Millenial Effect
Anak-anak era 2000an adalah sebutan trend anak milenial. Sebab identitas milenium sendiri adalah nama tahun yang dalam kalender hitungan pada tiap seribu tahun. Kalau di negara malaysia, disebut tahun alaf. Tahun alaf ini adalah asal kata dari bahasa arab "Alfun" yang memiliki arti seribu. Sehingga dalam lirik lagu "tahun 2000" yang di populerkan oleh groub qosidah legendaris, Nasida Ria, tahun 2000 adalah tahun harapan dan tantangan. Tahun serba mesin, berjalan hingga tidurpun di layani mesin. Itulah penggalan lirik lagu qosidah asal semarang ini.
Milenial selalu diidentikan dengan gaya hidup soal
penampilan (fashion), modernitas, dan kebebasan bereksepresi. Padahal
milenial ini adalah berkaitan dengan millenium (hitungan bilangan seribu
tahun pada kalender) dan berkaitan dengan generasi yang lahir era
1980/2000an. Tetapi, kata milenial itu sendiri adalah kata adjectiv atau
kata sifat. Sifat yang melekat pada orang tertentu. Orang - orang
milenial ini, dalam segi budaya ,norma sudah mulai tergerus. Termasuk
dalam berbahasa, berdialog dengan sesama.
Identitas Diri adalah Komunikasi
Komunikasi adalah pengiriman atau penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain, baik melalui verbal maupun non verbal. Keduanya di sampaikan dan saling menangkap satu sama lain. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mau menerima dan memberikan isyarat kembali kepadanya atau dalam hal lain (feedback). Sehingga terjadi kesinambungan diantara keduanya. Setiap manusia memiliki jenis pendekatan komunikasi yang berbeda, sesuai karakter dan wataknya. Ada yang mudah bergaul dan pandai berkomunikasi dan ada juga yang perlu proses dalam menjalin komunikasi antara satu dengan lain. Mungkin karena penyesuaian ini yang membutuhkan proses yang tidak sebentar.
Setiap orang tua memiliki jenis komunikasi tertentu kepada anak dan keluarganya saat dirumah maupun diluar rumah atau bahkan dimana saja. Termasuk bahasa verbal yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Karakter bisa dibawa dari seberapa antusiasme dalam berkomunikasi, misal dalam penanaman karakter bahasa ibu kepada anaknya. Sebut saja, suku Jawa dalam kesehariannya menggunakan bahasa jawa.
Dalam tradisi masyarakat jawa, ada beberapa kriteria dalam
berbahasa diantaranya adalah berbahasa secara "Ngoko lugu". Basa Ngoko
lugu merupakan tingkatan pertama dan paling dasar dalam bahasa Jawa.
Bahasa ini hanya diterapkan untuk komunikasi dengan orang yang lebih
muda atau orang yang kedudukannya sejajar dengan kita. Misalnya,
komunikasi antara orangtua dengan anaknya, majikan dengan pembantunya,
atau sesama teman yang sudah dekat dan saling akrab. Ini bahasa yang
sering digunakan mayoritas orang jawa dalam kesehariannya. Bahasa "orang
ngopi" yang tanpa sekat dan santai dalam komunikasinya.
Kemudian dalam tradisi berbahasa dalam tingkatan menurut kultur Jawa adalah, 'ngoko alus'. Setingkat lebih tinggi daripada ngoko lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi dengan orang yang sudah akrab tapi masih menjunjung tinggi kesopanan dan rasa saling menghormati. Misalnya, komunikasi antara sesama rekan kerja di kantor. Atau komunikasi yang dilakukan orang kepada orang lain dalam perbedaan umur yang tidak terlalu jauh, hal ini juga bisa digunakan dalam berkomunikasi.
Kemudian dalam tingkatan diatasnya ialah Tingkatan yang lebih tinggi dari ngoko, bahasa krama. Bahasa krama dibagi lagi menjadi dua, yakni krama lugu dan krama inggil. Krama lugu inilah yang merupakan tingkatan paling dasar dari bahasa Krama. Krama lugu digunakan untuk komunikasi dengan orang yang secara usia lebih tua, atau lebih tinggi kedudukannya, serta sesama teman yang belum dekat dan akrab.
Sedangkan untuk tingkatan diatas adalah tingkatan bahasa
"Krama inggil" merupakan tingkatan tertinggi dalam berbahasa Jawa. Tak
jauh berbeda dari Krama lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi
dengan orang yang lebih tinggi, baik secara usia maupun kedudukannya.
Selain itu, bahasa ini juga digunakan untuk komunikasi antara orang yang
tidak saling kenal. Perbedaan antara krama inggil dengan krama lugu
adalah terletak dalam kosakatanya saja. Dimana ada kesamaan secara
intonasi, ada beberapa yang berbeda dari segi diksi.
Bahasa Pribumi dan Kepribadian
Para orang tua era 2000an ke belakang ini yang menganggap sebagai generasi orang tua milenial, mulai tergerus dengan budaya yang seakan dikatakan kekinian dan tuntutan zaman, padahal pada dasarnya justru menggerus identitas dan karakter luhur nenek moyang, yakni berbahasa dan berkomunikasi dengan bahasa ibu. Bahasa daerah yang menjadi akar budaya dan kultur masyarakat asli pribumi. Komunikasi dengan anak terbiasa dengan berbahasa Indonesia dapat menghilangkan kultur budaya. Bahkan misal berbahasa jawa kasar. Ini sebetulnya menjadi tolak ukur dan pendidikan karakter bagi anak. Sebab, sejatinya bahasa pribumi dapat juga membentuk pribadi yang luhur. Sifat pada manusia tergantung pada sifat genetis dan lingkungannya. Salah satunya ketika berkomunikasi secara verbal, hal ini menjadi aktualisasi bagi orang tua kepada anak yang kemudian akan ditiru apa yang di lakukan dan apa yang diucapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar