Selasa, 15 Februari 2022

Mendalami Karakter Luhur Hadratussyaikh Kh. Hasyim Asy'ari #2




Asrama santri dahulu modelnya seperti apa kyai? Apakah dalam satu daerah jadi satu atau bagaimana?

Kegiatanya hanya di NU, kalau tidak ada urusan di NU beliau enggak pernah keluar, kalau tidak ada kepentingan yang sangat ya tidak pergi dan kalau ada urusan penting biasanya yang di utus pak wahid

Sewaktu ngaji hadist dari bulan rajab, sya’ban, dan ramadhan ini kan di ahdiri kiai – kiai se Indonesia, bahasa apa yang di gunakan Mbah hasyim untuk menyampaikan pengajiannya?

Mbah Hasyim ketika menyampaikan pengajiannya selalu menggunakan bahasa jawa, enggak pernah menggunakan bahasa arab. Santri yang dari luar jawa mestinya ada yang paham dan ada yang tidak, tetapi lama kelamaan pasti akan paham dengan sendirinya. Dari santri yang sekitar 1500 ini yang 1000 biasanya liburan, karena pada saat ngaji hadist ini pondok sudah liburan. Jadi yang mengikuti pengajian hadist Mbah Hasym rata – rata sudah pada sepuh-sepuh kiai dari luar. Saya ya di kersane Gusti Allah kok seneng ikut nimbrung ngaji bareng kiyai – kiyai, saya kalau pulang biasanya ya setelah tanggal 25 Ramadhan bareng dengan Kiai – kiai yang ngaji sama Mbah Hasyim. Tanggal 15 sya’ban itu ujian hari terakhir kemudian madrasahnya libur sampai dengan syawal tanggal 15. Dan itu rata – rata santri – santri pada pulang. Ya seperti biasa, ketika waktunya masuk banyak juga yang molor masuknya sampai bulan dzulqo’dah padahal seharusnya masuk pada pertengahan syawal. Saya tidak tau kenapa kok pada molor.

Santri – santri dulu apakah pernah buat masalah dengan masyarakat sekitar?

Santri – santri dulu malah tidak ada yang kenal dengan masyarakat sekitar pondok, santri kalau makan di dalam pondok, karena di pondok juga ada warungnya. Ada yang menggunakan sistim langganan , ada juga yang memasak sendiri. Justru dulu masyarakat diluar pondok itu malah jadi musuhnya santri – santri. Denger- denger berita memang masyarakat luar pondok itu memang di manfaatkan oleh Belanda agar pondok dan masyarakat sekitar selalu “kerengan” berseteru. Pernah suatu saat itu ada maling masuk kedalam pondok, oleh santri – santri di hajar massa sampai – sampai maling tersebut meninggal. Nah.. kemudian di manfaatkan oleh belanda agar supaya bagaimana Mbah Hasyim ini bisa terjerat hukum, tapi kemudian tidak bisa menjerat mbah hasyim.  Ada juga dari luar, berjualan tongseng yang dipikul masuk kedalam pondok dan jualanya itu laris, walaupun senajan dagangannya laris, tapi saya enggak pernah beli, asalnya itu ya uang saku saya ya enggak begitu banyak, jadi kalau buat di belikan tongseng terus ya habis. Lah terus setelah itu terdengar kabar enggak tau dari mana asalnya tongsengnya itu ternyata daging yang di gunakan itu daging babikemudian di cek sama pengurus pondok kebenaranya itu, dan ternyata benar adanya kemudian oleh pengurus pedagang tersebut di larang untuk berjualan lagi di dalam pondok. Yang marah bukan malah pedagang tongseng malah orang – orang desa lah itulah salah satu cara belanda mengadu domba orang-orang desa dengan pesantren. Karena merasa kesulitan untuk menangkap Mbah Hasyim maka belanda melakukan cara adu domba seperti itu. Akhirnya ya jadi pertarungan beneran itu. Karena Mbah Hasyim punya Kiai Idris dan santri dari Cirebon akhirnya belanda kalang kabut. Saya mengatakan demikian karena saya juga ikut dalam pertempuran itu. Ya ikut megang pedang kayak gitu, tapi saya memilih di belakang, ya hanya sambil nonton. Karena tidak sampai kebelakang sana sudah bubar duluan.

Mbah Hasyim sama masyarakat sekita apa ya berseteru seperti itu?

Itu kan hanya sebagian kecil saja masyarakat yang tidak suka. Dan yang nakal itu hanya sebagian kecil masak ya semua masyarakat nakal semua yak an enggak. Yang jadi maling ya langka di desa sana itu. Cuma masyarakat yang mau di suruh untuk meprovokasi yang mau mengadu domba dan di beri upah itu kan ya langka. Satu desa itu ya juga di tirakati Puasa sama Mbah Hasyim, dan rombongan yang mau berseteru sebenarnya itu ya orang – orang yang nekat. Yang di puasain sama Mbah hasyim itu ya enggak bisa ngapa-ngapain. Yang enggak suka sama santri ya rombonganna orang – orang nekat itu. Kalau orang – orang yang mukmin ya enggak megikuti hal – hal seperti itu.

Bagaimana Sikap Mbah Hasyim Terhadap non Muslim ?

