Selasa, 15 Juni 2021

Mendalami Karakter Luhur Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari #1

 

Foto asli Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari di salah satu sudut Pondok Pesantren Tebuireng


Transkip Wawancara  Dengan KH. Abdurahman Bajuri Bruno Purworejo tentang Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari

 

Bagaimana wajah kiai hasyim ketika jenengan dulu nyantri kepada Kiai hasyim ?

Foto ini yang cocok (sambil menuding foto gambar mbah hasyim di kitab Irsyadus syari yang bersurban putih) setahu saya yang ini, in saja terlihat terlalu muda, soalnya saya ketika nyantri beliau sudah sepuh sampai beliau wafat. Tahunn 1946 beliau wafat dan merdeka tahun 1945

Ketika jenengan masuk nyantri di Tebuireng pada tahun berapa kiai?

Saya nyantri di tebuireng dulu tahnun 1938 dan dulu saya masuk di Ibtidaiyyah 7 tahun, dulu tidak ada tsanawiyah, ataupun aliyah. Dan ibtidaiyah itu sudah paling tinggi jenjang pendidikannya. Dan Alhamdulillah saya selesainya 8 tahun dan mendapatkan Syahadah (ijazah)nya  itu ibtidaiyyah. Materi pelajaranya pun sudah agak komplit  Ngaji ilmu alatnya saja sudah sampai kitab jauharul maknun, uqudul juman seperti itu dan juga termasuk di bacakan kitab Jam’ul Jawami’, saya juga tidak tahu itu kehendaknya kiai hasyim. Saya hanya “nderek” saja.

Keseharian Mbah Hasyim itu memakai busana yang seperti apa kyai? Apakah memakai Jubah atau menggunakan sarung seperti pada umumnya?

Kiai Hasyim kesehariannya selalu memakai Jubah, dalamnya memakai baju kurung dan luarnya memakai Jubah jadi seperti ‘Arabiyah dan memakai sorban di kepala beliau ini lepes tidak terlalu tebal. Beliau juga berjenggot tapi tidak terlalu tebal cuma “kramit –kramit” dan tipis, itu ketika zaman saya nyantri sama beliau kondisinya seperti itu, soalnya ketika nyantri beliaunya sudah sepuh tapi ya beliau masih sehat dan “akas”. Beliau saja ngaji selama 3 bulan bukhari muslim  ketika  bulan rajab, sya’ban sampai ramadhan, siang sampai malam tidak pernah di wakilkan, itu ngaji langganannya. Saya hanya ngajinya ikut-ikutan karena yang ngaji kebeliau ini kyai-kyai se Indonesia, seperti bima, Kalimantan, bawean sumatera. Dan kiai – kiai yang ngaji ke beliau ini juga diajak prihatinan / riyadhohan meminta kepada Allah supaya Indonesia itu merdeka. Makanya saya itu agak heran, orang islam ini kok soalah – olah gak punya merdeka, seolah – olah merdekanya hanya milik pemerintah, itu yang saya rasakan di desa saya ini.  Saya ketika pada tahun 1938 masuk nyantri di tebuireng itu, saya masih enggak tau apa-apa, yah namanya anak dari desa jadi cuma bisa memperhatikan saja. Dan perlu dingat disana di tebuireng bendera merah putih besar  yang lebar da panjangnya satu meter lebih dan itu sudah punya dan sudah di kibarkan dan sudah berkibar disana, yang pada saat itu yang menjajah Belanda dan lagu Indonesia raya pun sudah di kumandangkan. Cuma pada saat itu Belanda tidak mengizinkan bendera merah putih berkibar di tengah lapangan dan benderanya tetap di kibarkan tetapi di dalam sekolahan, walaupun demikian tetapi semangat kemerdekaanya tetap menggebu-gebu. Sampai – sampai yang memegang dan mengibarkan bendera itu naik di atas meja, lah kemudian sambil melagukan Indonesia raya. Ketika ada yang mimpin Lagu Indonesia raya suaraanya lemes klemar –klemer, Ndalem Pak Wahid Hasyim kan dekat dengan sekolahan, kemudian Pak Wahid Hasyim masuk ke kelas dan menggedor gedor papan mengingatkan kalau melagukan Lagu Indonesia jangan lemes tetapi semangat.

