KH. Raden Asnawi Kudus lahir pada tahun 1281 H atau dalam kalender Masehi pada tahun 1861 M di Damaran Kudus. Putra dari KH. Abdullah Husnin dan Nyai Sarbinah. KH. Abdullah ini adalah seorang pengusaha konveksi yang tergolong besar di kalangan pedagang di daerah Kudus. Dalam silsilahnya, KH. Raden Asnawi Kudus ini adalah keturunan ke 14 dari Sayyid Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) dan keturunan ke - 5 Simbah Kyai Mutamakkin kajen Pati, seorang ulama yang keramat se zaman dengan Sultan Agung Mataram. Raden Syamsi adalah nama asli sebelum beliau naik haji yang kemudian berganti menjadi Raden Haji Ilyas, pada haji pertama yang kemudian terkenal di Mekkah dan Saudi. Hingga pada haji ketiga kalinya, beliau mengganti nama menjadi Raden Asnawi. Beliau semasa hidupnya pernah menjadi pengajar di Masjidil haram diusia yangmuda yakni 25 tahun, dan memiliki 19 murid. Sedangkan kala itu ada Syaikh Khatib Al-Minangkabawi berusia 60 tahun memiliki 30an santri. KH. Raden Asnawi wafat pada 26 Desember 1959, dimakamkan di belakang Masjid Menara Kudus, satu komplek dengan makam Sunan Kudus.Kiai Raden Asnawi Kudus merupakan salah seorang pendiri Nahdhatul Ulama (NU) pada 1926. Bahkan jauh sebelumnya, Kiai Asnawi pernah menjadi Komisaris Sarikat Islam (SI) Cabang Mekkah. Kiai Asnawi dikenal sebagai seorang kiai da'i yang sering berceramah keliling dari suatu tempat ke tempat lainnya. Kiai Raden Asnawi, sebagaimana bisa dilihat dari namanya, memiliki garis keturunan aristokrat. Meskipun Kiai Raden Asnawi adalah putra dari seorang pedagang kain, namun kalau ditelisik secara genetika, nasabnya masih mempunyai jalur keturunan dengan Sunan Kudus atau Raden Ja'far Shodiq yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di tanah Kudus. Runtutan nasabnya adalah, Kiai Raden Asnawi bin Raden Abdullah Husnin binti Ayu Shofia binti R. Ayu Nganten Salamah bin Dipokusumo bin R. Dipoyudo bin R. Dipotaruno bin R. Pangeran Pedamaran bin Pangeran Pangaringan bin Panembahan Gemiring bin Raden Ja far Shodiq atau Sunan Kudus. Selain keturunan ulama legendaris asal Kudus, Kiai Raden Asnawi juga masih mempunyai jalur keturunan dengan KH. Ahmad Mutamakkin, tokoh legendaris asal Pati yang masyhur dengan kewaliannya. KH. Asnawi memeroleh pendidikan awalnya dari sang ayah, H. Abdullah Husnin, dan ibunya, R. Sarbinah. Setelah memperoleh pendidikan dasar, ia menuntut ilmu ke berbagai pesantren di Jawa, kemudian ke Mekkah. Di Mekkah, Kiai Asnawi menikah dengan janda Syaikh Nawawi al-Bantani, Nyai Hamdanah, yang kemudian dikaruniai 9 anak, namun hanya 3 yang hidup hingga dewasa. Mereka adalah H. Zuhri, Hj Azizah (Istri KH. Soleh Tayu) dan Alawiyah (istri H. Maskub Kudus).
Huru – Hara Anti Cina di Kudus
Disebutkan ketika terjadi huru-hara anti Cina di Kudus pada Oktober 1918, Kiai Asnawi termasuk tokoh agama yang ditangkap Pemerintah Hindia Belanda bersama teman-teman kiai lainnya, seperti KH. Ahmad Damaran, KH. Nurhadi, dan KH. Mufid Sunggingan. Kiai Asnawi dituduh sebagai tokoh penggerak kerusuhan itu. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Mula-mula, Kiai Asnawi dan kawan-kawan dipenjarakan di Kudus, kemudian dipindahkan ke Semarang. Yang menarik, karena yang dipenjarakan adalah kaum santri beserta kiainya, maka suasana penjara menjadi marak dengan kegiatan keagamaan. Di penjara, mereka mengadakan shalat jama'ah, pengajian, dan membaca Barzanji bersama-sama. Kiai Asnawi sendiri yang memimpin pengajian di penjara tersebut. Dia mengajarkan pula beberapa kitab, selain menggunakan waktu luangnya untuk menerjemahkan kitab al-Jurumiyah. Oleh karena itu, kepala penjara memperlakukan Kiai Asnawi dengan sangat hormat. Kiai Asnawi dikenal pula sebagai kiai yang memiliki beberapa karya tertulis yang sampai sekarang masih tersebar di masyarakat, di antaranya, buku Fashalatan (1954) yang merupakan tuntunan tata cara shalat dan menjadi rujukan para santri.
Pencetus Fashil Qoshir dalam Al-Fatihah dan Pentaskhih Kitab Fasholatan Jawa
Mbah KH. Raden Asnawi Kudus juga dalam kesehariannya memperhatikan sesuatu yang sangat detail misalnya dalam mengajari keluarga dan santrinya untuk tidak segera mengucapkan lafadz “Aamiin” setalah imam mengucapkan lafadz akhir dalam surah al – fatikhah, pada lafadz setelah waladhhollin, tapi harus ada fashil qoshir pemisah yang tidak lama dengan diiringi do’a robbi igfirli wa liwalidayya.
Salah satu karangan yang dinisbatkan kepada Mbah Asnawi kudus adalah kitab yang terkenal yakni Fasholatan Jawa. Kalau ditelusuri, sebenarnya itu bukanlah tulisan langsung Mbah Kiai Asnawi tetapi ditulis oleh Kiai Minan Zuhri, santri kinasihnya yang kemudian ditaskhihkan semuanya yang ditulis kepada Mbah Kiai Asnawi. Ternyata apa yang ada dalam kitab Fasholatan Jawa tersebut menjadi amaliyah keseharian Mbah Kiai Asnawi yang merujuk kepada tiga kitab, yakni Qurrotul Ain, Fatul Qorib dan Minhajuttolibin. Yang menarik dalam perihal lafadz ‘Usholi dan Talafudz binniyah qobla takbir Mbah Kiai Asnawi sengaja menampakkan bahwa itu adalah pendapat Imam Syarifudin Yahya An-Nawawi dalam kitabnya Minhajuttolibin, ini ditampakkan oleh beliau agar bisa dipahami oleh masyarakat secara luas.
Mbah Kiai Asnawi adalah seorang ulama yang juga seorang pejuang yang memiliki nasionalismenya tinggi, hal ini dibuktikan bahwa Mbah Yai Asnawi Kudus mengarang syair yang kemudian masyhur dikenal dengan Shalawat Asnawiyah. Dengan qoul diakhir shalawat menyebutkan lafadz“Aman Aman Aman Indnesia Raya Aman” .
Suatu ketika saat Mbah Asnawi didatangi oleh Van der Plas hampir sama dengan Snouck Huorgronje. Seorang orientalis dari Belanda yang menemui Mbah Kiai Asnawi yang kemudian diajak berdialog dengan menggunakan bahasa arab. Van der plas ini ingin menawari Mbah Asnawi Kudus untuk diangkat sebagai penghulu di Kudus, tetapi beliau menolak dengan halus dan mengatakan kepada Vander plas bahwa “Maqomnya Kiai ya tetap pada posisi Kiai jangan pindah habitat jadi politisi”.
Wafatnya KH. Asnawi
Kiai Asnawi adalah seorang organisatoris, dimana waktu yang dimiliki tidak pernah lepas dari kegiatannya untuk ta’lim wa ta’alum serta khidmah jami’yyah yang didirikannya bersama para Ulama yang lain. Dimana dalam setiap kegiatan Nahdlatul Ulama tidak pernah absen dari Muktamar NU yang pertama hingga Muktamar ke-22 yang kala itu diselenggarakan di Jakarta. Ketika menghadiri muktamar NU ke – 22 di Jakarta, Kiai Asnawi dijemput oleh KH. Mustain yang kemudian Kiai Asnawi memiliki rencana akan menginap di rumahnya adiknya KH. Mustain, tatkala dijemput Kiai Asnawi berkata kepada Kiai Musta’in “ Kiai Mustain, ini merupakan Muktamar NU terakhir kalinya saya dapat menghadirinya, mengingat kondisi dan keadaan badanku yang seperti ini. Kiai Mustain menjawab “ Kiai, kalaupun toh panjenengan tidak bisa hadir dalam muktamar, maka kami sangat mengharapkan do’anya.”
Tak selang lama dari acara Muktamar ke-22 yang diselenggarakan di Jakarta, tepatnya pada sabtu kliwon tanggal 25 Jumadil Akhir 1378 H, bertepatan dengan tanggal 26 Desember 1959 M pukul 03.00 dinihari, Kiai Raden Asnawi Kudus berpulang kerahmatullah dalam usia 98 tahun. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Umat kehilangan sosok panutan dalam berdakwah dan menghidupi jammiyah NU. (Awan Albunny)
