Selasa, 15 Maret 2022

BELAJAR KEPADA KH. HASYIM MUZADI : Meneladani Proses Kaderisasi Kiai Hasyim Muzadi


Nyantri di Gontor

KH. Hasyim Muzadi, ialah merupakan figur ulama yang langka. Dalam perjalanan biografinya, ia tak hanya menekuni ilmu keagamaan melainkan juga mempraktikkan ilmu tersebut dalam berorganisasi, berbangsa dan beragama. Kiai Hasyim adalah alumni Pondok Modern Gontor era 1956 hingga tamat di pondok tersebut tahun1962. Dalam perjalanan keilmuannya di pesantren, kiai hasyim tercatat belajar di pesantren senori Tuban, dan pesantren Lasem Jawa Tengah.

Kiai Hasyim nyantri di Gontor pada usia 12 tahun, usia yang masih tergolong muda dalam menuntut ilmu lepas dari orang tua. Sebelum masul ke gontor, Hasyim muda pernah mengenyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan. Karena saat pendaftaran ke pondok gontor,usia Hasyim muda belum mencukupi umur, akhirnya di sekolahkanlah di sekolah yang dekat di kota,  kemudian orang tuanya menitipkan kepada kakaknya KH.Muchit Muzadi yang kebetulan menjadi DPD kabupaten Tuban. Mengeyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan tak lama. Hanya 1,5 tahun saja karena setelah itu langsung mendaftar lagi di pondok gontor.

Kiai Hasyim adalah kategori santri yang cerdas di gontor. Pelajaran - pelajaran di pondok itu hampir semua di kuasai olehnya. Sehingga, Hasyim muda ini lebih keliatan banyak tidur dan banyak makannya. Kebiasaan sering tidur inilah yang menjadikan teman -temannya  justru terheran-heran, karena jarang keliatan belajar, tetapi bisa memiliki hasil ujian yang memuaskan. Walaupun terkenal sering tidur, Hasyim ini adalah santri berprestasi dan bisa lulus tepat waktu dan menjadi santri terbaik di Gontor.

Aktifis Mahasiswa
Pasca lulusnya Hasyim  di Pondok Gontor, kiai hasyim hijrah ke malang untuk kuliah di sekolah tinggi agama islam di daerah malang yang kelak kemudian menjadi UIN Maliki Malang. Dalam perjalanan akademisnya, sebutan aktifis celaket 10 tak dapat di pisahkan dari sosok Hasyim Muzadi, kalau membicarakan Hasyim Muzadi tak lengkap kalau tak juga menyertakan celaket 10. Ia mengibaratkan bahwa celaket 10 adalah tonggak awal perubahan dirinya berkhidmah di NU. Membicarakan celaket 10 adalah membicarakan awal mula sosok hasyim menjadi aktifis mahasiswa. Celaket 10 adalah nama jalan yang mana basecamp dari para aktifis ini bersemayam. Menyusun misi akademis dan kaderisasi hingga mengasah mindset dilakukan di rumah kontarakan ini.

Sebelum menjadi aktifis mahasiswa, Hasyim muda sebelumnya telah menjadi pengurus Ansor di desanya,sehingga bibit-bibit organisatoris dari seorang Hasyim Muzadi telah terlihat tidak hanya saat ikut organisasi di Ansor, pun juga telah tampak saat menjadi santri gontor. Dalam pengembaraan keilmuannya di malang, Kiai Hasyim meniti karier dalam organisasi adalah di PMII (pergerakan mahasiswa islam indonesia) cabang malang, hasyim muda adalah sosok mahasiswa yang berpengaruh dalam organisasi ini, sehingga menjadi tokoh kunci  PMII malang pada era 60an.

Sebagai seorang organisatoris saat menjadi mahasiswa, ada Hasyim ini telah menjadi saksis sejarah dalam pergulatan politik dalam bangsa indonesia yakni orde lama, orde baru hingga di reformasi, ketiga sejarah bangsa ini telah di lampauinya saat menjadi seorang aktifis baik di tingkat mahasiswa hingga di organisasi ansor.

Ber-Ansor

Aktifitas Kiai Hasyim saat di malang tak terlepas dari kesibukannya dalam organisasi. Ia adalah organisatoris yang mana hampir seluruh jiwa dan hidupnya di abdikan pada organisasi. Termasuk saat paripurna dalam menjadi aktifis mahasiswa dan di PMII, kiai hasyim pun bergabung kembali dengan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdhatul Ulama dan menjadi organisasi pertama yang diikutinya,saat sebelum menjadi mahasiswa. Saat setelah bergabung pasca selesai kuliah, Ia aktif di gerakan pemuda ansor bululawang malang.

Bekal pengalaman dan wawasan dari PMII inilah menjadikan Kiai Hasyim menjadi aktifis yang terbilang moncer dan populer di kalangan-kalangan yang lain selingkup ansor. Sehingga menjadikan karirnya di organisasi ini cukup cepat menjadikan Kiai Hasyim ini seorang pemimpin. Tentu suka duka, tantangan dan hambatan mengiringi langkahnya dalam memimpin ansor, tetapi hal itu di sikapi oleh Kyai Hasyim sebagai bumbu-bumbu dalam beroganisasi. Pada kepemmpinannya dalam ansor banyak terobosan yang di lakukan, sehingga ansor mengalami kemajuan yang pesat tidak hanya di area malang saja, tetapi juga di luar malang.

Di samping menjadi aktifis di ansor, kiai hasyim juga sering menerima undangan untuk ceramah agama, menjadi mubaligh yang berceramah dari panggung ke panggung yang lain, dari desa ke desa yang lain. Karena background organisasi inilah, jiwa mental dan pemikirannya melampaui teman seusianya. Berfikir kritis terhadap isu-isu yang beredar pun salah satu menjadi topik berceramahnya. Kepiawaian dalam beretorika menjadi menarik saat diatas panggung. Mengkritik kebijakan pemerintah hingga situasi politik nasional saat orde baru adalah bagian dari isi ceramah. Tentu tak lepas dari pembahasan terkait agama.

Kapok menjadi DPR

Pasca menikah dengan seorang gadis bernama Mutammimah pada 8 april 1971 mereka kemudian dikaruniai 6 anak. Sejak itulah kehidupan seorang Hasyim Muzadi mulai disibukan dengan pembagian waktu antara untuk keluarga dengan ummat dan organisasi. Sebagai seorang aktifis dan juga juru dakwah, aktifitasnya mulai padat. Sebagian waktunya di gunakan untuk "ngopeni" umat berkeliling dari kampung ke kampung, hingga luar negeri pada kelaknya.

Ketika kiai hasyim menjadi anggota dewan, kehidupan keluarga selalu tertimpa ujian yang berat. Salah satu anaknya pernah bercerita bahwa ketika masih menjabat menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim ujian datang menghampiri keluarganya. Anak keduanya yang bernama Yuni Arafah mengalami kecelakaan dan kepalanya mengalami gegar otak, dokter memvonis bahwa anak ini tidak akan bisa sembuh. Yuni Arafah terjatuh dari motor ketika di bonceng oleh pamannya, sayangnya Yuni tidak memakai helm jadi ketika kecelakaan kepala bagian belakang mengalami pendarahan yang serius. Pilihannya hanya ada dua, antara gila ataupun mati. Atas izin Allah dan pertolongannya, akhirnya bisa sembuh.

Ujian berat kembali melanda, dalam waktu yang hampir berbarengan, anak ketiganya kiai Hasyim juga mengalami sakit yang parah, bahkan hingga hampir merenggut nyawanya kalau dalam penanganan terlambat. Hilman,anak ketiga kiai hasyim ini mengalami sakit difteri. Dan atas izin Allah juga akhirnya hilman tertangani tepat waktu dan akhirnya bisa sembuh.

Pun juga anak yang pertama bernama hakim, mengalami kecelakaan yang membuatnya tangan kirinya cacat seumur hidup. Hakim terjatuh saat berjalan dan tangan kirinya masuk ke gamping yang mendidih. Dari inilah ujian yang bertubi- tubi kemudian kiai hasyim menemui Kyai Anwar Pondok Annur Bululawang dengan maksud memintai pendapat terkait kehidupannya saat menjadi anggota dewan yang selalu tertimpa ujian yang teramat berat. Oleh kiai kharismatik tersebut kiai hasyim diminta untuk memberikan berapapun jumlah uang yang dimiliki dari hasil menjadi anggota DPRD kepada seorang pengemis yang datang kepadanya di rumah. Dari situlah kiai hasyim berpesan kepada putra-putrinya agar kelak jangan menjadi anggota dewan. Sebab belajar dari banyaknya ujian-ujian dari Allah yang diberikan kepada keluarganya.

Anak orang biasa Memimpin NU

Saya ini orang biasa dan anaknya orang biasa. Ayah saya bukan kiai, saya ini jadi Kiai karena orang - orang terlanjur demikian. Saya merasa belum pantas jadi kiai. Itulah penggalan kalimat dari Kiai Hasyim Muzadi dalam buku biografinya. Yang menganggap panggilan Kiainya adalah salah satu keterlanjuran dari orang atas dirinya.

Nahdhatul Ulama sejak dilahirkan pada tahun 1926 tak habis-habisnya melahirkan tokoh - tokoh dan pemimpir besar. Tak hanya sekaliber nasional tetapi hingga kancah internasional. Hal ini terbukti juga bahwa dalam setiap momen apapun, nilai - nilai kebangsaan, toleransi, keberagaman selalu di gaungkan untuk kesatuan dan persatuan Indonesia. Salah satu tokoh yang muncul ini adalah KH.Hasyim Muzadi. Ia adalah Ketua umum PBNU  hasil muktamar NU ke 30 di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2000, yang kala itu masih menjadi ketua PWNU Jawa Timur di periode keduanya. Ia menggantikan KH. Abdurahman Wahid yang memimpin NU selama tiga periode dimulai dari 1984 hingga 1999. Muktamar inilah menjadi momentum dimana menjadi ajang high level Kiai Hasyim di kancah nasional. Saat itu kiai hasyim adalah sosok ketua nu yang masih mengemban amanah di wilayah. Namun klia memiliki kompetensi dan  kelebihan yang tak dimiliki tokoh - tokoh NU lainnya. Yakni rekam jejaknya di organisasi bisa dibilang komplit dimana tingkatan kaderisasi yang di lalui, dimulai dari bawah. Ini yang penting untuk di ikuti oleh generasi sekarang.

Pada muktamar NU ke 32 di Makassar, tahun 2010 kiai hasyim resmi meninggalkan jabatan sabagai ketum PBNU sesuai aturan yang ada pada AD/ART Organisasi. Setelah paripurna di kepengurusan PBNU kiai hasyim memprakarsai International Conferense For Islamic Scholars (ICIS), melalui ICIS NU yang di wakili oleh Kiai Hasyim mengampanyekan konsep islam rahmatan lil 'alamin. Melalui ICIS ia mentransfer pemikiran NU ke Mancanegara. Tak hanya itu Kiai Hasyim emmbawa NU sebagai organisasi yang lebih populer dikancah internasional. Melalui ICIS pula ia menggerakan ulama lintas madzhab dari berbagai negara. Organisasi ICIS ini atas prakarsa Kiai Hasyim Muzadi di dirikan pada tahun 24 Februari 2004 yang kemudian ditandatangi oleh presiden Republik Indonesia, yakni Megawati Soekarno Putri.

Jejak langkah dan teladan dari seorang anak kampung yang bisa go internasional ini lah yang seyogyanya menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang. Konsep berproses tanpa henti adalah tauladan dari seorang pendiri pesantren Al Hikam. Kiai Hasyim Muzadi. Jangan minder bukan bagian dari golongan keturunan garis kiai, darah biru. Tetapi bagaimana cara berproses tanpa henti sesuai jenjang yang ada. Kiai Hasyim mengajarkan itu, dimana ketekunan dalam berproses akan menghasilkan hasil yang baik pula. Pengalaman dapat dicari dengan ikut dalam proses kaderisasi. Kiai Hasyim Muzadi representasi dari tokoh-tokoh NU yang hebat dan tob. Pemikiran - pemikiranya menerobos sekat-sekat kejumudan kultural dan relevan dari zaman - zaman ke zaman.
Khususon kepada KH.Hazim Muzadi Al Fatehah.

 

Ari Setiawan ( Alumni Pesantren Tebuireng Jombang)



Jumat, 04 Maret 2022

"Jalan Sunyi Kiai Idris Kamali : Kiai Besar Di Balik Layar"

    Kiai pencetak ulama ini lebih suka berada di belakang layar. Apa tanda kecintaannya kepada sang istri?  Mengapa pula ia meninggalkan Tebuireng? Dibanding orang-orang yang pernah menjadi anak didiknya, Kiai Idris Kamali pastilah kalah masyhur. Sebutlah,  misalnya, K.H. Tholhah Hasan (mantan Menteri Agama dan pendiri Universitas Islam Malang atau Unisma, dan Prof. K.H. Ali Musthafa Ya’qub (imam besar Masjid Istiqlal Jakarta dan pendiri Pesantren Darus Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan). 

Meski ulama besar ini telah 20 tahun  mengajar kitab kepada para santri dan mengkader sejumlah santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, nama Kiai Idris tidak cukup menasional dan menjadi salah satu ikon Tebiureng

Padahal dia adalah menantu K.H. Hasyim Asy’ari yang  telah mengkader sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh ulama di tingkat nasional. Kiai Idris memang lebih suka memerankan dirinya sebagai tokoh di balik layar kemasyhuran Tebuireng pasca-Hadratus Syekh.

Idris Kamali  lahir di Mekah sekitar tahun 1887 sebagai anak pertama dari  pasangan K.H. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dan Nyai Saudah. Waktu itu ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at  asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Ia satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Sekitar tahun 1908 Idris Kamali  dan keluarganya pulang ke Cirebon.  Di Pesantren Idris digembleng sendiri oleh ayahnya. Setelah itu mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah, di bawah bimbingan K.H. Irfan Musa (wafat 1931).

Saat itu Kiai Idris sudah menunjukkan tanda-tanda dirinya sebagai orang alim. “Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yang juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, Kiai Idris kemudian meneruskan  ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke K.H. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama.

Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab-kitab dasar fiqih seperti  Al-Ghayah Wat-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya.

Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau ia  dipercaya sebagai asisten atau badal  K.H. Hasyim Asy’ari yang membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Tidak lama kemudian Kiai Idris dijodohkan dengan putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di paruh akhir tahun 1920-an. Putri keempat pasangan K.H. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung K.H. Abdul Wahid Hasyim.

Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu-satunya, Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). Kiai Idris dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, Kiai Idris tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yang waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris Kyai Idris dipercaya oleh K.H. Abdul Kholiq Hasyim   untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra K.H. Hasyim Asy’ari itu meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yang dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai.

Kelas Musyawarah


Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama  mumpuni, seiring dengan diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah.

Namun demikian, ia menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali “kelas musyawarah” yang dulu diselenggarakan Hadratus Syekh.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan lebih mumpuni, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH Kholiq Hasyim.

Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka ia memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri  pilihan yang didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan menjadi ulama. Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu ia membuat persyaratan yang cukup ketat.

Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun;
kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris;
ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah; keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa;
kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar,
keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu  bersama beliau di masjid,
dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai.

Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yang terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ada banyak santri beliau yang kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Di antara mereka adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), K.H. Abdul Hayyie Muhammad Na’im, K.H. Ma’ruf Amin, K.H. Tholhah Hasan, K.H. Habib Usman Yahya Cirebon, K.H. Ali Musthafa Ya’qub, dan Kiai Muhid Kebon Gadang. Dan masing-masing santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin, misalnya,  lebih mewarisi keilmuan fikih Kiai Idris. Dan memang beliau digembleng oleh Kiai Idris untuk ahli dalam itu fikih. Sejumlah kitab-kitab fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna  dibaca Kiai Ma’ruf di hadapan gurunya itu.

Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran Kiai Idris dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dengan pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari  dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit Kiai Idris sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, K.H. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden!) yang berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri-santrinya.

Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada “tamu agung” datang dan hendak ia  temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yang sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam K.H. Hasyim Asy’ari.

Kiai Idris gemar  membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab-kitab tersebut kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadit rujukan dalam kegiatan-kegiatan bahtsul masa’il di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia juga punya hobi  beternak sapi dan kambing hingga memenuhi lingkungan pondok dan tidak jarang mengganggu kegiatan belajar-mengajar sebagian santri.
Ini ia lakukan karena suka berbagi rezeki,  termasuk kepada para santri.

Terutama untuk para santri yang kekurangan uang atau yang kiriman uang dari orang tuanya sering terlambat. Kiai Idris cukup menunjukkan santri bersangkutan ke tumpukan kitab dan membuka salah satu kitab. Santri itu kemudian menemukan uang di antara lembaran-lembaran kitab itu sesuai dengan jumlah yang diminta.

Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indonesia dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, ia  hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukim di Mekah, ia sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam  Syafi’i di Kairo.

Tahun 1981 Idris kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilul-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yang terkenal itu.

Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.


*Diolah dari berbagai sumber 

Rabu, 02 Maret 2022

Catatan Leadership Camp. 3.0 MPI UNHASY


Peserta dan Panitia Leadership Camp 3.0 MPI UNHASY
Pacet 24-25 februari 2022

Berbicara leadership, tentu berbicara tentang apa itu pemimpin dan apa itu kepemimpinan. Kedua kata ini saling memiliki keterkaitan, tapi juga berbeda dalam arti dan substansi. Mengambil pendapat dari Gary Yukl terkait dengan kepemimpinan, ialah perilaku individu yang mengarahkan kepada aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama, dan kemudian di implementasikan ketika seseorang tersebut melakukan mobilisasi sumber daya institusional, politis, psikologis, dan sumber - sumber lainya untuk melibatkan dan memotivasi pengikutnya. Sedangkan pemimpin adalah lebih kepada personal seseorang dalam memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan, memengaruhi sekelompok manusia sebagai circle  nya guna menunjukkan kinerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi, hal ini adalah pendapat dari Hersey dan juga Blanchard dalam buku pemimpin dan kepemimpinan.

Sesuai dengan tema kegiatan, yakni Leadership Camp 3.0  yang dilakukan oleh Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang yang dilaksanakan di Villa Pak Guru, Pacet Mojokerto pada 24-25 Februari tempo hari ini. Memberikan beberapa pengalaman, pelajaran serta catatan yang tentunya sebagai langkah untuk memacu kembali semangat berorganisasi dalam kapasistasnya berproses sebagai mahasiswa. Oleh karenanya, prodi mewajibkan bagi mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ada point - point yang tentunya ini dapat bermanfaat bagi peserta maupun panitia.

Berbagai point yang bersifat manfaat, ialah diantaranya memberikan kesempatan bagi panitia untuk mencoba mengadakan event orgnizer, bagaimana cara mengatur, menghendle, mengonsep, serta mengelola scedhule. Bahkan hingga tahapan budgeting, dana darimana, bagaimana kalau dananya tidak cukup, dan lain sebagainya, kesemuanya ini adalah bagian daripada proses implementasi dari beberapa pokok materi - materi dalam perkuliahan.

Fungsi manajemen yang dikonsepkan oleh GR. Terry terkait dengan sebutan masyhurnya POAC antara lain Plannning, Organizing, Actuating hingga Controling dalam acara ini, bisa menjadi ukur agar dapat diukur seberapa berjalan, seberapa besar penangkapan dari materi yang diberikan dibangku kuliah. Setidaknya acara ini menjadi ajang mengaplikasikan teori - teori yang didapatkan dikelas online perkuliahan yang jelas membosankan selama 2 tahun ini.

Sedangkan teruntuk peserta, ini adalah kesempatan untuk menunjukan bahwa apa yang dipilih tatkala masuk perkuliahan adalah hal yang tidak salah. Sehingga tidak ada penyesalan dipertengahan jalan, semasa semester tengah hingga semestet tua diperkuliahan.  Juga sebagai kesempatan bertemu secara nyata kepada temen- temen yang lain yang sejak awal kuliah hanya menatap layar zoomeeting, googlemeet dll. Sehingga internalisasi atau penggabungan sikap hingga standart tingkah laku dan mindset terhadap prodi MPI ini bisa memiliki kesamaan rasa untuk sama-sama mewujudkan asa dan cita - cita dalam kegiatan yang nyata.

Melihat kegiatan yang full scedhule, kami selalu memantau perkembangan kegiatan. Antusias, kesemangatan dan keterlibatan peserta yang luar biasa adalah salah satu bekal yang cukup untuk menguatkan kembali solidaritas prodi. Tentu tak tertinggal adalah nilai - nilai intelektualitas yang membara saat sesi FGD (Fokus Groub Diskusi) pada saat stressing.  Materi yang dibahas ialah mengenai analisis organisasi dan loyalitasnya, hingga membedah pandangan mahasiswa terkait perlukah adanya konflik ditubuh organisasi dan bagaimana cara mengatasinya agar konflik, agar menjadikan organisasi tidak terjadi stagnasi.  Hal yang dipaparkan cukup membuat kami bangga, bahwa banyak bibit unggul para calon aktivis organisasi di kampus adalah jebolan leadership camp ini. Selain itu, dalam rangka untuk bisa saling mengetahui gejolak jiwa saat memilih prodi MPI, beberapa alumni yang hadir memiliki inisiatif untuk berdialog secara hati ke hati terkait dengan aktualisasi diri,  doktrinasi dan internalisasi nilai - nilai Ke-MPI-an. Sehingga bisa benar - benar merasuk secara mendalam di jiwa peserta.Tentu semua tak akan lepas dari peran panitia yang luar biasa, dalam hendling problem kegiatan ini. Baik panitia kegiatan, maupun penanggung jawab kegiatan yakni organisasi HMP.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan, baik itu materi yang disampaikan dosen, maupun dari senior-seniornya, dapat dipahami bahwa hal inilah yang seyogyanya untuk terus dipertahankan sampai kapanpun. Dimana romantisme yang muda menghormati dan yang tua menyayangi, membimbing dan  mengarahkan agar terbentuk ikatan secara batin dalam bingkai sebuah program studi kampus. Sebab berproses bisa dimana saja. Tidak ada batasan dalam berproses. Atau bahkan sekat-sekat berorganisasi untuk berorganisasipun. Mau mahasiswa ikut PMII, HMI, IPNU, KMNU atau apa saja, jika masih dalam satu naungan keprodian, semua adalah keluarga. Walaupun berlatar belakang yang berbeda-beda justru hal ini menjadikan warna.

Tidak mengurangi kecintaan terhadap prodi, demi membangun kegiatan yang lebih solid, tertata dan lebih mengarah pada nilai substansi, tentu materi leadership camp perlu dirumuskan dan sebagai materi yang dipatenkan agar bisa digunakan berkesinambungan untuk kedepannya. Materi yang sekiranya sudah ada dalam mata kuliah di SKS, tentu tidak perlu di masukkan materi dalam leadership camp. Justru hal ini seolah sebagai pemborosan materi dan tentu juga waktu hingga tenaga. Materi yang seharusnya diberikan dalam leadership camp ini adalah materi tentang substansi, tidak hanya retorika atau materi yang sudah tertata diperkuliahan saja, yang justru menjadikan malah terkesan membosankan. Tetapi materi yang out of the box yang menjadi penunjang daripada keprodian.  Peserta seyogyanya lebih diaktualisasikan nilai intelektualitasnya tidak hanya terkungkung materi yang gitu - gitu saja. Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang membikin materi? Tentu stakeholders yang ada semua memiliki kontribusi dalam penentuan materi, bahkan hingga alumni bisa untuk dilibatkan. Sehingga ada peran dari semua pihak dalam penentuanya. Mungkin ini sepele, tapi sesungguhnya kegiatan seperti leadership camp beginilah sesungguhnya yang mampu ekplorasi diri, bahkan mengesankan dan menjadikan wawasan dan berguna dikemudian hari. 

Ari Setiawan (Alumni ke - 2 Prodi MPI UNHASY, dan Mahasiswa semester akhir Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto)


Sudah Malas Membaca, Paling Cerewet Di Medsos Pula

Awan Albunny

Netizen +62 adalah netizen bar - bar se-jagat maya. Betapa tidak, kita sering jumpai tindakan kebrutalan manusia Indonesia di jagat maya yang bahkan bikin gerah negara - negara tetangga. Banyak dilihat di postingan instagram, twitter, facebook dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan betapa "ramah"nya orang Indonesia dalam berselancar di dunia maya. Pasukan netizen akan segera mengunjungi akun yang sedang kontroversial atau sedang terlibat persoalan. Silahkan saja cek di berbagai sosmed, dijamin pasti netizen Indo menguasai.
Beberapa fakta menunjukan kalau orang-orang Indonesia gemar dalam mengomentari sesuatu yang belum tentu orang tersebut mengetahuinya. Secara tiba - tiba berkomentar sebelum melakukan kroscek atau membaca beritanya de
ngan lengkap. Daya baca orang kita lemah. 
        Data yang disampaikan oleh UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi di dunia. Artinya minat baca sangat minim sekali. Bahkan UNESCO menyebutkan kadar literasi sangat memperihatinkan, bayangkan indeksnya hanya mencapai 0,001%. Ini disamakan dengan dari 1,000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. Memperihatinkan bukan?
Hal yang serupa juga disampaikan oleh riset yang dilakukan oleh Worlds Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016. Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat literasi membaca. Ini angkanya dibawah Thailand yang di posisi 59. Padahal kalau kita ketahui soal infastruktur untuk penunjang dan pendukung literasi membaca Indonesia unggul dari negara - negara di Eropa.

Balada Gadget : Penggunaan Smartphoe yang Kurang Smart

        Indonesia adalah negara yang paling menjamur soal kepemilikan gadget. Jual beli gadget yang begitu terjangkau bagi masyarakat mudah sekali terbeli. Sehingga angkanya tinggi tingkat kepemilikan gadgetnya di dunia. Berdasarkan analisis dari kominfo bahwa kurang lebih 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget. Dalam peringkat, Indonesia tertinggi ke lima negara - negara di dunia. Ini penelitian tahun 2016, sekarang sudah tahun 2022 angka ini jelas meningkat 10-20% bahkan bisa lebih. Karena lembaga riset digital emarketer memprediksi lebih dari 100 juta jiwa manusia Indonesia memiliki dan dapat mengoperasikan gadget dalam kesehariannya. Kecenderungan besar terhadap gadget yang begitu tinggi, sehingga  Indonesia menduduki pengguna smartphone ke-4 dunia, setelah China, India dan Amerika.
        Gadget dan segala ruang isinya memang memudahkan sekali bagi kita untuk berselancar dan mendapatkan informasi yang begitu cepat tentang berbagai informasi dibelahan dunia. Informasi hoax atau valid sulit membedakan, dimana area maya adalah area liar yang kebenaran dan ketidakbenaran sulit dibedakan kalau tidak memiliki wawasan luas dan sumber - sumber informasi yang kredibel kita mencari sumber. Area dunia maya ibaratkan adalah hutan belantara, yang dimana kalau tak memiliki senjata, amunisi, hingga peta, kita akan tersesat dalam rimbun dan lebatnya semak belukar. Literasi adalah amunisi bagi ia yang siap untuk menghadapi liarnya arus informasi. Kebutaan informasi dan linglungnya dinamika berita bisa menyebabkan kita garang terhadap hal yang baru terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan naluri kita. Provokasi mudah ditebar dan diterima bagi ia yang minim literasi dan menutup diri dari nalar logika.
        Kominfo mengatakan bahwa saat ini adalah Era Post Truth yakni memiliki definisi berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan dimana fakta - fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Di Era Post Truth, orang tak lagi mencari kebenaran dan fakta, memainkan afirmasi dan konfirmasi, dukungan atas hal yang ia yakini. Hal yang memang menjadi perhatian kepada kita semua, sebab dengan begitu kebenaran sudah mulai dikesampingkan. Yang terpenting tujuan yang diinginkan bisa tercapai.
        Merebaknya media yang kredibilitasnya dipertanyakan lebih mendominasi postingan-postinganya, ketimbang dengan media yang terpercaya dan terjamin kevalidanya. Hal ini sangat memperihatinkan. Karena dengan begitu, mudahnya saling kecam dan menyulut emosi bagi netizen berawal dari salahnya memilih media dalam membacanya. Fake news  yang menyebarkan terpolarisasi semakin menjadi - jadi. Bahkan media yang besar berkredibel pun sudah tak dipercayai dan dinikmati lagi oleh sebagian besar masyarakat.

Bagaimana Solusinya?

        Cara yang terbaik adalah melek literasi bagi segenap anak bangsa. Selain daripada langkah-langkah tersebut, tentu yang memiliki otoritas dalam bidang informasi ini adalah Kominfo harus menertibkan akun, web, portal dan sosial media yang banyak menyebarkan informasi hoax untuk ditindak, setidaknya hak otoritasnya digunakan untuk membendung portal portal menyesatkan. Selain itu, media kredibel harus gencar menyebarkan informasi yang jelas dan mensosialisasikan saring sebelum sharing harus terus gencar disebarluaskan. Sehingga walaupun tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada dalam sosmed, setidaknya ikut Sudah dalam membendung dan memberikan virus untuk mengurangi "garang" dan "cerewetnya" netizen +62 di sosmed.