Sikap Mbah Hasyim ya biasa – biasa saja, enggak pernah yang bermusuhan ataupun melayani musuh itu tidak pernah, ketika di jaraki, di kasari ya biarin saja, nanti juga capek – capek sendiri, bilang gitu, mbah hasyim itu tidak pernah marah. Dan itu saja ketika melayani orang – orang kampung yang menjaraki itu kehendaknya Kiai Idris. Mbah hasyim tidak tahu. La orang kampung yang di bekingi belanda itu nantang terus dan menginginkan Mbah Hasyim yang enggak terima ya mantunya itu Kiai Idris. Udah, gak usah pamit – pamit, layani aja orang – orang itu, kiai idris bilang begitu. Sebab kalau pamit ke Mbah Hasyim mesti tidak bakal di izinkan

Cita – cita apa yang di perjuangkan oleh Mbah Hasyim?

Yang terutama itu NU, di ikat persatuanya itu melalui NU. Tujuannya itu untuk mengurus faham Ahlussunah Wal Jama’ah terutama di Amar ma’ruf Nahi munkar. Makanya itu beliau mengarang dan menyusun Qanun Asasi Jam’iyyah Nahdhatul Ulama’, hadistnya kurang lebih 40 dan al-qurannya sekiatr 40. Dengan demikian berarti kan yang diperjuangkan dahulu adalah NU pada tahun 1926 lah baru kemudian melalui NU ini Mbah Hasyim mengajak para kiai – kiai untuk merebut dan memperjuangkan kemerdekaan. Sebab Islam tidak bakal akan jaya, liyudhhirohu ‘ala dini kullihi “ketika bangsa tidak merdeka. Dan kiai – kiai se Indonesia itu di ajak untuk memohon kepada Allah untuk diberikan  kemerdekaan. Meminta kepada Allah dengan melalui Istighosah. Karena kita hanya mampu untuk meminta kepada Allah, yang khusu’ dan yang kuat anggonmu do’a minta kepada Allah Hasbunallah wa ni’mal waqil, ni’mal maula wa nikman nashir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, begitu kata mbah hasyim. Tapi yang selalu menggebu – gebu itu yang muda – muda.

Kalau nyantri dulu itu di batasi umur apa tidak kiai?

Enggak di batasi umur, dan juga enggak terlalu banyak aturan. Ada yang pulang sampai setahun ya di biarkan. Ada yang masuk ya di terima, ada yang mau pulang ya di silahkan jadi bebas. Dulu saya masuk di Tebuireng tahun 1938 itu umur saya sekitar 17 tahun. Jadi satu kelas umurnya macam- macam, bahkan ada yang sudah kakek-kakek soalnya di Tebuireng dulu ngaji ya tidak memperhatikan umur. Ada orang Bawean namanya Anis saking kepinginya ngaji kepingin sekolah di Tebuireng, took yang menjadi usahanya di rumahnya di bawa ke sebelah pondok beserta keluarga dan anak – anaknya umurnya orang ini sekitar 50 tahunan masuknya di kelas 1 ibtidaiyyah, ya mulai dari kelas bawah. Ada yang lebih muda lagi di bawah saya, Pak ud, Gus Yusuf Hasyim itu lebih muda dari pada saya dan juga satu kelas sama saya. Jadi tidak menggunakan batasan umur.

Mbah Hasyim itu kan tipe pemimpin yang di segani, Rahasianya apa ya kiai?

Ya itu, Beliau tidak gampang marah, Beliau kalau di marahin seseorang tapi beliau sendiri tidak marah, kan malah buat bingung yang marah. Kalau menurut saya, beliau memang benar – benar memahami Ahlussunah Wal jam’ah jadi kalau disuruh sendiri, pasti tidak akan mau inginnya harus selalu bersama- sama.

Bagaimana sikap Mbah hasyim menanggapi tentang Pemimpin non muslim?

Itu kan sudah jelas di Al – Qur’an Wala Tasyubbulladzina yad’una min dunillah, jangan terlalu kasar terhadap orang – orang yang tidak menyembah kepada Allah, nanti sana memaki – maki ke Allah, malah  nanti Tuhannya kita di maki – maki. Ya udah Santai saja gak usah keras – keras, di musuhi ya enggak kaget, tenang, ikhtiyarnya ya Al-Qur’an lah, tawakalnya tinggi sekali. Kalau sudah demikian ya Hasbunallah wa nikmal wakil, mau diapakan saja ya silahkan yang penting saya masih tetap menghidupkan agamanya Allah, gitu prinsipnya Mbah Hasyim. Jadi beliau sangat besarnya kepasrahan kepada Allah.

Mungkin ada pesan untuk santri – santri Mbah Hasyim era sekarang khususnya di Tebuireng umumnya seluruh santri calon penerus ulama?

 Pesan saya, seperti apa yang telah di pesankan oleh Mbah Hasyim yang  telah tertulis di Ijazah saya waktu nyantri di sana, dan pesan untuk seluruh santri beliau Nushihi bitaqwallah wa Irsyadil ‘Ibad Ma Fihi Sa’adatuhum Fi Dunya Wal Akhiroh, sampean semua saya ingatkan, Takutlah kepada Allah dan Bertawakallah seterusnya Tugasmu yakni memberikan petunjuk, mengajari setiap orang, sehingga bisa menjadi orang yang beruntung dunia dan Akhirat.

Biasanya yang mendapat pesan seperti ini hanya yang telah menyelesaikan pendidikan sekolahnya, kalau yang hanya satu tahun, dua tahun ya enggak. Paling pesennya “ojo kuat-kuat sing Njajan, kasian Orang Tuamu”.  Yang membuat Mbah Hasyim tau santri – santri pada seneng Njajan yakni keluhan dari santri yang sering membuang sampahnya itu, matur ke Mbah Hasyim, “ini kulitnya durian banyak sekali mbah” beberapa pikul, terus kemudian santri di kumpulkan.

Di transkip dan wawancara oleh Ari Setiawan 27 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar