Senin, 29 Maret 2021

Senyum Mbah Hasyim Asy'ari Kepada Para Pencaci Maki

KH. Abdurahman Bajuri Bruno Purworejo saat di wawancara 


Berbicara tentang keteladan seorang Rais Akbar Nahdhatul Ulama' tak akan pernah ada habisnya. Setiap tindak tanduknya, kesehariannya, sikap, hingga tutur kata selalu mengandung hikmah nan budi luhur. Semua bersumber dari ajaran Rasulullah SAW dalam hadis Nubuwahnya. Sudah diketahui khalayak ramai, bahwa Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy'ari adalah sosok Ulama' ahli hadits yang diakui dunia tentang ke'alimannya,  sehingga pada bulan bulan ramadhan, para santri, kiai dsri seluruh plosok negeri berbondong-bondong ke Tebuireng, guna mengaji hadist kepada Hadratusyaikh. Bahkan, diceritakan gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan sempat mengaji hadist yang di ampu oleh pendiri Pondok Pesantren Tebuireng ini.

Terkait dengan keteladan nan luhur sosok Hadratusyaikh ini,  suatu ketika di tuturkan oleh santri Mbah Hasyim, KH. Abdurahman Bajuri Purworejo beliau adalah santri juru laden Hadratusyaikh saat nyantri di Tebuireng. Beliau menceritakan bagaimana sikap Mbah Hasyim yang super sabar. Mbah Hasyim memiliki pandangan yang selektif. Ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan Akidah, syariat, beliau "memberantas" tanpa mencaci maki, tanpa menyalahkan dan tanpa mengungkit-ngungkit dengan cara yang tidak Ilmiyah dan bijak. Melainkan dengan cara - cara yang lemah lembut menunjukan sisi pandangan agama, baik berupa pandangan dari Al-Qur'an dan Al-Hadist dengan cara yang meneduhkan.

Pernah suatu ketika ada seorang Kiai bernama Kiai Yasin asal pasuruan beserta murid-muridnya mengkritik, menghina dan menyalahkan sikap dan pandangan Mbah Hasyim dan NU dengan menggunakan Bait-bait Nadhom sebanyak 100 bait. Kiai Yasin ini menyalahkan keputusan Muktamar NU di Surabaya yang kala itu di pimpin langsung oleh Hadratus Syaikh M. Hasyim Asy'ari selaku (Raisul Akbar NU). Kemudian Bait-bait syair kritikan tersebut di kirimkan Kiai Yasin kepada Mbah Hasyim. Lantas bagaimana sikap Mbah Hasyim menanggapi kritikan ini? Betapa tidak mengejutkan. Mbah Hasyim kemudian membaca di depan para santri sembari "guyon"' dengan senyum yang meneduhkan, dan menyampaikan " nek awak ndewe iki wis rumongso pinter, mbok yo ojo seneng nyalah - nyalahke wong liyo,. ayo podo di dungakne Kiai Yasin sak konco - koncone iki, mugi di sepuro dumateng Pengeran''. Begitu wejangan Mbah Hasyim dengan senyum khas yang meneduhkan.

Kemudian Mbah Hasyim menyusun jawaban-jawaban atas kritikan dan hinaan dengan menggunakan Nadhom juga, dengan menggunakan bahar rojaz sebanyak 100 bait yang isinya menguraikan dengan secara gamblang tentang keputusan - keputusan di NU serta mengapa berdirinya NU. Kemudian dikirimlah kepada Kiai Yasin Nadhom-nadhom tersebut dan atas jawaban Mbah Hasyim yang begitu ilmiyah yanh sesuai dengan landasan Al-Qur'an dan Hadist. Kiai Yasin pun mengakui betapa 'alimnya Mbah Hasyim, betapa "nyegoro" ke ilmuannya, betapa halus sikapnya menjawab tuduhanya. Yang kemudian Kiai Yasin sowan beserta para santrinya dan meminta maaf kepada Hadrastusyaikh atas hal dilakukannya. Itulah teladan dari para kiai, mengedepankan ilmu dalam segala aspek, mendahulukan tabayun bukan membabibuta menjustifikasikan yang berbeda. Dengan sikap seperti inilah harusnya kita dapat meneladani sebagai pegangan hidup agar tidak gampang 'gemrungsung' dengan apa - apa yang berbeda.

Kisah diatas adalah penuturan santri yang pernah menjadi Abdi "Ndalem Mbah Hasyim, yang sempat kami wawancarai di kediamannya di daerah Bruno Purworejo pada 04, Februari 2017.

2 komentar: