The real university of pesantren and entrepreneurship, adalah jargon kampus yang didirikan oleh para masyayikh saat periode Alm. KH Yusuf Hasyim menjabat sebagai pengasuh pesantren Tebuireng. Kampus ini awalnya bernama UNHASY (Universitas Hasyim Asy'ari). Tepatnya tanggal 22 juni 1968. Kemudian berevolusi namanya menjadi IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asy'ari) pada 2 september 1988.
Seiring berjalannya waktu, IKAHA kembali lagi namanya menjadi UNHASY pada tahun 2013. Berdasarkan Keputusan Mendikbud RI Nomor: 278/E/O/2013, UNHASY resmi terlahir kembali. Perubahan dari Ikaha menjadi UNHASY menjadikan kampus ini memiliki 15 program studi. Tentu keputusan ini, adalah salah satu jerih payah dari segala dosen dan civitas akademika tatkala pucuk kepemimpinan rektor dipimpin oleh Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid, yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng serta cucu dari pendiri NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.
Di Indonesia, hanya di kampus inilah yang menggunakan nama Hasyim Asy'ari sebagai nama besarnya. Dengan mengambil nama pendiri pondok pesantren Tebuireng. Nama besar yang tentu dengan harapan besar pula agar siapapun yang diterpa, berproses dan belajar disini, kelak memiliki jiwa perjuangan, ghirah keilmuan seperti KH Hasyim Asy'ari. Dengan adanya jargon The Real University Of Pesantren and Entrepreneurship, tentu segala civitas akademidka yang berada di dalamnya tentu mengedepankan asas pesantren baik meliputi kultur, kurikulum serta kebijakan yang ada di samping dengan menanamkan jiwa wirausahawan bagi mahasiswanya.
Sebuah jargon yang tidak sembarangan, menggunakan kata pesantren. Sebab pesantren adalah pondasi utama saat kampus ini berdiri. Layaknya pondasi, tentu harus kokoh dan kuat, maka muatan pesantren (tidak hanya kultur) kurikulum pesantren berbasis kitab - kitab salaf harus terdapat dalam praktik dan proses pembelajaran dalam kampus ini. Tidak pandang bulu, background manapun prodinya, fakultasnya, jiwa kepesantrenan harus melekat. Budaya ngaji harus di galakkan, sama halnya budaya entrepreneurship, budaya wirausaha yang bahkan menjadi mata kuliah hingga 3 jenjang. Tetapi mata kuliah ngaji muatannya hanya sedikit, tidak seimbang. Inilah yang harusnya menjadi perhatian. Karena masyarakat tahunya kampus UNHASY kampus yang berlatar belakang pesantren dengan kelebihan jiwa entrepreneur yang di bangun.
Pasca Wafatnya rektor UNHASY, pucuk kepemimpinan kursi Rektor masih simpang siur, opini bertebaran, wacana di gaungkan, bahkan kandidat pun di gadang-gadang. Dinamika semakin keliatan, karena pucuk kepemimpinan akan merubah akan kemana UNHASY ini memiliki arah. Siapa nantinnya yang akan menjadi "badal". Entah sebagai, "badal bakdu kulli min kull" ataupun badal isytimal bahkan "badal gholad"? tentu wewenang ada di pihak otoritas Yayasan UNHASY. Siapapun rektornya, apapun latar belakang rektornya, semuanya komponen harus tetap memeluk UNHASY.
*Penulis adalah alumni UNHASY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar