Heroisme Perjuangan Arek-arek Suroboyo
Ultimatum Inggris, tepat pukul 06.00 waktu Surabaya 10 November 1945, sesaat setelah subuh, kota ini di guncang serangan pesawat terbang dari Royal Air Force ( RAF) di barengi dengan tank-tank, pancer bertenaga bergerak memasuki pusat kota.
Di tengah hentuman meriam dan tank, menyasar gedung-gedung strategis dan memporak porandakan Surabaya seisinya. Gedung roboh, rumah hancur lebur, pepohonan tumbang bahkan hingga aspal menyisakan kubangan besar efek serangan dari sekutu Inggris.
Seolah tanpa memberikan waktu untuk bernafas untuk Surabaya seisinya, jalur udara pesawat tempur inggris melancarkan aksi membombardir penembakan dari pesawat tempur thunderbolt dengan peluru - peluru tajam dan curahan bom-bom yang di jatuhkanya. Surabaya menjadi lautan peluru dan badai mariam seketika. Betapa mengerikan jika di bayangkan.
Dengan begitu derasnya serangan-serangan kepada arek-arek Suroboyo oleh sekutu, tak menghalangi mental baja para pahlawan dalam perlawanan oleh arek-arek Suroboyo. Walau hanya berbekal senjata apa adanya berupa senapan, bambu runcing, panas hingga keris. Di sertai jiwa semangat membara dan rasa optimis. Berbekal Fatwa Resolusi Jihad, yang tatkala gugur berlabel syahid, menguatkan dan mebulatkan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan yang di idam-idamkan oleh seluruh komponen bangsa. Dalam setiap aksi perlawananya tak henti - hentinya pasukan arek-arek Suroboyo bergemuruh kalimat takbir.. Allahu Akbar..!! Allahu Akbar..!! Allahu Akbar..!! Merdeka.!! Untuk memompa semangat serta ghirah berjihad fi sabilillah mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bahkan dengan berbalut emosi melawan sekutu Inggris, umpatan - umpatanpun khas suroboyoan ikut terlepas. Justru menambah bringas untuk menumpas dan melibas hingga tuntas. "Koen Janc*k..!! Nyingkriho c*k..!! Mat*k koen..!!, sekelumit umpatan yang juga turut serta memberikan ekspresi sengitnya melawan penjajah.
Kisah heroik perlawanan terhadap sekutu dalam tawuran massal ini, adalah bentuk betapa kemerdekaan negara Indonesia tidak di dapatkan, di pertahankan dengan mudah atau bahkan leha-leha apalagi hanya sekedar hibah belaka. Tetapi dengan kucuran darah hingga ribuan pahlawan mempertaruhkan nyawa. Mulai dari kalangan santri, abangan, TKR (tentara keamanan rakyat) hingga warga pribumi area Surabaya, tak mundur sedikitpun demi negara.
Pahlawan dan Peperangan Abad Modern
Semua orang berhak menjadi pahlawan. Pahlawan bagi dirinya sendiri, orang lain, atau bahkan pahlawan bagi negaranya sendiri. Tapi perlu di ingat, pahlawan adalah sebuah predikat yang tidak mudah di sandang. Seorang pahlawan, tak pernah merasa dirinya paling berjasa, merasa paling penting bahkan paling baik diantara yang lain, pahlawan tak memiliki rasa jumawa, angkuh bahkan egoistis.
Lantas adakah manusia abad modern di era global seperti ini yang layak untuk di sandangkan kepadanya gelar pahlawan? Bagaimana caranya?. Tentu ada dengan berbagai cara yang dilakukan. Setidaknya di mulai dari hal terkecil dari dalam diri sendiri dahulu, di mulai dari lingkungan drngan cara pembiasaan - pembiasaan yang baik.
Era digital, adalah era dimana hampir semua serba instan dan kecepatan update berita adalah yang di dahulukan. Siapa yang paling update informasi, seolah ia yang paling maju dalam menguasai tekhnologi. Siapa yang paling milenial, seolah ia yang paling profesional. Begitulah pandangan manusia abad modern, yang separuh hidupnya, hari-harinya di habiskan dengan bersandingkan gadget, berinteraksi melalui dunia maya, dunia jaringan sosial media.
Peperangan abad ini adalah peperangan melawan bangsa sendiri. Peperangan melawan hoax, peperangan dalam melawan hate speech, fitnah, adu domba, radikalisme, narkoba hingga intoleransi. Peperangan yang lebih besar daripada peperangan menghadapi agresi militer sekutu 75 tahun silam, yang jelas nyata terlihat musuhnya, yang jelas kaasitasnya dan takaran kekuatannya. Namun saat ini, musuh yang di hadapi kadang tak terlihat, berubah-rubah wujud, bahkan hingga menikam dari belakang. Lebih berat dari bom meriam dan hujaman peluru-peluru rudal kolonial.
Seiring berjalannya waktu, narasi-narasi kebencian selalu dimunculkan untuk memecah belah anak bangsa. Bangsa ini, mulai retak dengan perbedaan. Perbedaan yang dulunya menjadi kekuatan dan kekayaan yang dimiliki, kini mulai dikit sedikit terkikis oleh narasi - narasi buruk. Narasi sarkasme yang dapat menjadi alat paling ampuh untuk memecah rasa solidaritas bangsa. Dimana suku, agama, ras dan budaya anak bangsa selalu di usik dengan adu domba hanya untuk kepentingan pribadi hingga golongan saja. Dan pertikaian selalu menghiasi berita-berita setiap harinya di media.
Perbedaan adalah ibarat bifurkasi persatuan yang mengacu pada terciptanya sebuah siklus perpecahan. Sehingga sebenarnya perbedaan yang mempersatukan atau persatuan yang sebetulnya membeda-bedakan? Ini adalah realita yang sedang terjadi oleh bangsa ini.
Sudah seyogyanya, di moment peringatan hari pahlawan ini, kita merefleksikan kembali nilai - nilai perjuangan, nilai kepahlawanan dan membaca kembali faktor - faktor peperangan yang nantinya kita bisa mengambil pelajaran untuk sama-sama memperbaiki. Hal yang mulai retak, merajut kembali puing-puing yang memisahkan sesama anak bangsa gegara narasi sarkasme yang tiap hari selalu di jumpai di negeri ini. Agar negeri ini tetap bisa menjdi negeri yang gemah limpah loh jinawi, dan mencapai baldatun thoibatun wa rabbun ghoffur.
*Alumni MPI Unhasy 2020
Tulisannya Dahsyatt
BalasHapus