Istiqomah apakah yang selalu dilakukan oleh Kiai Hasyim?

Yang di maksud istiqomah itu apa? Perbuatan yang dilakukan secara terus menerus. Ya perbuatan beliau memang selalu istiqomah, apapun itu. Dan beliau setahu saya tidak pernah mengajari amalan tertentu di ahli thariqah atau wiridan –wiridan enggak pernah. Karena beliaunya ini kan ahli hadist, jadi ya selalu dibacakan hadist. Kalau kepingin dijauhkan dari Faqir maka memperbanyak membaca Lahaulawala quwwata illa billahil ‘aliyil A’dhim. Dan mbah Hasyim niku termasuk memiliki pandangan – pandanagan yang selektif.  Jadi setiap sesuatu yang tidak sesuai dengan aqidah, tidak cocok dengan syariah di berantas, sudah tidak takut terhadap apapun, walaupun di benci di marahi di caci dan lain sebagainya beliau tetap teguh terhadap pendirian beliau tidak takut terhadap apapun. Tetapi dengan tingkah yang halus, dan selalu menunjukan bahwa yang bener seperti ini, ada dalilinya Alqur’annya ayatnya ini hadistnya ini, selalu dengan cara halus. Dan tidak memarah – marahi menggunakan emosi dan tidak pernah menyalah-nyalahakan orang. Beliau sangat sabar. Belia dimarahi, di cacat di caci maki beliau hanya tersenyum. Pernah itu ada yang menyalah-nyalahkan, memaki – maki yakni Rombongan kiai yasin pasuruan yang menggunakan Nadhoman sebanyak seratus bait yang disusun oleh kiai yasin dan kawan – kawannya, nah… kemudian karagan nadhoman tersebut dikirimkan kepada mbah hasyim berbentuk risalah yang isinya mengolok-ngolok NU terutama mnegolok – ngolok Mbah Hasyim yang di olok – olok yakni keputusan kongres di Surabaya yang didalamnya memutuskan sebanyak seratus masalah. Semuanya disalahkan, dimaki – maki bahwa NU tidak jelas seperti itu yang diinginkanya. Kemudian Mbah Hasyim menjawab semua tuduhannya itu juga dengan Nadhoman menggunakan bahar rojaz sebanyak 100 bait. Kemudian nadhoman tersebut dibaca di hadapannya santri di pesantren kemudian i8dicetak. Isinya di jabarkan mbah hasyim secara detail. Setelah mengetahui penjabaran dari mbah hasyim ini kemudian Kiai hasyim dan kawan – kawannya sowan kepada Mbah Hasyim dan meminta maaf. Ini yang saya katakan tadi beliau itu  tidak “jengkelan” tidak  gampang marah. Walaupun beliaunya di olok – olok, NU-nya di Olok-olok, beliau tidak pernah jengkel. Beliau membaca Risalahnya Kiai Yasin itupun sambil tersenyum –senyum, la kemudian dalam karangan Mbah Hasyim pun beliau mengajak mendo’akan kyai yasin “ Ayo kita doa’akan Kiai yasin dan kawan - kawanya, supaya mendapat ampunan dari Allah,” lah kalau kayak gitu apa enggak sangat sabarnya beliau.

Kegiatan keseharian mbah Hasyim apa saja kyai? Baik dari pagi sampai malam?

Saat itu ketik zaman saya nyantri, gurunya itu sudah sepuh – sepuh. Kepala sekolahnya itu Pak Kyai Maksum Ali (pengarang Kitab Amsilatut Tasyhrifiyah) saya masih menjumpai beliau. Beliau juga mengarang kitab falak. Yang selanjutnya yakni kiai Baydhowi ndaleme sebelah timur pondok, kemudian kiai Idris kamali dai Cirebon. Ada juga dari demak namanya Pak Da’in. kalau dulu guru yang ngajar itu sudah sepuh – sepuh sudah pada berkeluarga semua, kalau sekarang kan beda banyak yang belum pada berkeluarga. Dulu keluarannya bagus-bagus.  Beliau – beliau ini yang ngajar di sekolahnya. Kalau Mbah Hasyim tidak mengajar di sekolah, beliau tidak tahu – menahu di madrasahnya. Hanya menandatangani saja. Yang mengatur dan mengelola itu para menantu – menantu beliau. Ada sebagian yang membantu santri – santi yang sudah mumpuni dari berbagai daerah, ada yang dari blitar dan malang. Kalau kegiatannya Mbah Hasyim sendiri yakni diantaranya menentramkan santri, setiap semingu sekali atau sebulan sekali seluruh santri berkumpul kemudian di nasehati sama mbah Hasyim, Kemudian kalau mau ada kejadian apa atau ada kepentingan, baru juga di kumpulkan sama Mbah Hasyim,  ini salah satu ngajinya santri kepada Mbah Hasyim. Apabila di dilihat kok santri keliatah kalau nakal-nakal kalau ada laporan kenakalan santri, lalu dikumpulkan dinasehati “sampean, ning kene ki dikon ngaji, yo disangoni, mestine ki sesuk bali di takone jajane cah” ( Kamu, di sisni itu disuruh unutk mengaji, ya juga di bekali, mestinya nanti kalau kamu sudah pulang akan ditanyakan hasil kamu ngaji) seperti itu, nasehatinya sambil ketawa. Beliau kalau menasehati santri – santri enggak pernah marah – marah. La kemudian kegiatan kesehariannya beliau mengajar ngaji santri biasanya hanya ba’da ashar saja, yang dibaca Kitab Tafsir Jalalain, Al-Hikam dan Taqrib khatam diulangi lagi, khatam diulangi lagi. Ketika keluar ke dusun, kalau dulu dinamakan Lailatul Ijtima’ setiap tanggal pertengahan bulan, itu keluarnya malam untuk mengajar pengajian kepada masyarakat umum. Kalau waktu pagi untuk tamu umum. Kalau untuk walisantri waktunya Ba’da Magrib sampai Isya’, baik yang mau nyantri maupun yang mau pamit boyong, jadi kalau walisantri ingin sowan ke beliau pagi ya tidak bisa ketemu sama beliau.

Kegiatan Mbah Hasyim selain mengajar ngaji, apakah para santri juga di ajari cara bercocok tanam?

Mboten, setahu saya enggak pernah. Cuma disuruh makan pada waktunya. Seperti disuruh memetik Kaspe atau Ketela untuk di makan semampunya. Beliau cuma selalu mengingatkan kepada santri “ koen iku agomo ojo kanggo luru duit, yen luru.o duit kanggo agomo” pesan itu yang masih saja teringat dalam ingatan saya pesannya pun di sampaikan dengan cara yang halus dan penuh dengan senyum. Inilah yang Bedanya Mbah Hasyim dengan Kiai yang lain. Kalau ada orang yang mengaku dirinya wali itu yang membuat Mbah Hasyim “marah” itupun mengingatkanya sambil bercanda “kok ya sok ngerti, yang namnya wali yang tahu ya hanya wali itu sendiri, aku ya enggak ngerti, Cuma ngikut – ngikut aja kok’, Cuma ikut – ikut temennya bilang itu wali, itu wali. Kalau seumpama enggak tahu ya udah bilang enggak tau aja”. Bnayak orang yang ingin menyanjung – nyanjung dengan sebutan “Roisul Akbar”, ndak usahlah di sanjung – sanjung. Di sanjung – sanjung sama manusia tetapi di murkai Allah, ya malah susah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar