Rabu, 22 Februari 2023

KH. Ridwan Abdullah : Bagian Konsumsi Muktamar, Pencipta Lambang NU



Beliau adalah KH. Ridwan Abdullah salah satu muasis NU yang fotonya tidak terlalu familiar, tapi hasil karyanya ada dimana - mana. Beliau bukan hanya sekedar pembuat lambang NU, tetapi ndalem beliau ditempati sebagai tempat berdirinya NU, hal ini jarang yang diketahui oleh kebanyakan orang.  Bahwa bertemunya para Kiai pada saat itu yang diminta  oleh Hadratussyaikh  untuk mengumpulkan  Kiai se Jawa dan Madura berkumpulnya di Ndalemnya KH Ridwan Abdulah. Dalam rangka acara Haul pertama KH. Kholil Bangkalan.  Setelah NU lahir, kalau dipahami bahwa sebenarnya NU itu lahir namanya dahulu, belum memiliki simbol. Setelah menjelang muktamar ke 2, yakni tahun 1927 diperiode awal NU berdiri, Muktamar NU dilaksanakan setengah tahun sekali. Dari setengah tahun menjadi satu tahunan, dari satu tahun menjadi tiga tahun dari tiga tahun menjadi lima tahun sampai sekarang. Ketika menjelang Muktamar NU  ke 2, beliau bertiga yakni  KH. Wahab Hasbullah, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi ditimbali Mbah Hasyim di Tebuireng. Dulu beliau bertiga ini dikenal dengan sebutan tiga serangkai yang sama - sama ketemu saat nyantri di Demangan pondoknya  Syaikhona Cholil Bangkalan.

 Pada saat mendirikan NU, usia beliau ini yang paling sepuh adalah KH. Ridwan berusia 40 tahun. KH. Wahab berusia 37 tahun , KH. Mas Alwi 35 tahun. Dan ketiganya pernah ngaji kepada Mbah Raden Asnawi Kudus.Beliau bertiga dipanggil oleh Mbah Hasyim dan Mbah Hasyim meminta untuk dibikinkan simbol jamiiyah ulama. Yang pertama kepada KH. Wahab, tetapi Mbah Wahab menjawab persoalan gambar menggambar, bliau tidak sanggup, kemudian kepada Kiai Mas Alwi, pun juga tidak sanggup, akhirnya kepada Kiai Ridwan, akhirnya Kiai Ridwan berkenan, sebab apa yang diperintahkan oleh Mbah Hasyim kepada beliau tidak pernah ditolak.  Kemudian Mbah Hasyim memberikan syarat kepada Kiai Ridwan tatkala akan membuat sibol dari NU, pertama tidak diperkenankan mencontoh gambar yang sudah ada. Kedua, harus Haibah. Dengan kedua syarat inilah, yang menjadikan Kiai Ridwan berusaha keras yang kemudian dengan cara istikharah. Apa yang dimaksud haibah menurut Mbah Hasyim? Yang dikehendaki dengan haibah adalah simbol yang selamanya tidak lekang dimakan zaman, dan tidak membosankan. Itulah permintaan Mbah Hasyim.

Setelah pulang dari Tebuireng, kamar KH. Ridwan tidak boleh dimasuki orang kecuali beliau sendiri. Menurut penuturan cucu beliau, kalau pagi putra kiai ridwan selalu menyuguhkan kopi dan masuk ke dalam ruangan kamar Kiai Ridwan tersebut, dan didalam kamar penuh dengan sktesa gambar berkeleleran dan menumpuk karena saking banyaknya sktesa yang digambar oleh KH. Ridwan. Bahkan hingga asbak rokok penuh dengan putung rokok. Akhirnya beliau merasa buntu karena semakin lama semakin mendekat waktu pelaksanaan muktamar yang dilaksanakan kurang dari 20 hari lagi. Bahkan hingga Ketua panitia Muktamar KH. Wahab bingung karena semakin dekat dengan muktamar simbol yang diharapkan belum jadi. Dalam pelaksanaan Mukatamar ke - 2 ini, Kiai Wahab sebagai ketua dan Kiai Ridwan sebagai wakil bidang konsumisi.  Dan ditengah keputus asaan ini lah  beliau shalat istikharah munajat kepada Allah minta petunjuk. 

