.

Ujian berat kembali melanda, dalam waktu yang hampir berbarengan, anak ketiganya kiai Hasyim juga mengalami sakit yang parah, bahkan hingga hampir merenggut nyawanya kalau dalam penanganan terlambat. Hilman,anak ketiga kiai hasyim ini mengalami sakit difteri. Dan atas izin Allah juga akhirnya hilman tertangani tepat waktu dan akhirnya bisa sembuh.

Pun juga anak yang pertama bernama hakim, mengalami kecelakaan yang membuatnya tangan kirinya cacat seumur hidup. Hakim terjatuh saat berjalan dan tangan kirinya masuk ke gamping yang mendidih. Dari inilah ujian yang bertubi- tubi kemudian kiai hasyim menemui Kyai Anwar Pondok Annur Bululawang dengan maksud memintai pendapat terkait kehidupannya saat menjadi anggota dewan yang selalu tertimpa ujian yang teramat berat. Oleh kiai kharismatik tersebut kiai hasyim diminta untuk memberikan berapapun jumlah uang yang dimiliki dari hasil menjadi anggota DPRD kepada seorang pengemis yang datang kepadanya di rumah. Dari situlah kiai hasyim berpesan kepada putra-putrinya agar kelak jangan menjadi anggota dewan. Sebab belajar dari banyaknya ujian-ujian dari Allah yang diberikan kepada keluarganya.

Anak orang biasa Memimpin NU

Saya ini orang biasa dan anaknya orang biasa. Ayah saya bukan kiai, saya ini jadi Kiai karena orang - orang terlanjur demikian. Saya merasa belum pantas jadi kiai. Itulah penggalan kalimat dari Kiai Hasyim Muzadi dalam buku biografinya. Yang menganggap panggilan Kiainya adalah salah satu keterlanjuran dari orang atas dirinya.

Nahdhatul Ulama sejak dilahirkan pada tahun 1926 tak habis-habisnya melahirkan tokoh - tokoh dan pemimpir besar. Tak hanya sekaliber nasional tetapi hingga kancah internasional. Hal ini terbukti juga bahwa dalam setiap momen apapun, nilai - nilai kebangsaan, toleransi, keberagaman selalu di gaungkan untuk kesatuan dan persatuan Indonesia. Salah satu tokoh yang muncul ini adalah KH.Hasyim Muzadi. Ia adalah Ketua umum PBNU  hasil muktamar NU ke 30 di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2000, yang kala itu masih menjadi ketua PWNU Jawa Timur di periode keduanya. Ia menggantikan KH. Abdurahman Wahid yang memimpin NU selama tiga periode dimulai dari 1984 hingga 1999. Muktamar inilah menjadi momentum dimana menjadi ajang high level Kiai Hasyim di kancah nasional. Saat itu kiai hasyim adalah sosok ketua nu yang masih mengemban amanah di wilayah. Namun klia memiliki kompetensi dan  kelebihan yang tak dimiliki tokoh - tokoh NU lainnya. Yakni rekam jejaknya di organisasi bisa dibilang komplit dimana tingkatan kaderisasi yang di lalui, dimulai dari bawah. Ini yang penting untuk di ikuti oleh generasi sekarang.

Pada muktamar NU ke 32 di Makassar, tahun 2010 kiai hasyim resmi meninggalkan jabatan sabagai ketum PBNU sesuai aturan yang ada pada AD/ART Organisasi. Setelah paripurna di kepengurusan PBNU kiai hasyim memprakarsai International Conferense For Islamic Scholars (ICIS), melalui ICIS NU yang di wakili oleh Kiai Hasyim mengampanyekan konsep islam rahmatan lil 'alamin. Melalui ICIS ia mentransfer pemikiran NU ke Mancanegara. Tak hanya itu Kiai Hasyim emmbawa NU sebagai organisasi yang lebih populer dikancah internasional. Melalui ICIS pula ia menggerakan ulama lintas madzhab dari berbagai negara. Organisasi ICIS ini atas prakarsa Kiai Hasyim Muzadi di dirikan pada tahun 24 Februari 2004 yang kemudian ditandatangi oleh presiden Republik Indonesia, yakni Megawati Soekarno Putri.

Jejak langkah dan teladan dari seorang anak kampung yang bisa go internasional ini lah yang seyogyanya menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang. Konsep berproses tanpa henti adalah tauladan dari seorang pendiri pesantren Al Hikam. Kiai Hasyim Muzadi. Jangan minder bukan bagian dari golongan keturunan garis kiai, darah biru. Tetapi bagaimana cara berproses tanpa henti sesuai jenjang yang ada. Kiai Hasyim mengajarkan itu, dimana ketekunan dalam berproses akan menghasilkan hasil yang baik pula. Pengalaman dapat dicari dengan ikut dalam proses kaderisasi. Kiai Hasyim Muzadi representasi dari tokoh-tokoh NU yang hebat dan tob. Pemikiran - pemikiranya menerobos sekat-sekat kejumudan kultural dan relevan dari zaman - zaman ke zaman.
Khususon kepada KH.Hazim Muzadi Al Fatehah.

 

Ari Setiawan ( Alumni Pesantren Tebuireng Jombang)


Kamis, 04 Maret 2021

Judul buku : Sejarah Ka’bah

Penulis         : Prof. Dr. Ali Husni al-Kharbuthli

Cetakan         : 1 Juli 2013

Penerbit         : Turos Jakarta Selatan 

Tebal : 361 Halaman

Peresensi         : Ari Setiawan


Mengurai Seluk Beluk Rumah Suci Allah

Tidak bisa terbantahkan bahwa salah satu keajaiban di dunia ini terletak di tanah tandus yang dulunya tidak ada penghidupan sama sekali. Tanah yang  sekarang  menjadi pusat peradaban  Islam serta peradaban perekonomian di semenanjung Arab yakni Mekkah. Bangunan Ka’bah adalah Kiblat bagi umat muslim di seluruh dunia , setiap tahunya ratusan juta umat muslim dunia  melakukan aktifitas kehambaaan Tahunan kepada Tuhanya. 

Ka’bah, adalah  sebuah bangunan yang berbentuk kubus dengan diameter  ukuran panjang , lebar serta tinggi 13,16  meter  X  11,53 meter  X  12, 03 meter  di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang berukuran sekitar 10 X 8 meter persegi dengan dua pilar yang menjulang kelangit  yang telah melalui fase – fase pembaharuan yang kesekian kalinya.

Buku yang bertajuk sejarah Ka’bah ini adalah hasil terjemahan dari tulisan salah seorang  Guru besar di salah satu perguruan tinggi ternama di Mesir. Uraian yang lugas dan penuh dengan referensi dari literatur kirab – kitab klasik, menambah kekayaan data dari sebuah penelitian tentang Historis sebuah bangunan yang tak pernah Lapuk di makan zaman yakni Ka’bah serta segala sesuatu yang berkaitan denganya. 

Fakta historis mengenai Ka’bah yang masyhur yang dijumpai dalam buku – buku sejarah peradaban Islam bahwa Ka’bah di bangun oleh Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam dan putranya Nabi Ismail Alaihissalam, sebagai penyeru bagi umat manusia untuk melakukan ritual haji. Namun menurut beberapa sejarawan Islam serta menurut Ibnu Fadhilah Al-Umari mengatakan bahwa Ka’bah didirikan oleh para malaikat sebelum bumi di ciptakan. Hal ini berlandaskan ketika Allah berfirman kepada para malaikat-NYA, bahwa Allah akan mengutus  khalifah di muka bumi, dan para malaikat menanyakan alasan Tuhan menciptakan khalifah yang kelak akan merusak bumi dan menumpahkan darah dari saudaranya sendiri. Maka Allah pun murka terhadap para malaikat atas ucapanya itu, akhirnya para malaikat lari menuju ‘Arsy dan memohon ampun kepada Allah, dan para malaikat mengelili ‘Ars sebanyak 7 kali yang di lakukan pada thawaf saat ini. (Hal. 21). Sedangkan menurut Ibnu Qutaibah menyatakan bahwa Ka’bah di bangun oleh  nabi Adam  Alaihissalam, bahkan ada sejarawan juga yang mengatakan bahwa Ka’bah di dirikan bukan oleh nabi Adam, melainkan di bangun oleh putranya yakni Syits bin Adam Alaihissalam.

Sejarah yang paling masyhur adalah pendirian Ka’bah di lakukan oleh Khalilullah Nabi Ibrahim Alihissalam beserta putranya Nabi Ismail Alaihissalam yang saat itu yang berusia 30 tahun. Banyak refrensi yang di dapatkan penulis buku ini tentang adanya perbedaan mengenai sejarah pada pembangunan Ka’bah, dan masing – masing mempunyai landasan tersendiri, namun dari perbedaan inilah justru penulis buku ini mengajak pembaca untuk menengok sejarah dan memberikan wawasan yang luas bagi pembaca, dan pada hakikatnya  Allah lah yang mengetahui segalanya.

Magnetisme Ka'bah

Ka’bah dan kota Mekkah menjadi daya magnet yang luar biasa serta menjadi sumber rizki bagi penduduk Mekah dari zaman dahulu hingga sekarang, yakni sepeninggal Nabi Ismail Alaihissalam, Ka’bah di pegang kekuasaan oleh Suku Jurhum yakni Raja Al Harist bin Mahdhah, yang menerapkan sistem bagi siapapun yang hendak mengunjungi Ka’bah agar membayar pajak 10% dari barang perniagaan mereka.  Dan dalam kesempatan yang sama pula,  di daerah yang berbeda ada seorang yang mengaku sebagai raja dari suku Amaliq yang bernama Sumaida bin Haubar yang juga menerapkan sistem pungut pajak 10% bagi seseorang yang hendak mengunjungi Ka’bah, akhirnya peperanggan pun timbul karena dualisme kepemimpinan yang sama – sama haus akan kekuasaan dan harta pajak atas Ka’bah. Suku Amaliq pun menjadi penguasa hanya beberapa saat saja, kemudian suku Jurhum merebut kembali kekuasaan atas Ka’bah dan Mekah selama 300 tahun (hal. 52).

Makkah dan Paganisme

Paganisme pernah melanda Kota Mekkah dan bangunan Ka’bah. Penduduk di sekitar Ka’bah menyembah kepada berhala ketika pada masa kekuasaan suku Khuzaahlah yakni raja  Amru bin Luhai al Khuzai yang pertama kali membawa tradisi menyembah berhala. Menurut riwayat disebutkan bahwa ketika raja  Amru ini berkunjung ke suatu tempat untuk berobat ke kota Baqa’ di daerah Syam, menanyakan kepada para penduduk Baqa’ tentang apa yang di lakukannya terhadap berhala – berhala itu, permintaanya penduduk  Baqa’ pun terwujud, maka raja Amru meminta pada penduduk Baqa’ agar mengasihkan patung untuk di minta seperti yang di lakukan oleh penduduk  Saba’, maka di kasihkan lah patung yang paling besar yang diberi nama Hubal, dan kemudian patung tersebut di letakan di tengah bangunan Ka’bah. dan raja Amru bin Luhai al Khuzai memerintahkan kepada masyarakat di sekitar Ka’bah agar menyembah berhala Hubal dan masyrakat Mekkah kala itu pun mulai lalai dan hilang akidah tauhidnya Nabi Ibrahim Alaihissalam. (Hal.55).

Ka’bah dengan pesonanya menyimpan sejuta sejarah di dalamnya. Bangunan yang tak akan pernah lapuk di makan zaman ini begitu di agungkan dari mulai didirikanya hingga kelak sampai hari kiamat tiba. Tak pelak, bangunan ini masih tetap kokoh dan selalu di kunjungi hampir setiap harinya dan setiap tahunya, untuk melakukan Ibadah Umrah maupun Ibadah Haji. 

Fokus pembahasan dalam buku ini lebih dari sekedar mengurai sejarah tentang Ka’bah dan hal yang mengenai Mekah, melainkan pembaca di ajak seolah –  olah terbawa dalam sebuah nuansa Khazanah keilmuan tentang seluk -beluk pusat peradaban islam masa lalu . Karena dalam pembahasanya Ali Husni al-Kharbuthli salah seorang Guru besar di Salah satu Universditas ternama di mesir begitu detail mengulas sejarah mulai dari Mekah dari masa - kemasa, Ka’bah dari masa kemasa, serta paganisme yang terdapat di dalamnya, sejarah sumur zaam – zam, arti dari sumur zam – zam, serta mengungkap sejarah sumur zam - zam yang pernah hilang dan terkubur  pada masa Raja Madhad bin Amru al Jurhumi serta kemudian di temukan kembali oleh  Abdul muthalib dalam sebuah mimpinya.

Kajian – kajian yang di lakukan oleh tim Turos dari penerbit buku, menambah akan khasanah keilmuan pembaca. Buku ini juga dilayak di baca dan di miliki bagi setiap seseorang yang rindu akan Ka’bah, rindu akan Mekkah, Rindu Akan Pangilan Allah Subhanahu wata’ala Selamat membaca !! 

Peresensi : Ari setiawan, Alumni Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng Jombang

Memeluk UNHASY

The real university of pesantren and entrepreneurship, adalah jargon kampus yang didirikan oleh para masyayikh saat periode Alm. KH Yusuf Hasyim menjabat sebagai pengasuh pesantren Tebuireng. Kampus ini awalnya bernama UNHASY (Universitas Hasyim Asy'ari). Tepatnya tanggal 22 juni 1968. Kemudian berevolusi namanya menjadi IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy'ari) pada 2 september 1988. 

Seiring berjalannya waktu, IKAHA kembali lagi namanya menjadi UNHASY pada tahun 2013. Berdasarkan Keputusan Mendikbud RI Nomor: 278/E/O/2013, UNHASY resmi terlahir kembali. Perubahan dari Ikaha menjadi UNHASY menjadikan kampus ini memiliki 15 program studi. Tentu keputusan ini,  adalah salah satu jerih payah dari segala dosen dan civitas akademika tatkala pucuk kepemimpinan rektor dipimpin oleh Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid, yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng serta cucu dari pendiri NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.

 Di Indonesia,  hanya di kampus inilah yang menggunakan nama Hasyim Asy'ari sebagai nama besarnya. Dengan mengambil nama pendiri pondok pesantren Tebuireng. Nama besar yang tentu dengan harapan besar pula agar siapapun yang diterpa, berproses dan belajar disini, kelak memiliki jiwa perjuangan, ghirah keilmuan seperti KH Hasyim Asy'ari. Dengan adanya jargon The Real University Of Pesantren and Entrepreneurship, tentu segala civitas akademidka yang berada di dalamnya tentu mengedepankan asas pesantren baik meliputi kultur, kurikulum serta kebijakan yang ada di samping dengan menanamkan jiwa wirausahawan bagi mahasiswanya.

Sebuah jargon yang tidak sembarangan, menggunakan kata pesantren. Sebab pesantren adalah pondasi utama saat kampus ini berdiri. Layaknya pondasi, tentu harus kokoh dan kuat, maka muatan pesantren (tidak hanya kultur) kurikulum pesantren berbasis kitab - kitab salaf harus terdapat dalam praktik dan proses pembelajaran dalam kampus ini. Tidak pandang bulu, background manapun prodinya, fakultasnya, jiwa kepesantrenan harus melekat. Budaya ngaji harus di galakkan, sama halnya budaya entrepreneurship, budaya wirausaha yang bahkan menjadi mata kuliah hingga 3 jenjang. Tetapi mata kuliah ngaji muatannya hanya sedikit, tidak seimbang. Inilah yang harusnya menjadi perhatian. Karena masyarakat tahunya kampus UNHASY kampus yang berlatar belakang pesantren dengan kelebihan jiwa entrepreneur yang di bangun. 

Pasca Wafatnya rektor UNHASY, pucuk kepemimpinan kursi Rektor masih simpang siur, opini bertebaran, wacana di gaungkan, bahkan kandidat pun di gadang-gadang. Dinamika semakin keliatan, karena pucuk kepemimpinan akan merubah akan kemana UNHASY ini memiliki arah. Siapa nantinnya yang akan menjadi "badal". Entah sebagai, "badal bakdu kulli min kull" ataupun badal isytimal bahkan "badal gholad"? tentu wewenang ada di pihak otoritas Yayasan UNHASY. Siapapun rektornya, apapun latar belakang rektornya, semuanya komponen harus tetap memeluk UNHASY.

*Penulis adalah alumni UNHASY

Refleksi Heroisme, 10 November 1945

 Heroisme Perjuangan Arek-arek Suroboyo

Ultimatum Inggris, tepat pukul 06.00 waktu Surabaya 10 November 1945, sesaat setelah subuh,  kota ini di guncang serangan pesawat terbang dari Royal Air Force ( RAF) di barengi dengan tank-tank, pancer bertenaga bergerak memasuki pusat kota. 

Di tengah hentuman meriam dan tank, menyasar gedung-gedung strategis dan memporak porandakan Surabaya seisinya. Gedung roboh, rumah hancur lebur, pepohonan tumbang bahkan hingga aspal menyisakan kubangan besar efek serangan dari sekutu Inggris. 

Seolah tanpa memberikan waktu untuk bernafas untuk Surabaya seisinya, jalur udara pesawat tempur inggris melancarkan aksi membombardir penembakan dari pesawat tempur thunderbolt dengan peluru - peluru tajam dan curahan bom-bom yang di jatuhkanya. Surabaya menjadi lautan peluru dan badai mariam seketika. Betapa mengerikan jika di bayangkan. 

Dengan begitu derasnya serangan-serangan kepada arek-arek Suroboyo oleh sekutu, tak menghalangi mental baja para pahlawan dalam perlawanan oleh arek-arek Suroboyo. Walau hanya berbekal senjata apa adanya berupa senapan, bambu runcing, panas hingga keris. Di sertai jiwa semangat membara dan rasa optimis. Berbekal Fatwa Resolusi Jihad,  yang tatkala gugur berlabel syahid, menguatkan dan mebulatkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan yang di idam-idamkan oleh seluruh komponen bangsa. Dalam setiap aksi perlawananya tak henti - hentinya pasukan arek-arek Suroboyo bergemuruh kalimat takbir.. Allahu Akbar..!!  Allahu Akbar..!!  Allahu Akbar..!! Merdeka.!! Untuk memompa semangat serta ghirah berjihad fi sabilillah mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Bahkan dengan berbalut emosi melawan sekutu Inggris, umpatan - umpatanpun khas suroboyoan ikut terlepas. Justru menambah bringas untuk menumpas dan melibas hingga tuntas. "Koen Janc*k..!! Nyingkriho c*k..!! Mat*k koen..!!, sekelumit umpatan yang juga turut serta memberikan ekspresi sengitnya melawan penjajah. 

Kisah heroik perlawanan terhadap sekutu dalam tawuran massal ini, adalah bentuk betapa kemerdekaan negara Indonesia tidak di dapatkan, di pertahankan dengan mudah atau bahkan leha-leha apalagi hanya sekedar hibah belaka. Tetapi dengan kucuran darah hingga ribuan pahlawan mempertaruhkan nyawa. Mulai dari kalangan santri, abangan,  TKR (tentara keamanan rakyat) hingga warga pribumi area Surabaya, tak mundur sedikitpun demi negara. 

