Cara yang terbaik adalah melek literasi bagi segenap anak bangsa. Selain daripada langkah-langkah tersebut, tentu yang memiliki otoritas dalam bidang informasi ini adalah Kominfo harus menertibkan akun, web, portal dan sosial media yang banyak menyebarkan informasi hoax untuk ditindak, setidaknya hak otoritasnya digunakan untuk membendung portal portal menyesatkan. Selain itu, media kredibel harus gencar menyebarkan informasi yang jelas dan mensosialisasikan saring sebelum sharing harus terus gencar disebarluaskan. Sehingga walaupun tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada dalam sosmed, setidaknya ikut Sudah dalam membendung dan memberikan virus untuk mengurangi "garang" dan "cerewetnya" netizen +62 di sosmed.
Akun ini untuk mempresentasikan segenap wacana, opini, dan hal-hal yang dianggap tabu dan direfleksikan dengan bahasa yang sederhana
Rabu, 02 Maret 2022
Sudah Malas Membaca, Paling Cerewet Di Medsos Pula
Netizen +62 adalah netizen bar - bar se-jagat maya. Betapa tidak, kita sering jumpai tindakan kebrutalan manusia Indonesia di jagat maya yang bahkan bikin gerah negara - negara tetangga. Banyak dilihat di postingan instagram, twitter, facebook dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan betapa "ramah"nya orang Indonesia dalam berselancar di dunia maya. Pasukan netizen akan segera mengunjungi akun yang sedang kontroversial atau sedang terlibat persoalan. Silahkan saja cek di berbagai sosmed, dijamin pasti netizen Indo menguasai.
Beberapa fakta menunjukan kalau orang-orang Indonesia gemar dalam mengomentari sesuatu yang belum tentu orang tersebut mengetahuinya. Secara tiba - tiba berkomentar sebelum melakukan kroscek atau membaca beritanya de
ngan lengkap. Daya baca orang kita lemah.
Data yang disampaikan oleh UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi di dunia. Artinya minat baca sangat minim sekali. Bahkan UNESCO menyebutkan kadar literasi sangat memperihatinkan, bayangkan indeksnya hanya mencapai 0,001%. Ini disamakan dengan dari 1,000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. Memperihatinkan bukan?
Hal yang serupa juga disampaikan oleh riset yang dilakukan oleh Worlds Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016. Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat literasi membaca. Ini angkanya dibawah Thailand yang di posisi 59. Padahal kalau kita ketahui soal infastruktur untuk penunjang dan pendukung literasi membaca Indonesia unggul dari negara - negara di Eropa.
Balada Gadget : Penggunaan Smartphoe yang Kurang Smart
Indonesia adalah negara yang paling menjamur soal kepemilikan gadget. Jual beli gadget yang begitu terjangkau bagi masyarakat mudah sekali terbeli. Sehingga angkanya tinggi tingkat kepemilikan gadgetnya di dunia. Berdasarkan analisis dari kominfo bahwa kurang lebih 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget. Dalam peringkat, Indonesia tertinggi ke lima negara - negara di dunia. Ini penelitian tahun 2016, sekarang sudah tahun 2022 angka ini jelas meningkat 10-20% bahkan bisa lebih. Karena lembaga riset digital emarketer memprediksi lebih dari 100 juta jiwa manusia Indonesia memiliki dan dapat mengoperasikan gadget dalam kesehariannya. Kecenderungan besar terhadap gadget yang begitu tinggi, sehingga Indonesia menduduki pengguna smartphone ke-4 dunia, setelah China, India dan Amerika.
Gadget dan segala ruang isinya memang memudahkan sekali bagi kita untuk berselancar dan mendapatkan informasi yang begitu cepat tentang berbagai informasi dibelahan dunia. Informasi hoax atau valid sulit membedakan, dimana area maya adalah area liar yang kebenaran dan ketidakbenaran sulit dibedakan kalau tidak memiliki wawasan luas dan sumber - sumber informasi yang kredibel kita mencari sumber. Area dunia maya ibaratkan adalah hutan belantara, yang dimana kalau tak memiliki senjata, amunisi, hingga peta, kita akan tersesat dalam rimbun dan lebatnya semak belukar. Literasi adalah amunisi bagi ia yang siap untuk menghadapi liarnya arus informasi. Kebutaan informasi dan linglungnya dinamika berita bisa menyebabkan kita garang terhadap hal yang baru terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan naluri kita. Provokasi mudah ditebar dan diterima bagi ia yang minim literasi dan menutup diri dari nalar logika.
Kominfo mengatakan bahwa saat ini adalah Era Post Truth yakni memiliki definisi berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan dimana fakta - fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Di Era Post Truth, orang tak lagi mencari kebenaran dan fakta, memainkan afirmasi dan konfirmasi, dukungan atas hal yang ia yakini. Hal yang memang menjadi perhatian kepada kita semua, sebab dengan begitu kebenaran sudah mulai dikesampingkan. Yang terpenting tujuan yang diinginkan bisa tercapai.
Merebaknya media yang kredibilitasnya dipertanyakan lebih mendominasi postingan-postinganya, ketimbang dengan media yang terpercaya dan terjamin kevalidanya. Hal ini sangat memperihatinkan. Karena dengan begitu, mudahnya saling kecam dan menyulut emosi bagi netizen berawal dari salahnya memilih media dalam membacanya. Fake news yang menyebarkan terpolarisasi semakin menjadi - jadi. Bahkan media yang besar berkredibel pun sudah tak dipercayai dan dinikmati lagi oleh sebagian besar masyarakat.
Bagaimana Solusinya?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar