![]() |
| Makam KH. Hasyim Muzadi di Komplek Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok |
HAUL KE 4 KH. HASYIM MUZADI : Meneladani Proses Kaderisasi Kiai Hasyim Muzadi
Nyantri di Gontor
KH. Hasyim Muzadi, ialah merupakan figur ulama yang langka. Dalam perjalanan biografinya, ia tak hanya menekuni ilmu keagamaan melainkan juga mempraktikkan ilmu tersebut dalam berorganisasi, berbangsa dan beragama. Kiai Hasyim adalah alumni Pondok Modern Gontor era 1956 hingga tamat di pondok tersebut tahun1962. Dalam perjalanan keilmuannya di pesantren, kiai hasyim tercatat belajar di pesantren senori Tuban, dan pesantren Lasem Jawa Tengah.
Kiai Hasyim nyantri di Gontor pada usia 12 tahun, usia yang masih tergolong muda dalam menuntut ilmu lepas dari orang tua. Sebelum masul ke gontor, Hasyim muda pernah mengenyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan. Karena saat pendaftaran ke pondok gontor,usia Hasyim muda belum mencukupi umur, akhirnya di sekolahkanlah di sekolah yang dekat di kota, kemudian orang tuanya menitipkan kepada kakaknya KH.Muchit Muzadi yang kebetulan menjadi DPD kabupaten Tuban. Mengeyam pendidikan di SMP Negeri Bangilan tak lama. Hanya 1,5 tahun saja karena setelah itu langsung mendaftar lagi di pondok gontor.
Kiai Hasyim adalah kategori santri yang cerdas di gontor. Pelajaran - pelajaran di pondok itu hampir semua di kuasai olehnya. Sehingga, Hasyim muda ini lebih keliatan banyak tidur dan banyak makannya. Kebiasaan sering tidur inilah yang menjadikan teman -temannya justru terheran-heran, karena jarang keliatan belajar, tetapi bisa memiliki hasil ujian yang memuaskan. Walaupun terkenal sering tidur, Hasyim ini adalah santri berprestasi dan bisa lulus tepat waktu dan menjadi santri terbaik di Gontor.
Aktifis Mahasiswa
Pasca lulusnya Hasyim di Pondok Gontor, kiai hasyim hijrah ke malang
untuk kuliah di sekolah tinggi agama islam di daerah malang yang kelak
kemudian menjadi UIN Maliki Malang. Dalam perjalanan akademisnya,
sebutan aktifis celaket 10 tak dapat di pisahkan dari sosok Hasyim
Muzadi, kalau membicarakan Hasyim Muzadi tak lengkap kalau tak juga
menyertakan celaket 10. Ia mengibaratkan bahwa celaket 10 adalah tonggak
awal perubahan dirinya berkhidmah di NU. Membicarakan celaket 10 adalah
membicarakan awal mula sosok hasyim menjadi aktifis mahasiswa. Celaket
10 adalah nama jalan yang mana basecamp dari para aktifis ini
bersemayam. Menyusun misi akademis dan kaderisasi hingga mengasah
mindset dilakukan di rumah kontarakan ini.
Sebelum menjadi aktifis mahasiswa, Hasyim muda sebelumnya telah menjadi pengurus Ansor di desanya,sehingga bibit-bibit organisatoris dari seorang Hasyim Muzadi telah terlihat tidak hanya saat ikut organisasi di Ansor, pun juga telah tampak saat menjadi santri gontor. Dalam pengembaraan keilmuannya di malang, Kiai Hasyim meniti karier dalam organisasi adalah di PMII (pergerakan mahasiswa islam indonesia) cabang malang, hasyim muda adalah sosok mahasiswa yang berpengaruh dalam organisasi ini, sehingga menjadi tokoh kunci PMII malang pada era 60an.
Sebagai seorang organisatoris saat menjadi mahasiswa, ada Hasyim ini telah menjadi saksis sejarah dalam pergulatan politik dalam bangsa indonesia yakni orde lama, orde baru hingga di reformasi, ketiga sejarah bangsa ini telah di lampauinya saat menjadi seorang aktifis baik di tingkat mahasiswa hingga di organisasi ansor.
Beransor
Aktifitas Kiai Hasyim saat di malang tak terlepas dari kesibukannya dalam organisasi. Ia adalah organisatoris yang mana hampir seluruh jiwa dan hidupnya di abdikan pada organisasi. Termasuk saat paripurna dalam menjadi aktifis mahasiswa dan di PMII, kiai hasyim pun bergabung kembali dengan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdhatul Ulama dan menjadi organisasi pertama yang diikutinya,saat sebelum menjadi mahasiswa. Saat setelah bergabung pasca selesai kuliah, Ia aktif di gerakan pemuda ansor bululawang malang.
Bekal pengalaman dan wawasan dari PMII inilah menjadikan Kiai Hasyim menjadi aktifis yang terbilang moncer dan populer di kalangan-kalangan yang lain selingkup ansor. Sehingga menjadikan karirnya di organisasi ini cukup cepat menjadikan Kiai Hasyim ini seorang pemimpin. Tentu suka duka, tantangan dan hambatan mengiringi langkahnya dalam memimpin ansor, tetapi hal itu di sikapi oleh Kyai Hasyim sebagai bumbu-bumbu dalam beroganisasi. Pada kepemmpinannya dalam ansor banyak terobosan yang di lakukan, sehingga ansor mengalami kemajuan yang pesat tidak hanya di area malang saja, tetapi juga di luar malang.
Di samping menjadi aktifis di ansor, kiai hasyim juga sering menerima undangan untuk ceramah agama, menjadi mubaligh yang berceramah dari panggung ke panggung yang lain, dari desa ke desa yang lain. Karena background organisasi inilah, jiwa mental dan pemikirannya melampaui teman seusianya. Berfikir kritis terhadap isu-isu yang beredar pun salah satu menjadi topik berceramahnya. Kepiawaian dalam beretorika menjadi menarik saat diatas panggung. Mengkritik kebijakan pemerintah hingga situasi politik nasional saat orde baru adalah bagian dari isi ceramah. Tentu tak lepas dari pembahasan terkait agama.
Kapok menjadi DPR
Pasca menikah dengan seorang gadis bernama Mutammimah pada 8 april 1971
mereka kemudian dikaruniai 6 anak. Sejak itulah kehidupan seorang Hasyim
Muzadi mulai disibukan dengan pembagian waktu antara untuk keluarga
dengan ummat dan organisasi. Sebagai seorang aktifis dan juga juru
dakwah, aktifitasnya mulai padat. Sebagian waktunya di gunakan untuk
"ngopeni" umat berkeliling dari kampung ke kampung, hingga luar negeri
pada kelaknya.
Ketika kiai hasyim menjadi anggota dewan, kehidupan keluarga selalu tertimpa ujian yang berat. Salah satu anaknya pernah bercerita bahwa ketika masih menjabat menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim ujian datang menghampiri keluarganya. Anak keduanya yang bernama Yuni Arafah mengalami kecelakaan dan kepalanya mengalami gegar otak, dokter memvonis bahwa anak ini tidak akan bisa sembuh. Yuni Arafah terjatuh dari motor ketika di bonceng oleh pamannya, sayangnya Yuni tidak memakai helm jadi ketika kecelakaan kepala bagian belakang mengalami pendarahan yang serius. Pilihannya hanya ada dua, antara gila ataupun mati. Atas izin Allah dan pertolongannya, akhirnya bisa sembuh.
Ujian berat kembali melanda, dalam waktu yang hampir berbarengan, anak ketiganya kiai Hasyim juga mengalami sakit yang parah, bahkan hingga hampir merenggut nyawanya kalau dalam penanganan terlambat. Hilman,anak ketiga kiai hasyim ini mengalami sakit difteri. Dan atas izin Allah juga akhirnya hilman tertangani tepat waktu dan akhirnya bisa sembuh.
Pun juga anak yang pertama bernama hakim, mengalami kecelakaan yang membuatnya tangan kirinya cacat seumur hidup. Hakim terjatuh saat berjalan dan tangan kirinya masuk ke gamping yang mendidih. Dari inilah ujian yang bertubi- tubi kemudian kiai hasyim menemui Kyai Anwar Pondok Annur Bululawang dengan maksud memintai pendapat terkait kehidupannya saat menjadi anggota dewan yang selalu tertimpa ujian yang teramat berat. Oleh kiai kharismatik tersebut kiai hasyim diminta untuk memberikan berapapun jumlah uang yang dimiliki dari hasil menjadi anggota DPRD kepada seorang pengemis yang datang kepadanya di rumah. Dari situlah kiai hasyim berpesan kepada putra-putrinya agar kelak jangan menjadi anggota dewan. Sebab belajar dari banyaknya ujian-ujian dari Allah yang diberikan kepada keluarganya.
Anak orang biasa Memimpin NU
Saya ini orang biasa dan anaknya orang biasa. Ayah saya bukan kiai, saya ini jadi Kiai karena orang - orang terlanjur demikian. Saya merasa belum pantas jadi kiai. Itulah penggalan kalimat dari Kiai Hasyim Muzadi dalam buku biografinya. Yang menganggap panggilan Kiainya adalah salah satu keterlanjuran dari orang atas dirinya.
Nahdhatul Ulama sejak dilahirkan pada tahun 1926 tak habis-habisnya melahirkan tokoh - tokoh dan pemimpir besar. Tak hanya sekaliber nasional tetapi hingga kancah internasional. Hal ini terbukti juga bahwa dalam setiap momen apapun, nilai - nilai kebangsaan, toleransi, keberagaman selalu di gaungkan untuk kesatuan dan persatuan Indonesia. Salah satu tokoh yang muncul ini adalah KH.Hasyim Muzadi. Ia adalah Ketua umum PBNU hasil muktamar NU ke 30 di Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2000, yang kala itu masih menjadi ketua PWNU Jawa Timur di periode keduanya. Ia menggantikan KH. Abdurahman Wahid yang memimpin NU selama tiga periode dimulai dari 1984 hingga 1999. Muktamar inilah menjadi momentum dimana menjadi ajang high level Kiai Hasyim di kancah nasional. Saat itu kiai hasyim adalah sosok ketua nu yang masih mengemban amanah di wilayah. Namun klia memiliki kompetensi dan kelebihan yang tak dimiliki tokoh - tokoh NU lainnya. Yakni rekam jejaknya di organisasi bisa dibilang komplit dimana tingkatan kaderisasi yang di lalui, dimulai dari bawah. Ini yang penting untuk di ikuti oleh generasi sekarang.
Pada muktamar NU ke 32 di Makassar, tahun 2010 kiai hasyim resmi meninggalkan jabatan sabagai ketum PBNU sesuai aturan yang ada pada AD/ART Organisasi. Setelah paripurna di kepengurusan PBNU kiai hasyim memprakarsai International Conferense For Islamic Scholars (ICIS), melalui ICIS NU yang di wakili oleh Kiai Hasyim mengampanyekan konsep islam rahmatan lil 'alamin. Melalui ICIS ia mentransfer pemikiran NU ke Mancanegara. Tak hanya itu Kiai Hasyim emmbawa NU sebagai organisasi yang lebih populer dikancah internasional. Melalui ICIS pula ia menggerakan ulama lintas madzhab dari berbagai negara. Organisasi ICIS ini atas prakarsa Kiai Hasyim Muzadi di dirikan pada tahun 24 Februari 2004 yang kemudian ditandatangi oleh presiden Republik Indonesia, yakni Megawati Soekarno Putri.
Jejak langkah dan teladan dari seorang anak kampung yang
bisa go internasional ini lah yang seyogyanya menjadi inspirasi bagi
generasi muda sekarang. Konsep berproses tanpa henti adalah tauladan
dari seorang pendiri pesantren Al Hikam. Kiai Hasyim Muzadi. Jangan
minder bukan bagian dari golongan keturunan garis kiai, darah biru.
Tetapi bagaimana cara berproses tanpa henti sesuai jenjang yang ada.
Kiai Hasyim mengajarkan itu, dimana ketekunan dalam berproses akan
menghasilkan hasil yang baik pula. Pengalaman dapat dicari dengan ikut
dalam proses kaderisasi. Kiai Hasyim Muzadi representasi dari
tokoh-tokoh NU yang hebat dan tob. Pemikiran - pemikiranya menerobos
sekat-sekat kejumudan kultural dan relevan dari zaman - zaman ke zaman.
Khususon kepada KH.Hazim Muzadi Al Fatehah.
Ari Setiawan ( Alumni Pesantren Tebuireng Jombang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar