![]() |
Setelah pulang dari Tebuireng, kamar KH. Ridwan tidak boleh dimasuki orang kecuali beliau sendiri. Menurut penuturan cucu beliau, kalau pagi putra kiai ridwan selalu menyuguhkan kopi dan masuk ke dalam ruangan kamar Kiai Ridwan tersebut, dan didalam kamar penuh dengan sktesa gambar berkeleleran dan menumpuk karena saking banyaknya sktesa yang digambar oleh KH. Ridwan. Bahkan hingga asbak rokok penuh dengan putung rokok. Akhirnya beliau merasa buntu karena semakin lama semakin mendekat waktu pelaksanaan muktamar yang dilaksanakan kurang dari 20 hari lagi. Bahkan hingga Ketua panitia Muktamar KH. Wahab bingung karena semakin dekat dengan muktamar simbol yang diharapkan belum jadi. Dalam pelaksanaan Mukatamar ke - 2 ini, Kiai Wahab sebagai ketua dan Kiai Ridwan sebagai wakil bidang konsumisi. Dan ditengah keputus asaan ini lah beliau shalat istikharah munajat kepada Allah minta petunjuk.
Sehabis shalat istikharah di tengah – tengah wiridan itulah tasbih Kiai Ridwan yang digunakan wiridan istikharah ini masih muter di tangan beliau. Kemudian ditengah wiridan beliau ini “keseliut” terlelap. Didalam terlelap itulah beliau melihat dilangit ada bumi dikelilingi bintang sembilan yang warna bintang tersebut warna kuning keemasan. Yang paling atas ini, besar. Terbangun dari terlelap, Kiai Ridwan langsung mengambil kertas dan kembali menggambar kedalam kertas dari isyarah hasil istikharah. Kemudian ditaruh kertas gambar tadi dan beliau melanjutkan wiridan dan menyelesaikan wiridannya. Dan bakda shubuh, beliau kemudian menggambar ulang “isyarah” simbol dengan secara sempurna diatas kertas. Kemudian diserahkan gambar dari kertas tersebut kepada KH. Wahab di Kertopaten kemudian menyerahkan kepada Mbah Hasyim karena perimntaan simbol NU ini adalah permintaan beliau sendiri. Setelah itu, simbol diserahkan kepada Mbah Hasyim oleh Kiai Ridwan di Tebuireng.
Setelah diserahkan kepada Mbah Hasyim, kemudian beliau bertanya” Kiai Ridwan, apakah benar ini murni gambaranmu sendiri’?” tanya Mbah Hasyim. ”Sanes Mbah Yai, niku Hasil Istikarah kulo, “jawab Kiai Ridwan”. Ini adalah bentuk ketawadhuaan Kiai Ridwan kepada Mbah Hasyim Asy’ari. Kemudian Mbah Hasyim menyetujui simbol yang digambar oleh Kiai Ridwan, dan Mbah Hasyim meminta tolong kepada Kiai Ridwan untuk mengkonsultasikan gambar ini kepada Kiai Nawawi Sidogiri. “Sampaikan salam saya kepada Kiai Nawawi, bahwa saya sudah setuju dengan simbol dalam gambar ini sebagai simbol dari NU.” Pesan Mbah Hasyim kepada Kiai Ridwan”. Kemudian Kiai Wahab dan Kiai Ridwan menuju Sidogiri dan menceritakan terkait dengan proses pembuatan dari simbol NU tersebut. Dan Kiai Nawawi berpesan kepada Kiai Wahab dan Kiai Ridwan terkait dengan simbol yang dibuatnya. Kemudian Kiai Nawawi berpesan “ saya titiip, agar ayat ini “wa’tashimu bihablillah dst” agar bisa dibikin gambar berupa sesuatu, saya pasrah ke sampean” ujar Kiai Nawawi. Kemudian Kiai Ridwan dan Kiai Wahab kembali dari Sidogiri dan pulang untuk menyelesaikan simbol serta titipan yang menjadi permintaan Kiai Nawawi tersebut.
Selanjutya Kiai Ridwan menemukan gambaran yang menjadi ayat yang
dipesankan Kiai Nawawi, dan dibuatlah simbol tampar / tali yang talinya bukan
tali mati tetapi tali simpul dibawahnya. Dan Selesai. Begitu selesai jiwa
kesenian beliau dengan menuliskan tuisan Nahdhatul Ulama yang huruf dhodnya melingkar bumi. Akhirnya simbol yang dibuat oleh Kiai Ridwan
selesai juga dijahit dan dibordir oleh tangan beliau, sebab ternyata Kiai
Ridwan juga selain sebagai seorang yang gemar menggambar juga kerjaannya
menjahit. Sehingga simbol NU selesai kurang dua hari sebelum pelaksanaan
Muktamar. Kemudian ditunjukkanlah kepada Mbah Hasyim dan kemudian Mbah Hasyim berdoa,
dan mengatakan bahwa NU akan senantiasa bermanfaat hingga kiamat di Indonesia
ini.
Kemudian Gubernur belanda yang
berdomisili di Surabaya sebagai wakil pemrintahan yang ada di Surabaya untuk
meresmikan simbol NU, tetapi Gurbernur ini menanyakan terkait makna atas simbol
– simbol pada logo NU. Kemudian KH. Ridwan yang kala itu, sedang didapur karena
sebagai w
akil ketua bidang konsumsi diutus KH. Hasyim Asy’ari untuk naik
kepodium menjelaskan terkait makna logo NU. Akhirnya dengan berbekal Jas yang
dipinjami oleh KH. Mas Alwi dan Sorban dai Kiai Wahab, KH Ridwan naik podium
dan menjelaskan satu per satu makna logo itu. Sebab, Gubernur tadi itu khawtir
ada simbol yang mengindikasikan simbol perlawanan terhadap Belanda. Saat itu
notulen yang menjadi juru tulis penjelasan lambang adalah KH. Toha Solo dan
Kiai Raden Asnawi Kudus.
Disarikan oleh Ari Setiawan dari
cerita cucu KH. Ridwan Abdullah yakni KH. Muhammad Sholahudin Azmi (Cucu KH.
Ridwan Abdullah) saat Tasyakuran 1 Abad Nahdlatul Ulama di Banyuwangi.


Tulisannya daging semua. Keren sahabat, lanjutkan!
BalasHapusTypo typo om
BalasHapus