Pahlawan dan Peperangan Abad Modern

Semua orang berhak menjadi pahlawan. Pahlawan bagi dirinya sendiri, orang lain, atau bahkan pahlawan bagi negaranya sendiri. Tapi perlu di ingat, pahlawan adalah sebuah predikat yang tidak mudah di sandang. Seorang pahlawan, tak pernah merasa dirinya paling berjasa, merasa paling penting bahkan paling baik diantara yang lain, pahlawan tak memiliki rasa jumawa, angkuh bahkan egoistis.

Lantas adakah manusia abad modern di era global seperti ini yang layak untuk di sandangkan kepadanya gelar pahlawan? Bagaimana caranya?. Tentu ada dengan berbagai cara yang dilakukan. Setidaknya di mulai dari hal terkecil dari dalam diri sendiri dahulu, di mulai dari lingkungan drngan cara pembiasaan - pembiasaan yang baik. 

Era digital,  adalah era dimana hampir semua serba instan dan kecepatan update berita adalah yang di dahulukan. Siapa yang paling update informasi, seolah ia yang paling maju dalam menguasai tekhnologi. Siapa yang paling milenial, seolah ia yang paling profesional. Begitulah pandangan manusia abad modern, yang separuh hidupnya, hari-harinya di habiskan dengan bersandingkan gadget, berinteraksi melalui dunia maya, dunia jaringan sosial media.  

Peperangan abad ini adalah peperangan melawan bangsa sendiri. Peperangan melawan hoax, peperangan dalam melawan hate speech, fitnah,  adu domba,  radikalisme, narkoba hingga intoleransi. Peperangan yang lebih besar daripada peperangan menghadapi agresi militer sekutu 75 tahun silam, yang jelas nyata terlihat musuhnya, yang jelas kaasitasnya dan takaran kekuatannya. Namun saat ini,  musuh yang di hadapi kadang tak terlihat, berubah-rubah wujud, bahkan hingga menikam dari belakang. Lebih berat dari bom meriam dan hujaman peluru-peluru rudal kolonial. 

Seiring berjalannya waktu, narasi-narasi kebencian selalu dimunculkan untuk memecah belah anak bangsa. Bangsa ini, mulai retak dengan perbedaan. Perbedaan yang dulunya menjadi kekuatan dan kekayaan yang dimiliki, kini mulai dikit sedikit terkikis oleh narasi - narasi buruk. Narasi sarkasme yang dapat menjadi alat paling ampuh untuk memecah rasa solidaritas bangsa. Dimana suku, agama, ras dan budaya anak bangsa selalu di usik dengan adu domba hanya untuk kepentingan pribadi hingga golongan saja. Dan pertikaian selalu menghiasi berita-berita setiap harinya di media. 

Perbedaan adalah ibarat bifurkasi persatuan yang mengacu pada terciptanya sebuah siklus perpecahan. Sehingga sebenarnya perbedaan yang mempersatukan atau persatuan yang sebetulnya membeda-bedakan? Ini adalah realita yang sedang terjadi oleh bangsa ini. 

Sudah seyogyanya, di moment peringatan hari pahlawan ini, kita merefleksikan kembali nilai - nilai perjuangan, nilai kepahlawanan dan membaca kembali faktor - faktor peperangan yang nantinya kita bisa mengambil pelajaran untuk sama-sama memperbaiki. Hal yang mulai retak, merajut kembali puing-puing yang memisahkan sesama anak bangsa gegara narasi sarkasme yang tiap hari selalu di jumpai di negeri ini. Agar negeri ini tetap bisa menjdi negeri yang gemah limpah loh jinawi, dan mencapai baldatun thoibatun wa rabbun ghoffur. 

*Alumni MPI Unhasy 2020