Sehabis shalat istikharah di tengah – tengah wiridan  itulah tasbih Kiai Ridwan yang digunakan wiridan istikharah ini masih muter di tangan beliau. Kemudian ditengah wiridan beliau ini “keseliut” terlelap. Didalam terlelap itulah beliau melihat dilangit ada bumi dikelilingi bintang sembilan yang warna bintang tersebut warna kuning keemasan. Yang paling atas ini, besar. Terbangun dari terlelap, Kiai Ridwan langsung mengambil kertas dan kembali menggambar kedalam kertas dari isyarah hasil istikharah. Kemudian ditaruh kertas gambar tadi dan beliau melanjutkan wiridan dan menyelesaikan wiridannya. Dan bakda shubuh, beliau kemudian menggambar ulang “isyarah” simbol dengan secara sempurna diatas kertas.  Kemudian diserahkan gambar dari kertas tersebut kepada KH. Wahab di Kertopaten kemudian menyerahkan kepada Mbah Hasyim karena perimntaan simbol NU ini adalah permintaan beliau sendiri. Setelah itu, simbol diserahkan kepada Mbah Hasyim oleh Kiai Ridwan di Tebuireng. 

Setelah diserahkan kepada Mbah Hasyim, kemudian beliau bertanya” Kiai Ridwan, apakah benar ini murni gambaranmu sendiri’?” tanya Mbah Hasyim. ”Sanes Mbah Yai, niku Hasil Istikarah kulo, “jawab Kiai Ridwan”.  Ini adalah bentuk ketawadhuaan Kiai Ridwan kepada Mbah Hasyim Asy’ari. Kemudian Mbah Hasyim menyetujui simbol yang digambar oleh Kiai Ridwan, dan Mbah Hasyim meminta tolong kepada Kiai Ridwan untuk mengkonsultasikan gambar ini kepada Kiai Nawawi Sidogiri. “Sampaikan salam saya kepada Kiai Nawawi, bahwa saya sudah setuju dengan simbol dalam gambar ini sebagai simbol dari NU.” Pesan Mbah Hasyim kepada Kiai Ridwan”. Kemudian Kiai Wahab dan Kiai Ridwan menuju Sidogiri dan menceritakan terkait dengan proses pembuatan dari simbol NU tersebut.  Dan Kiai Nawawi berpesan kepada Kiai Wahab dan Kiai Ridwan terkait dengan simbol yang dibuatnya. Kemudian Kiai Nawawi berpesan “ saya titiip, agar ayat ini “wa’tashimu bihablillah dst” agar bisa dibikin gambar berupa sesuatu, saya pasrah ke sampean” ujar Kiai Nawawi. Kemudian Kiai Ridwan dan Kiai Wahab kembali dari Sidogiri dan pulang untuk menyelesaikan simbol serta titipan yang menjadi permintaan Kiai Nawawi tersebut. 


Selanjutya Kiai Ridwan menemukan gambaran yang menjadi ayat yang dipesankan Kiai Nawawi, dan dibuatlah simbol tampar / tali yang talinya bukan tali mati tetapi tali simpul dibawahnya. Dan Selesai. Begitu selesai jiwa kesenian beliau dengan menuliskan tuisan Nahdhatul Ulama yang huruf dhodnya melingkar bumi.  Akhirnya simbol yang dibuat oleh Kiai Ridwan selesai juga dijahit dan dibordir oleh tangan beliau, sebab ternyata Kiai Ridwan juga selain sebagai seorang yang gemar menggambar juga kerjaannya menjahit. Sehingga simbol NU selesai kurang dua hari sebelum pelaksanaan Muktamar. Kemudian ditunjukkanlah kepada Mbah Hasyim dan kemudian Mbah Hasyim berdoa, dan mengatakan bahwa NU akan senantiasa bermanfaat hingga kiamat di Indonesia ini.

Kemudian Gubernur belanda yang berdomisili di Surabaya sebagai wakil pemrintahan yang ada di Surabaya untuk meresmikan simbol NU, tetapi Gurbernur ini menanyakan terkait makna atas simbol – simbol pada logo NU. Kemudian KH. Ridwan yang kala itu, sedang didapur karena sebagai w
akil ketua bidang konsumsi diutus KH. Hasyim Asy’ari untuk naik kepodium menjelaskan terkait makna logo NU. Akhirnya dengan berbekal Jas yang dipinjami oleh KH. Mas Alwi dan Sorban dai Kiai Wahab, KH Ridwan naik podium dan menjelaskan satu per satu makna logo itu. Sebab, Gubernur tadi itu khawtir ada simbol yang mengindikasikan simbol perlawanan terhadap Belanda. Saat itu notulen yang menjadi juru tulis penjelasan lambang adalah KH. Toha Solo dan Kiai Raden Asnawi Kudus.

 

Disarikan oleh Ari Setiawan dari cerita cucu KH. Ridwan Abdullah yakni KH. Muhammad Sholahudin Azmi (Cucu KH. Ridwan Abdullah) saat Tasyakuran 1 Abad Nahdlatul Ulama di Banyuwangi.

       

2 komentar: